Isra’ Mi’raj: Sholat sebagai Manifestasi Moral dan Kemaslahatan Sosial

Oleh: Dr. Abnan Pancasilawati, S.Ag., M.Ag.

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar mukjizat perjalanan malam Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Di balik dimensi spasiotemporal tersebut, ada sebuah “oleh-oleh” besar yang dibawa pulang untuk umat manusia: perintah sholat lima waktu. Namun, penting bagi kita untuk merefleksikan kembali: sejauh mana sholat kita telah berdampak pada kehidupan sosial?

Sholat: Instrumen Transformasi Karakter
Secara teologis, sholat adalah sarana komunikasi antara hamba dan Sang Pencipta. Namun secara sosiologis, sholat seharusnya menjadi mesin transformasi karakter. Sholat yang dilakukan dengan benar melibatkan kehadiran hati dan kesadaran penuh akan melahirkan pribadi yang memiliki integritas tinggi. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 45:
“…Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…”

Ayat di atas menunjukkan bahwa sholat memiliki fungsi “detoksifikasi” moral. Jika sholat dikerjakan dengan benar, maka secara otomatis ia akan menjadi benteng bagi pelakunya untuk tidak melakukan korupsi, menyebar fitnah, atau menzalimi orang lain.

Kepekaan Sosial sebagai Indikator Keberhasilan Sholat
Pribadi yang sholatnya benar tidak akan menjadi pribadi yang egois. Sholat mengajarkan kepekaan. Bayangkan dalam setiap sholat kita selalu membaca doa yang berbunyi “Assalamu’alaina wa ‘ala ‘ibadillahish-shalihiin” (Keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh). Ini adalah komitmen sosial untuk menyebarkan kedamaian. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah riwayat hadis:

“Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka sholatnya hanya akan menambah jauh dirinya dari Allah.” (HR. Ath-Thabrani).

Pesan ini sangat aktual di tengah krisis empati saat ini. Sholat yang benar harus melahirkan individu yang peka terhadap penderitaan sesama. Kesalihan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalihan sosial. Seorang Muslim yang sujudnya panjang namun menutup mata terhadap kemiskinan di sekitarnya, sesungguhnya sedang mengalami paradoks dalam ibadahnya.

Menghadirkan Kemaslahatan di Tengah Masyarakat
Tujuan akhir dari ibadah yang kita jemput dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah kemaslahatan publik. Masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang sholatnya benar akan membentuk ekosistem yang jujur, aman, dan saling menguatkan. Sebagaimana misi utama Rasulullah SAW yang tertuang dalam hadis:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Ahmad).
Sholat yang murni akan melunakkan hati. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sholat yang tidak mengubah perilaku, hanya akan menjauhkan kita dari-Nya (HR. Ath-Thabrani). Kesalehan sejati itu harusnya membumi, jujur di kantor, santun di rumah, dan peduli pada tetangga.
Sholat adalah alat untuk mencapai kesempurnaan akhlak tersebut. Ketika akhlak sudah mulia, maka kemaslahatan sosial bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang hadir di tengah-tengah kita. Mari jadikan sujud kita bukan sekadar penggugur kewajiban, tapi mesin penggerak akhlak mulia dan kemaslahatan sosial.

Kesimpulan
Mari kita jadikan momentum Isra’ Mi’raj tahun ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas sholat kita. Sholat bukan sekadar gerakan jasmani yang bersifat mekanis, melainkan energi spiritual yang harus memancar dalam bentuk perilaku santun, kejujuran, dan kepedulian nyata. Sholat yang “mi’raj” adalah sholat yang mampu membawa pelakunya naik level secara moral, sekaligus membumi secara sosial.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»