Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar perjalanan luar biasa secara fisik dan spiritual, tetapi merupakan tonggak pembentukan karakter umat Islam, khususnya melalui perintah shalat sebagai fondasi kehidupan. Di tengah tantangan era digital tahun 2026—ditandai dengan derasnya arus informasi, media sosial, kecerdasan buatan, dan budaya instan—nilai-nilai Isra Mi’raj menjadi sangat relevan sebagai filter iman dan akhlak bagi generasi muda.
Era digital menghadirkan peluang besar, namun juga ancaman serius seperti degradasi moral, kecanduan gawai, ujaran kebencian, hoaks, dan lunturnya adab. Oleh karena itu, meneladani spirit Isra Mi’raj menjadi kunci dalam membentuk generasi tangguh, yakni generasi yang kuat imannya, bijak bermedia, dan berkarakter islami.
Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung yang mengandung pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia. Puncak dari peristiwa ini adalah perintah shalat, yang menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.
Allah SWT berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah kehendak ilahi yang sarat dengan pendidikan spiritual dan moral bagi umat manusia.
Shalat sebagai Filter Iman di Era Digital
Di era digital, shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi berfungsi sebagai penjaga moral dan pengendali diri. Shalat melatih disiplin waktu, kesadaran diri, dan ketundukan kepada Allah SWT—nilai yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi godaan dunia maya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat yang benar akan membentuk kontrol diri sehingga seseorang mampu menyaring konten, perilaku, dan interaksi digital yang tidak sesuai dengan nilai Islam.
Islam sejak awal telah mengajarkan etika komunikasi yang sangat relevan dengan penggunaan media sosial. Setiap informasi harus diverifikasi dan setiap ucapan harus dipertanggungjawabkan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)
Dalam konteks era digital, ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun sebelum menyebarkan informasi, agar generasi muda tidak terjebak dalam hoaks, fitnah, dan provokasi di media sosial.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan kuat dalam membangun etika bermedia, yaitu bijak berkomentar, tidak menyebar kebencian, dan menjaga adab dalam dunia digital.
Membentuk Karakter Islami Generasi Tangguh
Spirit Isra Mi’raj menanamkan nilai tangguh secara spiritual, emosional, dan sosial. Generasi tangguh bukanlah generasi yang anti-teknologi, melainkan generasi yang menguasai teknologi dengan iman dan akhlak sebagai kompasnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam, termasuk di era digital, adalah pembentukan akhlak mulia. Teknologi tanpa akhlak akan melahirkan krisis moral, sedangkan teknologi yang dipandu iman akan menjadi sarana kebaikan dan kemajuan.
Peringatan Isra Mi’raj tahun 2026 menjadi momentum strategis untuk merefleksikan kembali peran iman dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan meneladani spirit Isra Mi’raj—khususnya melalui penguatan shalat, etika bermedia, dan karakter islami—diharapkan lahir generasi tangguh yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan santun dalam berinteraksi digital.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa setinggi apa pun teknologi manusia, hubungan dengan Allah SWT tetap menjadi pusat kekuatan hidup. Dari shalatlah lahir generasi yang mampu menyaring dunia digital dengan iman dan akhlak sebagai pelita.




