SAMARINDA, UINSI NEWS,- Septian Aristya berhasil mempertahankan hasil penelitiannya pada ujian terbuka promosi doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Jumat (2/1/2026) atau bertepatan dengan 13 Rajab 1447 H.
Dalam ujian terbuka tersebut, Septian mempertahankan disertasi berjudul “Evaluasi Implementasi Kurikulum Madrasah Aliyah Negeri Program Unggulan (Studi Multikasus MAN 2 Samarinda dan MAN Insan Cendekia Paser)”. Penelitian ini menyoroti implementasi kurikulum pada dua Madrasah Aliyah Negeri unggulan di Kalimantan Timur.
Ujian terbuka dipimpin Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd. selaku ketua tim penguji dengan Dr. Agus Setiawan, M.Pd. sebagai sekretaris. Tim penguji terdiri atas Dr. Sugeng, M.Pd. (penguji utama), Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., Prof. Dr. Khojir, M.SI., dan Dr. Nur Kholik Afandi, M.Pd.
Sementara itu, disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag. sebagai promotor dan Prof. Dr. Khojir, M.SI. sebagai ko-promotor.
Dalam pemaparannya, Septian menegaskan bahwa globalisasi membawa tantangan besar bagi dunia pendidikan, terutama dalam menjaga nilai moral dan keagamaan generasi muda. Menurutnya, madrasah berbasis asrama memiliki peran strategis dalam membentuk peserta didik yang religius, berakhlak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Pendidikan Agama Islam di madrasah berbasis asrama berperan penting dalam membentuk karakter, spiritualitas, dan daya saing peserta didik,” ujar Septian di hadapan tim penguji.
Ia menambahkan, kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai dokumen administratif, melainkan menjadi inti dari proses pendidikan. Karena itu, evaluasi kurikulum diperlukan untuk memastikan kesesuaian antara tujuan, proses, sumber daya, dan hasil pendidikan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi multikasus serta menerapkan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, serta analisis komparatif konstan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi teknik dan sumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tujuan dan konteks kurikulum di kedua madrasah telah selaras dengan kebijakan Kementerian Agama RI. Namun, profil lulusan dinilai belum sepenuhnya terimplementasi dalam Kurikulum Operasional Madrasah. Selain itu, masih terdapat kendala pendanaan sarana prasarana serta belum optimalnya seleksi baca tulis Al-Qur’an pada penerimaan peserta didik baru.
Pada aspek proses, kedua madrasah dinilai telah melaksanakan program sesuai ketentuan, disertai inovasi khas masing-masing lembaga. MAN 2 Samarinda mengembangkan matrikulasi bahasa asing dengan mentor dari Pare, Kediri, sementara MAN Insan Cendekia Paser menguatkan program Karantina Tahfiẓ, Amsilati, dan Bi’ah Lugawiyah.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah kendala, seperti padatnya jadwal santri, metode pembelajaran yang belum sepenuhnya interaktif, serta pembagian beban kerja pendidik dan pengasuh yang belum merata.
Pada tahap evaluasi hasil, kedua madrasah menunjukkan keunggulan pada aspek ibadah, hafalan Al-Qur’an, dan pembentukan akhlak. MAN Insan Cendekia Paser memiliki rapor keasramaan dan inovasi Mushaf, sementara MAN 2 Samarinda masih perlu penyempurnaan terkait pemerataan target hafalan Al-Qur’an.
Septian berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan dan pengelola pendidikan Islam.
“Semoga penelitian ini memberi kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing,” katanya.
Ujian terbuka berlangsung khidmat dan dialogis. Tim penguji memberikan catatan kritis serta penguatan konseptual, menegaskan bahwa disertasi ini memiliki relevansi praktis dan teoretis bagi pengembangan kurikulum madrasah unggulan di Indonesia.#








