Oleh : Dr. Akhmad Nur Zaroni, M.Ag
Setiap Ramadhan, umat Islam bersemangat memburu Lailatul Qadar. Masjid dipenuhi jamaah, doa dipanjangkan, tilawah diperbanyak, dan malam-malam ganjil dihidupkan dengan harapan meraih kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Namun ada pertanyaan yang layak diajukan dengan jujur, benarkah kita sedang mencari makna Lailatul Qadar, atau jangan-jangan hanya mengejar kemuliaan malamnya tanpa sungguh-sungguh mendekat kepada Al-Qur’an yang menjadikannya mulia? Sebab Lailatul Qadar bukan sekadar malam pahala, tetapi malam turunnya wahyu, malam ketika langit menyapa bumi, dan petunjuk Allah mengetuk hati manusia.
Di situlah letak hubungan yang tak terpisahkan antara Lailatul Qadar dan Al-Qur’an. Malam itu menjadi mulia bukan semata karena suasana spiritualnya, tetapi karena pada malam itulah Al-Qur’an diturunkan. Kemuliaannya bersumber dari wahyu. Karena itu, membicarakan Lailatul Qadar sejatinya adalah membicarakan Al-Qur’an, kitab yang hadir bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menuntun, meluruskan, dan mengubah hidup manusia. Jika Lailatul Qadar dipahami hanya sebagai malam dengan pahala berlipat, sementara Al-Qur’an tidak sungguh-sungguh dihadirkan dalam kehidupan, maka kita sedang kehilangan inti pesannya.
Setiap tahun, semangat beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan memang selalu tampak mengesankan. Masjid lebih ramai, suara bacaan Al-Qur’an lebih sering terdengar, qiyamul lail dilakukan dengan lebih khusyuk. Semua itu tentu patut disyukuri. Tetapi suasana religius ini tetap perlu disertai pertanyaan yang lebih mendalam, apakah relasi kita dengan Al-Qur’an sungguh bertambah kuat, atau hanya meningkat secara musiman? Sebab tidak sedikit orang yang begitu antusias mencari Lailatul Qadar, tetapi setelah Ramadhan berlalu, mushaf kembali tertutup, tadabbur berhenti, dan pesan-pesan wahyu kembali tersisih oleh kesibukan dunia.
Padahal Al-Qur’an tidak turun sebagai hiasan spiritual. Ia hadir sebagai hudan, petunjuk bagi manusia. Ia membimbing cara berpikir, menata orientasi hidup, menajamkan nurani, serta membentuk akhlak. Al-Qur’an berbicara tentang tauhid dan ibadah, tetapi juga tentang kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial. Itu sebabnya, kedekatan kepada Al-Qur’an tidak dapat diukur hanya dari kelancaran membaca atau banyaknya ayat yang dihafal. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana ia memengaruhi sikap, keputusan, dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itulah, Lailatul Qadar semestinya dibaca sebagai momentum evaluasi moral dan spiritual. Malam itu mengingatkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk, bukan sekadar aktivitas. Dunia modern menawarkan kecepatan, konektivitas, dan kelimpahan informasi, tetapi tidak selalu menghadirkan kedalaman makna. Banyak orang sibuk, tetapi jiwanya letih. Banyak yang tampak berhasil, tetapi kehilangan arah. Banyak yang terhubung dengan dunia, tetapi terputus dari suara hatinya sendiri. Di tengah kegaduhan seperti itu, Al-Qur’an hadir sebagai cahaya yang menenangkan dan meluruskan. Dan Lailatul Qadar adalah malam ketika cahaya itu pertama kali menyapa bumi.
Ungkapan “saat langit menyapa hati manusia”, adalah cerminan hakikat wahyu sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah, tersesat dalam kebingungan moral, atau tenggelam dalam tarikan hawa nafsu tanpa bimbingan. Melalui Al-Qur’an, Allah memberi pedoman agar hidup tidak hanya berjalan, tetapi juga terarah. Karena itu, ketika seorang mukmin membaca Al-Qur’an pada malam-malam Ramadhan, lalu merenungi maknanya dengan jujur, sesungguhnya ia sedang membuka ruang agar langit benar-benar berbicara kepada batinnya.
Sayangnya, hubungan umat dengan Al-Qur’an dalam banyak hal masih kerap berhenti pada lapisan seremonial. Mushaf dihormati, tetapi pesannya belum bisa mengubah perilaku. Ayat dibaca, tetapi belum mampu menahan lisan dari dusta. Bacaan terdengar merdu, tetapi belum mampu menguatkan amanah dalam pekerjaan atau keadilan dalam memperlakukan sesama. Di sinilah Lailatul Qadar seharusnya menjadi momen otokritik. Kita perlu bertanya dengan jujur, sudahkah Al-Qur’an hadir dalam cara kita mencari nafkah, menggunakan kekuasaan, membangun keluarga, berdagang, mengajar, dan bermasyarakat? Ataukah Al-Qur’an masih lebih sering kita tempatkan di wilayah ibadah simbolik, tanpa sungguh-sungguh dibawa ke wilayah etika kehidupan?
Puasa Ramadhan sebenarnya telah menyiapkan jiwa untuk menerima pesan ini. Puasa melatih manusia menahan diri, mengendalikan keinginan, dan mengoreksi hubungan dengan kenikmatan dunia. Namun pengendalian diri tanpa arah dapat kehilangan makna. Seseorang mungkin mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi belum tentu menjadi lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli. Karena itu, Al-Qur’an hadir sebagai kompas. Ia memberi orientasi bagi latihan spiritual yang dibangun selama Ramadhan. Puasa membentuk disiplin batin, sedangkan Al-Qur’an menunjukkan ke mana disiplin itu harus diarahkan: menuju takwa, kematangan akhlak, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Maka ukuran keberhasilan menghidupkan Lailatul Qadar tidak cukup dilihat dari seberapa lama seseorang terjaga, seberapa banyak rakaat yang ia dirikan, atau seberapa khusyuk suasana malam yang ia rasakan. Ukuran yang lebih hakiki adalah jejak yang ditinggalkannya setelah Ramadhan. Apakah ia menjadi lebih jujur dalam bekerja? Lebih lembut dalam bertutur? Lebih tertib menjaga amanah? Lebih bersih dalam mencari rezeki? Lebih malu melakukan kezaliman? Lebih peduli pada yang lemah? Jika Al-Qur’an benar-benar menyentuh hati seseorang pada malam yang mulia itu, maka pengaruhnya tidak akan berhenti di sajadah. Ia akan menjalar ke pasar, kantor, rumah, kampus, dan seluruh ruang kehidupan.
Karena itu, mencari Lailatul Qadar sesungguhnya bukan hanya soal memburu malam terbaik, tetapi menyiapkan hati agar layak menerima pesan terbaik. Fokusnya tidak berhenti pada tanda-tanda malam itu, tetapi pada kesediaan diri untuk dituntun oleh wahyu. Sebab boleh jadi, inti dari Lailatul Qadar bukanlah keberhasilan menebak kapan datangnya malam itu, melainkan keberhasilan membiarkan Al-Qur’an menetap dalam hidup setelah malam itu berlalu. (Wallahu a’lam bishawab).





