PERISTIWA ISRA MIRAJ DALAM KITAB BARZANJI

Oleh : Dr. Wahdatun Nisa M.A

Peristiwa Isra Miraj merupakan momen paling fundamental dalam sejarah nabi Muhammad Saw. Kisah perjalanan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian menembus lapisan-lapisan langit hingga bertemu Allah, bukan sekadar catatan sejarah atau mukjizat semata. Peristiwa ini menegaskan kedudukan Rasulullah sebagai utusan Allah yang dimuliakan sekaligus menjadi momentum penetapan sholat sebagai fondasi utama spiritualitas umat Islam. Di balik perjalanan yang agung ini tersimpan pesan-pesan spiritual yang tetap relevan hingga kini, terutama mengenai kedekatan dengan Allah dan pentingnya shalat sebagai tiang agama.

Dalam tradisi keilmuan Islam, Isra Miraj banyak dikaji melalui perspektif tafsir, hadis, dan sirah. Namun, di kawasan Nusantara, kisah agung ini juga hidup dan berkembang melalui jalur sastra keagamaan, salah satunya melalui Kitab Barzanji. Kitab yang kerap dilantunkan dalam tradisi keagamaan ini bukan sekadar pujian kepada Nabi Muhammad saw., melainkan juga medium spiritual yang merekam peristiwa-peristiwa agung, termasuk Isra Mi’raj, dalam bahasa yang puitis dan menyentuh rasa.

Kitab Barzanji, karya Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji, merupakan teks pujian (madḥ) kepada Nabi Muhammad saw. yang disusun dalam bentuk prosa berirama dan syair-syair indah. Kitab ini tidak sekadar menyampaikan biografi Nabi secara kronologis, melainkan juga menghadirkan dimensi emosional dan spiritual yang mendalam. Dalam konteks Isra’ Mi’raj, Barzanji menampilkan peristiwa tersebut sebagai pengalaman transendental yang sarat makna teologis, etis, dan spiritual.

Menelusuri Isra Miraj dalam Barzanji memungkinkan kita melihat sisi lain dari peristiwa ini bagaimana teks klasik dapat membentuk spiritualitas, menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi, dan sekaligus menjadi bagian dari budaya keagamaan khas Nusantara.

ISRA MIRAJ DALAM KITAB BARZANJI

Sebagai karya sastra-religius, Barzanji memiliki pendekatan yang berbeda dari kitab sejarah atau tafsir. Ia tidak bertujuan menjelaskan peristiwa secara analitis atau debat rasional, melainkan menghidupkan rasa takzim, cinta, dan penghayatan. Oleh karena itu, Isra Miraj dalam Barzanji disampaikan melalui ungkapan yang puitik, simbolik, dan penuh pujian.

Pengisahan Isra Miraj dalam Barzanji merujuk pada firman Allah dalam Surah al-Isra, yang kemudian diperkaya dengan narasi sastra:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.

Pemilihan kata ‘abdihi (hamba-Nya) menjadi penekanan teologis yang penting. Barzanji menegaskan bahwa kemuliaan Rasulullah saw. justru terletak pada kesempurnaan penghambaan beliau kepada Allah. Dengan demikian, Isra Miraj tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik, tetapi juga sebagai simbol kedudukan spiritual tertinggi yang dicapai melalui penghambaan total. Lebih lanjut makna Isra miraj dalam bait-bait nya :

Isra Miraj sebagai Perjalanan yang dimuliakan

Barzanji menggambarkan Isra Miraj sebagai peristiwa yang sepenuhnya berada dalam kehendak dan pemuliaan Allah. Nabi Muhammad saw. tidak meminta atau merencanakan perjalanan tersebut, melainkan dipilih dan dimuliakan secara langsung oleh Allah Swt.:

فَأُسْرِيَ بِهِ لَيْلًا وَعُرِجَ بِهِ إِلَى السَّمَاوَاتِ الْعُلَى

“Maka beliau diperjalankan pada malam hari dan dinaikkan ke langit-langit yang tinggi.”

Ungkapan ini, tidak sekadar menceritakan peristiwa, tetapi menghadirkan nuansa keagungan. Barzanji menekankan bahwa Isra Miraj adalah peristiwa yang berada di luar jangkauan nalar manusia biasa, sehingga sikap yang tepat bukanlah memperdebatkannya, melainkan mengaguminya dengan iman.

Sidratul Muntaha dan Batas Tertinggi Makhluk

Puncak peristiwa Isra Miraj dalam Barzanji adalah ketika Nabi Muhammad saw. mencapai Sidratul Muntaha:

حَتَّى بَلَغَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى، الَّتِي عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

“Hingga beliau mencapai Sidratul Muntaha, tempat di mana terdapat surga tempat tinggal.”

