Oleh:
Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, MAg
Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia bukan sekadar peringatan historis berdirinya institusi negara yang mengurusi kehidupan keagamaan. Lebih dari itu, HAB adalah momentum reflektif untuk menakar kembali sejauh mana nilai agama hadir sebagai kekuatan etis, sosial, dan kultural dalam kehidupan berbangsa. Dalam konteks HAB Kemenag RI Tahun 2026, rangkaian perlombaan yang digelar di berbagai daerah sering kali dipandang sebagai kegiatan seremonial belaka. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, perlombaan tersebut menyimpan makna strategis yang sangat penting bagi pembentukan karakter religius, sosial, humanis, dan ekologis masyarakat Indonesia.
Perlombaan, baik dalam bentuk olahraga, seni, literasi, kreativitas digital, maupun kegiatan sosial—merupakan medium simbolik yang merepresentasikan semangat zaman. Ia menjadi bahasa universal yang mudah dipahami lintas usia, latar belakang, dan bahkan lintas agama. Di sinilah letak kekuatan perlombaan dalam peringatan HAB: ia menjembatani nilai luhur agama dengan realitas kehidupan modern yang dinamis.
Perspektif Religius: Amal, Ikhtiar, dan Sportivitas sebagai Nilai Ibadah Dalam perspektif religius, perlombaan tidak dapat dilepaskan dari konsep amal dan ikhtiar. Islam, misalnya, tidak memandang kompetisi sebagai sesuatu yang negatif selama dilakukan dalam bingkai nilai etika, kejujuran, dan keadilan. Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—sebagai spirit utama kehidupan beriman.
Perlombaan HAB Kemenag sejatinya adalah pengejawantahan dari semangat tersebut. Ketika ASN, guru, siswa, dan masyarakat umum berpartisipasi dalam lomba dengan niat memperingati hari lahir Kemenag, maka aktivitas itu berubah dari sekadar kompetisi menjadi bentuk ibadah sosial. Sportivitas, disiplin, kerja keras, dan penerimaan terhadap kemenangan maupun kekalahan merupakan nilai-nilai spiritual yang jarang diajarkan secara formal, tetapi efektif ditanamkan melalui pengalaman langsung.
Lebih jauh, perlombaan juga menjadi sarana internalisasi makna amal bakti itu sendiri. Amal tidak selalu berarti ritual formal, tetapi juga kerja sungguh-sungguh, kontribusi terbaik, dan komitmen moral dalam setiap peran yang dijalani. Dengan demikian, perlombaan HAB dapat dibaca sebagai pedagogi religius yang hidup—agama yang bergerak, bukan sekadar diajarkan.
Perspektif Sosial: Membangun Kohesi, Solidaritas, dan Etika Kebersamaan
Dari sudut pandang sosial, perlombaan HAB berfungsi sebagai ruang temu yang egaliter. Dalam perlombaan, hierarki struktural ASN, perbedaan status sosial, bahkan sekat generasi menjadi cair. Semua peserta berdiri sejajar sebagai individu yang berkompetisi secara sehat dan berinteraksi secara manusiawi. Indonesia sebagai bangsa majemuk sangat membutuhkan ruang-ruang sosial yang mampu merawat kohesi dan solidaritas. Perlombaan HAB, terutama yang melibatkan lintas satuan kerja, lintas agama, dan lintas generasi, menjadi miniatur masyarakat ideal: berbeda-beda tetapi terikat oleh tujuan bersama. Di tengah tantangan polarisasi sosial, intoleransi, dan individualisme yang menguat di era digital, kegiatan semacam ini justru memiliki nilai strategis sebagai “rekat sosial” (social glue).
Lebih dari itu, perlombaan juga mengajarkan etika sosial yang fundamental: menghargai aturan, menerima perbedaan kemampuan, dan mengakui keunggulan pihak lain tanpa iri dan kebencian. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam membangun budaya demokrasi yang sehat dan peradaban yang beradab.
