Peristriwa isro dan mi’raj yang diperingati setiap 27 rajab oleh kaum muslimin merupakan suatu peristiwa sejarah paling sakral dalam Islam. Peristiwa ini terjadi pada periode Makkah, tepatnya pada tahun ke-10 kenabian, peristiwa ini menjadi penghibur (tasliyah) bagi Rasulullah SAW yang saat itu tengah berduka atas wafatnya isteri beliau Siti Khadijah dan Abu Thalib paman beliau. Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.
Bila kita lihat dalam Al Quran surah Al Isro ayat 1 yang menjadi dasar peristiwa isro dan mi’raj ini, maka dapat dipahami bahwasanya isra mi’raj adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha. Dalam sebuah referensi disebutkan kata subha merupakan bentuk masdar dari kata sabaha yang menunjukkan bahwa Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu peristiwa isra Mi’raj adalah kejadian luar biasa yang tidak tunduk pada hukum ruang dan waktu sebagimana yang berlaku pada makhluk. Kata asra bermakna diperjalankannya pada malam hari yang menegaskan bahwa perjalanan tersebut terjadi pada waktu malam. Penggunaaan kata bi’abdihi menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW diperjalankansecara utuh yakni dengan jasad dan ruh, bukan hanya ruh semta. Dalam bahasa Arab kata abdu mencakup kesatuan jasad dan ruh. Sedangkan redaksi laila menurut kesepakatan para ulama menunjukkan bahwa perjalanan tersebut terjadi pada sebagian malam bukan sepanjang malam. Hal ini berbeda dengan redaksi allaila yang menunjukkan keseluruhan malam.
Puncak dari Isra Miraj adalah diterimanya perintah shalat lima waktu. Berbeda dengan syariat lainnya yang turun melalui perantara Malaikat Jibril, perintah shalat diberikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan urgensi shalat sebagai tiang agama. Para ulama menyebut bahwa “Shalat adalah Mi’raj-nya orang beriman”. Artinya, melalui shalat, seorang hamba dapat melakukan perjalanan spiritual untuk “bertemu” dan berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, melepaskan sejenak beban duniawi. Shalat memiliki nilai spiritual yang tinggi, tetapi juga memberikan pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari. Bagi umat Muslim, shalat bukanlah sekadar rutinitas harian yang harus dilakukan, namun merupakan momen penting untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
Dalam kesibukan dan dinamika kehidupan modern saat ini, banyak dari kita sering lupa akan pentingnya mengambil waktu sejenak untuk meluruskan niat, memperbaiki diri, dan mencari ketenangan. Shalat hadir sebagai solusi yang tidak hanya menawarkan koneksi dengan Tuhan, tetapi juga sebagai bentuk meditasi yang membantu mengatasi tekanan dan kecemasan.
Dalam waktu 24 jam sehari yang disediakan Allah kepada kita terkadang kita terlena dan lupa untuk menyisihkan sedikit waktu dalam mendekatkakan diri kepada sang pencipta lewat ibadah shalat. Saat panggilan azan tiba kita tidak langsung mensegerakan perintah tersebut, namun menunda dan menunda, dan tidak terasa saat waktu shalat berikutnya tiba, terjadi kembali penundaan tersebut. Seharusnya shalat menjadi penguat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketaatan melakukan shalat lima waktu menjadi rutinitas yang membentuk disiplin dan keteladanan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Ketika pikiran dan hati dalam keadaan tertib, keputusan yang diambil akan lebih bijaksana dan tindakan yang dijalankan akan lebih terarah, sehingga membawa dampak yang positif dalam kehidupan sehari-hari.
Di era digital yang penuh dengan distraksi, makna Isra Miraj dapat diimplementasikan sebagai bentuk keseimbangan hidup. Kecepatan Buraq dapat dianalogikan dengan kecepatan informasi saat ini, namun tanpa kemudi spiritual (iman), kecepatan tersebut bisa menyesatkan. Shalat lima waktu berfungsi sebagai “pause button” dari hiruk-pikuk media sosial dan tekanan pekerjaan. Ini adalah momen untuk melakukan detoksifikasi mental dan memfokuskan kembali orientasi hidup pada tujuan yang lebih abadi.
Dengan peringatan isra mi’raj, kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita sebagai hamba Allah dengan menjalankan perintahnya seperti shalat di awal waktu dan berjamaah.
Wallahu a’lam bissawab
Penulis: Dr. Siti Julaiha, S,Ag. M. Pd Sekretaris Jurusan Pendidikan Islam FTIK UINSI Samarinda




