SATU ABAD NAHDLATUL ULAMA (NU) : MERAWAT TRADISI, MENGUATKAN KEBANGSAAN

Oleh : Dr. Wahdatun Nisa M.A

Tahun 2026 menandai tonggak bersejarah bagi Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada 31 Januari 1926 M, yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H. Pada tanggal 31 Januari 2026 ini, NU secara resmi memasuki usia satu abad berdasarkan penanggalan Miladiyah. Meskipun peringatan satu abad NU dalam kalender Hijriyah telah dilaksanakan pada 16 Rajab 1444 H, peringatan satu abad versi Miladiyah tetap memiliki signifikansi historis tersendiri sebagai penanda perjalanan panjang organisasi ini dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia.
Seratus tahun perjalanan Nahdlatul Ulama mencerminkan konsistensi sebuah organisasi keagamaan dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat dan berakar pada kearifan lokal. Pada saat yang sama, NU memainkan peran strategis dalam memperkuat kehidupan kebangsaan melalui komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, moderasi beragama, serta upaya menjaga kohesi sosial di tengah dinamika perubahan sosial, politik, dan budaya yang terus berkembang.

JEJAK HISTORIS NAHDLATUL ULAMA

Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926 di Surabaya merupakan respons para ulama terhadap kebutuhan organisasi yang dapat membina umat Islam sesuai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat tradisi pesantren. Inisiatif ini muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan K.H. Wahab Chasbullah pada tahun 1924, sebagai wadah membahas pendidikan, praktik keagamaan, dan tantangan sosial-politik umat Islam. Dalam proses persiapan, K.H. Hasyim Asyari mengalami keresahan batin terkait konsekuensi keputusan yang akan melibatkan banyak kiai dari berbagai pesantren, sehingga beliau menekankan pentingnya musyawarah dan pertimbangan matang sebelum pendirian organisasi.
Menyadari kondisi sang murid, Syaikhona Cholil Bangkalan, yang dikenal memiliki kemampuan mukasyafah, memberikan bimbingan spiritual melalui pengiriman tongkat dan tasbih. Sebagai bagian dari bimbingan ini, beliau meminta kepada K.H. Asad Samsul Arifin dari Situbondo, yang secara garis keturunan masih terhitung cucu beliau sendiri, untuk mengantarkan tongkat tersebut kepada K.H Hasyim Asyari disertai Amanah untuk membacakan Surah Thoha ayat 17-23 sebagai bentuk doa dan penguatan spiritual agar kepemimpinan dan perjalanan NU selalu berpijak pada petunjuk Allah. Dengan arahan ini, K.H. Hasyim bersama para muassis NU, termasuk K.H Wahab Chasbullah, K.H Bisri Syanmsuri dan ulama lainnya memutuskan mendirikan NU, sehingga organisasi ini lahir dari istikharah, musyawarah, dan bimbingan spiritual para ulama sepuh, sekaligus menjadi wadah strategis untuk pendidikan dan pembinaan umat.

NAHDLATUL ULAMA DAN KETEGUHAN MERAWAT TRADISI

NU lahir dari kebutuhan masyarakat Indonesia untuk menegakkan ajaran Islam yang moderat dan kontekstual. NU menekankan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yang menyeimbangkan antara ibadah, akhlak, dan kehidupan sosial. Salah satu ciri khas NU adalah penghargaan terhadap tradisi lokal, yang dilakukan dengan semangat keagamaan dan nilai budaya.
NU juga dikenal kuat merawat tradisi keilmuan melalui sanad ilmu. Para kiai dan pesantren NU menekankan pentingnya rantai transmisi ilmu dari guru ke murid, yang kemudian diakhiri dengan pemberian ijazah sebagai tanda resmi bahwa murid telah menguasai ilmu tertentu. Tradisi ini tidak hanya memastikan keaslian dan kedalaman pemahaman ilmu, tetapi juga menjaga kontinuitas pendidikan dan otoritas keilmuan dari generasi ke generasi.
Tradisi keagamaan dan keilmuan yang bersanad ini menegaskan bahwa agama dan ilmu berjalan seiring. Ibadah membentuk moral dan spiritual, sedangkan ilmu dengan sanad memastikan keilmuan yang benar, terdokumentasi, dan berkesinambungan. Inilah yang membuat NU mampu membentuk umat yang beriman, cerdas, dan siap menghadapi tantangan zaman, seraya tetap memelihara warisan intelektual yang autentik.

