Isra’ Mi‘raj dan Shalat: Perintah Langit, Hisab Pertama

Oleh:
Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag

Peringatan Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sekadar agenda seremonial tahunan yang hadir dalam kalender keagamaan umat Islam. Ia adalah peristiwa besar yang sarat makna teologis, spiritual, moral, dan sosial. Isra’ Mi‘raj merupakan momentum transendental yang menandai hubungan langsung antara manusia dengan Tuhan, sekaligus menjadi tonggak penetapan ibadah paling fundamental dalam Islam, yaitu shalat. Dalam peristiwa inilah, shalat ditetapkan sebagai perintah Ilahi yang kelak menjadi amal pertama yang dihisab Allah SWT di yaumil qiyamah. Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat, kompetitif, dan sarat distraksi, peringatan Isra’ Mi‘raj seharusnya tidak berhenti pada ritual perayaan. Ia mesti menjadi ruang refleksi kritis: sejauh mana shalat benar-benar menjadi pusat kehidupan kita, dan sejauh mana istiqamah dalam shalat telah mendorong perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan peradaban.

Isra’ Mi‘raj: Peristiwa Transendental di Luar Hukum Biasa
Isra’ Mi‘raj adalah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (Mi‘raj). Peristiwa ini terjadi bukan dalam keadaan normal, tetapi pada fase berat kehidupan Rasulullah ﷺ, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan). Rasulullah kehilangan istri tercinta Khadijah r.a. dan pamannya Abu Thalib, serta menghadapi penolakan keras dari masyarakat Thaif. Dalam kondisi psikologis yang sangat berat inilah, Allah SWT memperjalankan Nabi-Nya. Hal ini mengandung pesan mendalam bahwa shalat lahir dari situasi krisis, bukan dari kenyamanan. Shalat bukan sekadar ibadah rutin, melainkan sumber kekuatan spiritual untuk menghadapi tekanan hidup.

Shalat: Perintah Langsung dari Langit
Keistimewaan shalat dibandingkan ibadah lainnya terletak pada proses pensyariatannya. Jika zakat, puasa, dan haji ditetapkan melalui wahyu di bumi, maka shalat ditetapkan langsung di langit, tanpa perantara. Awalnya diwajibkan lima puluh waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh.
Ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, shalat adalah ibadah yang sangat prinsipil, menjadi tiang agama dan penopang seluruh amal. Kedua, Islam adalah agama yang penuh kasih sayang; Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan, tetapi tetap menghendaki komitmen dan konsistensi. Shalat dalam Islam bukan sekadar kewajiban individual, melainkan media pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kesadaran moral. Ia mengatur waktu, menata orientasi hidup, dan membangun relasi yang seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.

Shalat sebagai Mi‘raj Orang Beriman
Para ulama sering menyebut shalat sebagai mi‘raj al-mu’min—mi‘rajnya orang beriman. Jika Rasulullah ﷺ dimi‘rajkan secara fisik dan ruhani, maka umatnya diberi kesempatan “naik” secara spiritual melalui shalat. Setiap takbir adalah pelepasan dari urusan dunia, setiap ruku’ adalah simbol kerendahan hati, dan setiap sujud adalah puncak kedekatan dengan Allah SWT. Namun, realitas menunjukkan bahwa shalat seringkali kehilangan makna substansial. Ia dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban, tanpa menghadirkan kesadaran dan penghayatan. Padahal, shalat yang benar seharusnya melahirkan ketenangan batin, kejernihan berpikir, dan kepekaan sosial.
Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas shalat berbanding lurus dengan kualitas moral seseorang. Jika shalat belum mampu mencegah keburukan, maka yang perlu dievaluasi bukan syariatnya, melainkan cara kita melaksanakannya.

Shalat: Amal Pertama yang Dihisab di Yaumil Qiyamah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Hadis ini menempatkan shalat sebagai parameter utama keselamatan manusia di akhirat. Shalat menjadi pintu evaluasi awal, yang menentukan nasib amal-amal lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah simbolik, melainkan cerminan keseluruhan kualitas iman dan amal. Dalam perspektif ini, shalat mengandung dimensi akuntabilitas yang sangat kuat. Ia melatih manusia untuk bertanggung jawab terhadap waktu, janji, dan komitmen. Shalat yang dijaga akan membentuk pribadi yang jujur, disiplin, dan konsisten—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan berbangsa.

Istiqamah dalam Shalat: Antara Tantangan dan Komitmen
Istiqamah adalah kunci utama dalam menjaga shalat. Namun istiqamah bukan perkara mudah. Di era digital dan globalisasi, manusia dihadapkan pada beragam distraksi: kesibukan kerja, tekanan ekonomi, hiburan tanpa batas, serta gaya hidup instan yang seringkali menjauhkan dari nilai spiritual. Banyak orang tidak meninggalkan shalat karena menolak agama, tetapi karena kehilangan kesadaran akan maknanya. Di sinilah Isra’ Mi‘raj menjadi relevan: mengingatkan kembali bahwa shalat adalah kebutuhan jiwa, bukan sekadar kewajiban ritual.
Istiqamah dalam shalat menuntut:
Kesadaran spiritual, bahwa shalat adalah dialog langsung dengan Allah.
Disiplin waktu, yang membentuk etos kerja dan tanggung jawab.
Konsistensi moral, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Shalat yang istiqamah akan melahirkan pribadi yang stabil secara emosional, kuat secara mental, dan matang secara sosial.

Dari Spirit Shalat Menuju Aksi Nyata
Peringatan Isra’ Mi‘raj seharusnya menjadi titik balik dari sekadar refleksi menuju aksi nyata. Shalat tidak boleh berhenti di sajadah, tetapi harus hadir dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai shalat—kejujuran, keadilan, ketundukan pada kebenaran—harus tercermin dalam dunia kerja, pendidikan, politik, dan kehidupan bermasyarakat.
Bangsa yang warganya menjaga shalat dengan baik seharusnya melahirkan:
Pemimpin yang amanah,
Aparatur yang bersih,
Pendidik yang berintegritas,
Generasi muda yang berkarakter.
Inilah makna shalat sebagai instrumen pembangunan peradaban, bukan sekadar ibadah personal.

Penutup
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa shalat adalah perintah langit yang menentukan nasib manusia di bumi dan akhirat. Ia adalah amal pertama yang dihisab, sekaligus fondasi utama istiqamah dalam kehidupan. Dalam shalat, manusia menemukan arah, ketenangan, dan kekuatan untuk menghadapi kompleksitas zaman. Maka, peringatan Isra’ Mi‘raj hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas shalat, memperkuat istiqamah, dan menerjemahkan nilai-nilainya dalam aksi nyata. Sebab, di hadapan Allah kelak, shalatlah yang pertama kali akan berbicara tentang siapa diri kita sebenarnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»