Perspektif Humaniora: Merawat Kemanusiaan, Ekspresi, dan Makna Hidup. Jika ditinjau dari perspektif humaniora, perlombaan HAB Kemenag sesungguhnya adalah perayaan kemanusiaan. Manusia bukan hanya makhluk beriman dan sosial, tetapi juga makhluk ekspresif yang membutuhkan ruang untuk menyalurkan kreativitas, emosi, dan gagasan. Lomba seni, sastra, pidato, konten kreatif, atau esai keagamaan membuka ruang bagi peserta untuk menafsirkan agama dan kehidupan dengan bahasa zamannya. Di sinilah agama bertemu dengan kebudayaan, dan nilai ilahiah berdialog dengan pengalaman manusiawi.
Humaniora mengajarkan bahwa agama tidak boleh terasing dari realitas hidup, tetapi harus hadir sebagai sumber makna, empati, dan keindahan.
Dalam konteks ini, perlombaan menjadi sarana humanisasi agama—agama yang membebaskan, mencerahkan, dan memuliakan martabat manusia. Ia menegaskan bahwa keberagamaan yang sehat adalah keberagamaan yang memberi ruang bagi kreativitas, dialog, dan refleksi kritis, bukan yang membungkam atau menyeragamkan.
Perspektif Eko-Teologi: Kesadaran Lingkungan sebagai Bagian dari Iman
Salah satu dimensi yang sering luput disadari dalam kegiatan perlombaan adalah aspek eko-teologi. Padahal, hubungan manusia dengan alam merupakan bagian integral dari ajaran agama. Manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi—bukan penguasa yang eksploitatif, melainkan penjaga yang bertanggung jawab. Perlombaan HAB yang melibatkan aktivitas luar ruang, olahraga massal, atau kegiatan berbasis kebersihan dan kesehatan lingkungan sesungguhnya mengandung pesan ekologis yang kuat. Tubuh yang sehat, lingkungan yang bersih, dan alam yang terjaga adalah prasyarat bagi keberlangsungan ibadah dan kehidupan sosial.
Eko-teologi mengajarkan bahwa merusak lingkungan sama dengan mengkhianati amanah Tuhan. Oleh karena itu, penyelenggaraan perlombaan yang ramah lingkungan—minim sampah, hemat energi, dan berorientasi keberlanjutan—adalah wujud nyata dari teologi yang membumi. HAB Kemenag dapat menjadi pionir dalam mempromosikan kesadaran ekologis berbasis nilai agama, bukan sekadar wacana normatif.
Menjadikan Perlombaan sebagai Instrumen Pendidikan Nilai
Dari keempat perspektif tersebut, jelas bahwa perlombaan HAB Kemenag RI Tahun 2026 memiliki potensi besar sebagai instrumen pendidikan nilai. Tantangannya adalah bagaimana kegiatan ini tidak berhenti pada rutinitas tahunan, tetapi dirancang secara visioner dan reflektif. Perlombaan harus diposisikan sebagai bagian dari strategi kebudayaan Kemenag: membangun manusia Indonesia yang religius, humanis, inklusif, dan berwawasan ekologis. Dengan desain yang tepat, perlombaan dapat menjadi laboratorium sosial dan spiritual yang mendidik tanpa menggurui.
Penutup
Pada akhirnya, makna perlombaan dalam peringatan HAB Kemenag RI 2026 terletak pada kemampuannya menjembatani nilai agama dengan tantangan zaman. Ia bukan sekadar ajang menang dan kalah, tetapi ruang pembelajaran kolektif tentang bagaimana menjadi manusia beriman yang beradab, sosial yang solider, humanis yang berempati, dan ekologis yang bertanggung jawab. Jika dikelola dengan kesadaran nilai dan visi jangka panjang, perlombaan HAB tidak hanya merayakan masa lalu Kementerian Agama, tetapi juga menyiapkan masa depan peradaban Indonesia yang rukun, bermakna, dan berkelanjutan.