Dalam tradisi teologi Islam, Sidratul Muntaha dipahami sebagai batas akhir makhluk dalam mendekat kepada Allah. Barzanji memposisikan Nabi Muhammad saw. sebagai manusia yang mencapai puncak kedekatan tersebut, namun tetap dalam status sebagai hamba. Hal ini mengandung pesan mendalam bahwa setinggi apa pun derajat manusia, ia tetap berada dalam keterbatasan dan bergantung sepenuhnya pada rahmat Allah.

Sholat sebagai Inti dan Tujuan Isra Miraj

Inti dari peristiwa Isra Miraj adalah diterimanya perintah shalat lima waktu. Barzanji menyampaikan perintah ini dengan bahasa yang menekankan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya:

وَفُرِضَتْ عَلَيْهِ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، رَحْمَةً لِلْعِبَادِ وَتَقْرِيبًا إِلَى رَبِّ الْأَرْبَابِ

“Dan diwajibkan atas beliau salat lima waktu, sebagai rahmat bagi para hamba dan sarana untuk mendekat kepada Tuhan seluruh alam.”

Dalam narasi Barzanji, shalat tidak dipahami sebagai kewajiban yang memberatkan, melainkan sebagai rahmat dan anugerah spiritual. Shalat merupakan jalan komunikasi langsung antara manusia dan Allah, serta sarana penyucian jiwa di tengah dinamika kehidupan duniawi. Barzanji mengajak umat untuk memandang shalat dengan cinta, bukan keterpaksaan. Hikmahnya sangat relevan hari ini: ketika shalat terasa berat, problemnya bukan pada shalat itu sendiri, melainkan pada hati yang menjauh dari makna Isra Miraj.

Shalat sebagai Mi’raj Spiritual Umat

Barzanji kemudian mengaitkan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi dengan kehidupan umat Islam secara universal:

فَالصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ إِلَى حَضْرَةِ رَبِّهِ

“Maka salat adalah mi’rajnya orang beriman menuju hadirat Tuhannya.”

Ungkapan ini memperjelas bahwa Isra Miraj tidak berhenti sebagai peristiwa historis, tetapi berlanjut sebagai pengalaman spiritual yang dapat diakses oleh setiap mukmin. Setiap pelaksanaan salat sejatinya adalah proses kenaikan spiritualdari kesibukan dunia menuju kehadiran Ilahi.

BARZANJI DAN TRADISI KEISLAMAN NUSANTARA

Di Nusantara, Barzanji hidup dalam tradisi lisan dibaca pada peringatan Maulid Nabi, Isra Miraj, pernikahan, hingga syukuran. Tradisi ini membuat kisah Isra Miraj tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi berdenyut dalam ingatan kolektif masyarakat. Syair-syair Barzanji yang dilagukan bersama menciptakan pengalaman spiritual komunal, di mana nilai-nilai keimanan ditanamkan melalui rasa, bukan semata logika.

Namun, tantangan hari ini adalah kecenderungan membaca Barzanji secara seremonial tanpa pemaknaan. Lantunan indah sering berhenti sebagai ritual, tanpa upaya memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Padahal, di balik setiap bait syair Isra Miraj dalam Barzanji, tersimpan ajakan untuk memperbaiki akhlak, memperdalam ibadah, dan menata kembali orientasi hidup.

PENUTUP

Peristiwa Isra Miraj dalam Kitab Barzanji menunjukkan bagaimana sejarah kenabian dapat dihadirkan melalui pendekatan sastra yang mendalam dan menyentuh. Barzanji tidak hanya mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad saw. ke langit, tetapi juga mengajak umat untuk melakukan perjalanan batin menuju Allah melalui penghambaan, salat, dan kesadaran spiritual.

Dalam dunia modern yang cenderung rasional dan pragmatis, Barzanji menawarkan keseimbangan: bahwa iman tidak hanya membutuhkan argumentasi, tetapi juga keindahan, rasa, dan penghayatan. Dengan demikian, memperingati Isra Miraj melalui Kitab Barzanji bukanlah sekadar nostalgia tradisi, melainkan upaya merawat kedalaman spiritual umat Islam di setiap zaman.

Isra Miraj bukan sekadar jarak yang ditempuh, tetapi perjalanan hati, menembus gelapnya dunia menuju rahmat Allah.

Sidratul Muntaha menjadi saksi perjalanan Nabi, dan kita belajar bahwa setiap sujud adalah miraj kecil menuju Sang Pencipta.

SUBBHANALLAH

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»