Oleh : Dr. Hj. Norvadewi, M. Ag
Peringatan Isra Mi‘raj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu kejadian paling agung dalam sejarah Islam. Sebuah peristiwa spiritual yang luar biasa—sebuah perjalanan agung Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Namun sesungguhnya, Isra Mi‘raj bukan hanya kisah keimanan, melainkan juga sumber refleksi mendalam bagi berbagai aspek kehidupan modern, termasuk persoalan ekonomi yang saat ini dirasakan semakin berat oleh banyak lapisan masyarakat.
Saat ini kita hidup di tengah realitas ekonomi yang penuh tantangan. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, daya beli masyarakat tertekan, sulitnya lapangan pekerjaan dan ketimpangan sosial antara kelompok kaya dan miskin. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dibanggakan. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan teknis semata, tetapi memerlukan pembenahan paradigma dan nilai. Dalam konteks inilah, Isra Mi‘raj menjadi cermin reflektif bagi ekonomi kita hari ini.
Isra Mi‘raj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai ‘ām al-ḥuzn atau tahun kesedihan. Rasulullah SAW kehilangan Khadijah RA, istri yang selama ini menjadi penopang moral dan ekonomi dakwah, serta Abu Thalib, pelindung sosial-politik beliau. Tekanan hidup, penolakan masyarakat, dan keterbatasan ekonomi menyatu dalam satu masa yang sulit. Namun justru dalam kondisi keterpurukan itulah Allah SWT mengangkat Rasul-Nya dalam sebuah perjalanan agung. Pesan yang dapat kita tangkap sangat jelas: krisis bukan akhir segalanya, melainkan titik awal kebangkitan jika disikapi dengan iman dan visi yang benar.
Krisis ekonomi yang terjadi hari ini tidak hanya soal uang, namun mencerminkan krisis nilai. Sistem ekonomi modern cenderung menilai keberhasilan dari pertumbuhan angka dan akumulasi keuntungan. Selama ekonomi tumbuh, sistem dianggap berhasil, meskipun hasilnya hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Dalam perspektif ekonomi Islam, orientasi semacam ini perlu dikritisi. Islam menegaskan bahwa tujuan ekonomi bukan sekadar pertumbuhan, tetapi kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
Salah satu pesan paling penting dari Isra Mi‘raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Shalat sering dipahami sebagai ibadah individual yang bersifat ritual, padahal dampaknya sangat luas, termasuk dalam kehidupan ekonomi. Shalat mengajarkan disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap aktivitas manusia diawasi oleh Allah SWT. Nilai-nilai ini merupakan fondasi utama etika ekonomi Islam. Ketika shalat benar-benar dihayati, aktivitas ekonomi tidak lagi semata mengejar keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan kehalalan cara dan keberkahan hasil. Bayangkan jika nilai shalat benar-benar hidup dalam diri pelaku ekonomi. Seorang pedagang tidak akan menipu timbangan. Seorang pejabat akan berhati-hati dalam mengelola anggaran. Seorang pengusaha akan memperlakukan karyawannya dengan adil dan manusiawi. Inilah dimensi sosial dan ekonomi dari shalat yang sering luput dari perhatian kita. Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus membentuk perilaku sosial, termasuk dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Selain shalat, Isra Mi‘raj juga menegaskan prinsip tauhid sebagai fondasi utama kehidupan. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada harta, modal, dan kekuasaan. Dalam ekonomi Islam, kekayaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Ketika uang dijadikan pusat orientasi hidup, manusia mudah menghalalkan segala cara demi keuntungan. Sebaliknya, ketika tauhid menjadi landasan, ekonomi dijalankan dengan kesadaran moral dan keberpihakan pada kemaslahatan bersama.
Islam juga menyediakan instrumen sosial-ekonomi yang kuat, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Instrumen-instrumen ini bukan sekadar amal individual, tetapi mekanisme sosial untuk mengurangi ketimpangan dan memperkuat ekonomi masyarakat. Zakat dirancang agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, sementara wakaf produktif dapat menjadi sumber pembiayaan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan usaha kecil. Jika dikelola secara profesional dan transparan, instrumen ini mampu menjadi solusi nyata bagi persoalan ekonomi umat.
Pesan penting lain dari Isra Mi‘raj adalah bahwa Rasulullah SAW kembali ke bumi setelah perjalanan spiritualnya. Ini menandakan bahwa puncak spiritualitas bukanlah menjauh dari realitas, tetapi kembali untuk memperbaiki kehidupan. Nilai-nilai agama harus hadir dalam praktik nyata, bukan berhenti pada peringatan seremonial. Dalam konteks ekonomi, hal ini menjadi kritik terhadap keberagamaan yang simbolik, tetapi abai terhadap ketidakadilan dan kemiskinan di sekitarnya.
Pada akhirnya, Isra Mi‘raj mengajak kita untuk memperbaiki kualitas dalam cara berpikir dan bertindak, termasuk dalam ekonomi. Dari ekonomi yang hanya mengejar keuntungan menuju ekonomi yang mengejar keberkahan. Dari ekonomi yang individualistik menuju ekonomi yang berkeadilan sosial. Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, nilai-nilai Isra Mi‘raj dapat menjadi cahaya penuntun agar pembangunan ekonomi tidak kehilangan arah dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan ketuhanan.




