IKN, UINSI NEWS, —Menjelang pelaksanaan salat Tarawih di Masjid Negara kawasan Ibu Kota Nusantara, suasana tampak khidmat dan penuh kekhusyukan. Jamaah yang terdiri dari masyarakat umum serta para tokoh agama memadati ruang utama masjid untuk mengikuti tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Prof. Dr. Zamroni, M.Pd., pada Selasa (24/2).
Dalam ceramahnya, Prof. Zamroni menegaskan bahwa puasa tidak sekadar dimaknai sebagai menahan lapar, dahaga, serta menahan diri dari hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa merupakan ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan moral yang sangat mendalam.
Mengutip pemikiran Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali, beliau menjelaskan bahwa terdapat beberapa dimensi puasa yang perlu dipahami dan dihayati oleh setiap muslim.
Pertama, dimensi kepatuhan (tha’ah). Puasa adalah bentuk ketaatan total seorang hamba kepada Allah SWT. Perintah yang secara lahir tampak sederhana ini sesungguhnya melatih kedisiplinan dan kepatuhan tanpa syarat.
Kedua, dimensi pengorbanan (tadhhiyah). Dalam puasa, seseorang mengorbankan kebutuhan biologis yang halal demi menjalankan perintah Allah. Pengorbanan ini menjadi sarana pendidikan ruhani agar manusia tidak diperbudak oleh hawa nafsu.
Ketiga, tazkiyatun nafs (penyucian diri). Prof. Zamroni menekankan bahwa Ramadan adalah momentum pembersihan jiwa. Selama sebelas bulan, manusia kerap terjebak dalam kelalaian dan dominasi nafsu. Maka puasa hadir sebagai sarana pensucian lahir dan batin agar hati kembali bercahaya.
Keempat, dimensi perjuangan (jihad atau mujahadah). Puasa adalah latihan pengendalian diri. Perjuangan melawan hawa nafsu merupakan jihad terbesar yang berlangsung dalam ruang batin setiap insan.
Kelima, dimensi keikhlasan (ikhlas). Ibadah puasa bersifat sangat personal dan tersembunyi. Tidak ada yang mengetahui kualitas puasa seseorang kecuali Allah SWT. Di sinilah letak pendidikan keikhlasan yang paling autentik.
Keenam, dimensi hikmah atau i’tibar. Puasa mengajarkan empati sosial, kepekaan terhadap penderitaan kaum dhuafa, serta membangun kesadaran akan pentingnya solidaritas dan keadilan sosial.
Lebih lanjut, Prof. Zamroni memaparkan klasifikasi puasa menurut Al-Ghazali yang terbagi dalam tiga tingkatan.
Pertama, puasanya orang awam (shaum al-‘umum), yaitu sekadar menahan makan, minum, dan syahwat. Pada level ini, puasa masih bersifat fisik dan formal.
Kedua, puasanya orang khusus (shaum al-khushush), yakni puasa yang tidak hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa. Mata dijaga dari pandangan haram, lisan dari dusta dan ghibah, telinga dari hal sia-sia, serta tangan dan kaki dari tindakan maksiat.
Ketiga, puasanya khawasul khawas (shaum khushush al-khushush), yaitu puasanya orang-orang pilihan. Pada tingkat ini, hati turut berpuasa dari segala selain Allah. Pikiran, niat, dan orientasi hidup sepenuhnya terarah kepada Allah SWT, bebas dari riya, ujub, dan kepentingan duniawi yang melalaikan.
“Ramadan adalah madrasah ruhani. Jika kita hanya berhenti pada menahan lapar dan dahaga, maka kita baru menyentuh kulitnya. Namun jika kita mampu menghadirkan kepatuhan, pengorbanan, penyucian diri, perjuangan, keikhlasan, dan hikmah dalam setiap detiknya, maka kita sedang menapaki jalan menuju derajat takwa,” ungkap beliau di hadapan jamaah.
Tausiyah yang berlangsung menjelang azan Magrib tersebut ditutup dengan doa bersama, memohon agar ibadah puasa Ramadan tahun ini benar-benar menjadi sarana transformasi diri, baik secara spiritual maupun sosial, serta memperkuat peran umat dalam membangun peradaban yang berkeadaban di lingkungan Ibu Kota Nusantara.
Penulis : Novan Halim
Editor : Nisa Rahmawati