NAHDLATUL ULAMA DALAM BINGKAI KEBANGSAAN

Sejak kelahirannya, Nahdlatul Ulama tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga persatuan dan kebangsaan. NU menempatkan diri dalam bingkai Pancasila, menghormati perbedaan, dan menekankan pentingnya toleransi, musyawarah, dan persaudaraan antarwarga bangsa. Para pendiri NU turut berperan dalam pergerakan kemerdekaan, mendukung terbentuknya Indonesia merdeka, dan memastikan bahwa Islam selalu selaras dengan kepentingan nasional. Prinsip ini menjadikan NU sebagai jembatan antara tradisi keagamaan dan kepentingan sosial-politik bangsa.
NU aktif membangun kesadaran kebangsaan melalui pendidikan dan dakwah. Ribuan pesantren NU mendidik generasi muda tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan, etika sosial, dan keterampilan hidup. Dengan cara ini, NU membentuk masyarakat yang religius sekaligus patriotik, mampu menjaga kerukunan antarumat, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Di era modern, NU tetap konsisten menegaskan peranannya sebagai pemersatu umat dan bangsa, membuktikan bahwa agama dan nasionalisme saling menguatkan.

NAHDLATUL ULAMA TANTANGAN DAN HARAPAN

Memasuki abad kedua, NU menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari globalisasi dan digitalisasi, hingga meningkatnya polarisasi sosial dan pergeseran nilai di masyarakat. NU ibarat kapal besar yang berlayar di lautan luas; untuk tetap stabil dan selamat sampai tujuan, dibutuhkan nakhoda yang bijak, awak kapal yang terlatih, dan navigasi yang tepat. Artinya, NU harus menjaga tradisi keilmuan, memperkuat dakwah moderat, dan beradaptasi dengan strategi baru agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas dan akar budaya.

Di tengah tantangan tersebut, NU tetap memiliki harapan besar untuk memperkuat peran sebagai penopang moral, sosial, dan kebangsaan. Dengan ribuan pesantren, lembaga pendidikan, dan jaringan kader di seluruh Indonesia bahkan dunia, NU dapat terus membentuk generasi yang cerdas, religius, dan berbudaya, sekaligus siap menghadapi dinamika global. Harapan ini menegaskan bahwa NU bukan sekadar organisasi masa lalu, tetapi kapal besar yang tangguh, membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik dan harmonis.

PENUTUP

Satu abad Nahdlatul Ulama bukan sekadar catatan sejarah, melainkan perjalanan panjang penuh makna. Selama seratus tahun, NU telah berhasil merawat tradisi keislaman, menjaga sanad keilmuan, serta membangun kesadaran kebangsaan. Organisasi ini membuktikan bahwa agama, ilmu, dan nasionalisme dapat berjalan beriringan, membentuk masyarakat yang beriman, cerdas, dan berbudaya.
Di usia yang ke-100, NU menghadapi tantangan zaman modern dengan keyakinan dan keteguhan akar tradisi. Seperti kapal besar yang terus berlayar di samudra luas, NU tetap teguh memimpin umat dan bangsa, menavigasi setiap gelombang perubahan dengan moderasi, toleransi, dan inovasi keilmuan. Perayaan satu abad NU menjadi momentum untuk merenungkan perjalanan, sekaligus memperkuat tekad agar NU terus menjadi pilar moral, sosial, dan kebangsaan bagi Indonesia di masa depan.

SELAMAT MEMPERINGATI SATU ABAD NU VERSI MILADIYAH
“ Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia “

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»