by

Badrut Tamam Tampil sebagai Panelis 20th AICIS 2021 bawa Tema Lingkungan

SOLO, AICIS,- Pemikiran para intelektual dan pemerhati lingkungan tentang krisis lingkungan di dunia tidak lepas dari berbagai masalah mulai dari sampah, penebangan dan perambahan hutan, pencemaran limbah hingga pencemaran udara.

Demikian disampaikan Badrut Tamam salah satu dosen UINSI Samarinda yang bertindak sebagai sesalah satu panelis pada perhelatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS), Selasa pagi (26/10/2021). AICIS pada tahun ini diselenggarakan secara virtual di The Sunan Hotel, Surakarta, Jawa Tengah.

Sesi panel ini merupakan rangkaian dari susunan kegiatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang melibatkan para pembicara kunci (keynote speaker) dan pembicara undangan yang terdiri dari para intelektual, pemerhati dan peneliti studi keislaman yang berasal dari luar negeri. AICIS ke 20 ini akan berlangsung mulai tanggal 25 hingga 29 Oktober 2021.

“Diskusi panelis pada forum ini mencari kajian integrative tentang praktik keagamaan dan masalah lingkungan hidup di jaman dimana kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sedang berkembang,”ujar Badrut Tamam.
Dosen UINSI yang tengah menempuh pendidikan doktoralnya di UIN KHAS Jember ini mengatakan isu tentang lingkungan hidup telah menjadi perhatian banyak publik karena bersinggungan dengan penipisan sumber daya alam dan mengancam kelestarian lingkungan hidup tempat manusia bertempat tinggal.

Pada kesempatan diskusi panel, para panelis menegaskan bahwa gerakan menjaga lingkungan hidup muncul dari berbagai kelompok agama. meski berbeda keyakinan dalam praktik keagamaan maupun keyaninan namun sebagian besar dari para volunteer tersebut sepakat dan sepemahaman tentang urgensi menjaga kelestarian lingkungan hidup.

“Apalagi saat ini dunia di berbagai belahan bumi dilanda wabah pandemi penyakit menular dari virus yang dianggap mengancam kesehatan manusia. Persoalan ini menjadi sorotan berbagai lapisan masyarakat dunia karena penyebaran penyakit menular dari adanya virus ini mengancam kesehatan manusia. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa manusia di dunia ini merupakan kekayaan paling berharga bagi pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, panelis berusaha menerapkan pendekatan integratif guna menyikapi berbagai persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan perspektif nilai-nilai normatif sebagaimana terdapat dalam alquran dan hadis, fikih, tinjauan hukum Islam hingga pengimplementasiannya pada kurikulum pendidikan di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren.

“Oleh karena itu kami berharap melalui kajian serta pendekatan ilmiah ini, kontribusi keagamaan dapat diimplementasikan melalui praktiknya dalam membentuk perilaku manusia dalam melestarikan dan menjaga lingkungan,”harapnya.

Diskusi panel dengan tema kajian integrative tentang praktik keagamaan dan masalah lingkungan ini terdiri dari beberapa narasumber panelis yang berasal dari berbagai perguruan tinggi swasta dan negeri di tanah air seperti Ikhwan Amali dari Institut Dirosat Al Islamiah (IDIA) Prenduan, Sumenep, Madura, Andi Mardika dari Institut Agama Islam Negergi (IAIN)

Lhokseumawe, Aceh, Iwan Kuswandi dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumenep. Taufik Hadi dari Institut Agama Islam Negergi (IAIN) Lhokseumawe, Aceh dan Badrut Tamam dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Kalimantan Timur.#