UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Gelar FGD Pengembangan Program Studi sebagai Langkah Menuju Integrasi Ilmu

UINSI NEWS, SAMARINDA — UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Program Studi sebagai langkah strategis dalam memperkuat arah kebijakan akademik dan merespons dinamika kebutuhan pendidikan tinggi di era transformasi digital, Kamis (26/2).

Kegiatan ini dibuka dengan sambutan Rektor UINSI, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., yang mengajak seluruh peserta memanjatkan rasa syukur atas terselenggaranya forum silaturahmi akademik tersebut. Menurutnya, FGD pengembangan prodi bukan sekadar agenda formal, tetapi ruang dialektika ilmiah untuk merumuskan masa depan institusi.

“Kami mengapresiasi spirit dan komitmen Bapak/Ibu yang hadir. Pengembangan program studi merupakan kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan,” ujarnya.

Rektor menegaskan bahwa rencana pembukaan program studi baru harus dirancang secara matang dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja serta perkembangan sains dan teknologi. Prodi-prodi baru diharapkan memiliki diferensiasi kompetensi lulusan yang jelas, sehingga mampu membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa di dunia kerja.

Beliau juga menyoroti percepatan transformasi digital yang menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan profesional. Karena itu, UINSI harus mampu menghadirkan program studi yang relevan dengan dinamika zaman, agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk melanjutkan studi di Samarinda.

Lebih jauh, Prof. Zurqoni menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia industri dan pemerintah. Kehadiran prodi baru diharapkan tidak hanya memperkuat aspek akademik, tetapi juga mendorong inovasi riset di bidang sains dan teknologi, serta membuka ruang kemitraan strategis yang memberi peluang kontribusi nyata bagi lulusan UINSI dalam pembangunan daerah dan nasional.

Pada sesi pemaparan materi, narasumber Faridudin Al-Ayuby, S.H., M.H., selaku Penelaah Teknis Kebijakan, memberikan pendampingan komprehensif terkait mekanisme pembukaan program studi baru sesuai regulasi yang berlaku di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pengajuan prodi tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi juga harus memperhatikan kelayakan substantif dan strategis.

“Perguruan tinggi harus mampu membuktikan urgensi akademik, relevansi kebutuhan pasar, serta kesiapan institusi dari sisi SDM, kurikulum, sarana-prasarana, dan tata kelola,” jelasnya.

Faridudin juga memaparkan secara teknis mekanisme evaluasi melalui aplikasi SIAGA (Sistem Informasi Evaluasi Perizinan Program Studi) pada laman siaga.kemenristekdikti.go.id.

Dalam sistem tersebut, evaluator akan menilai kelengkapan dokumen, rasionalitas pembukaan prodi, ketersediaan dosen tetap yang linier dengan bidang keilmuan, analisis kebutuhan berbasis data, hingga rencana keberlanjutan program.

Beberapa aspek yang menjadi perhatian utama evaluator antara lain kesesuaian kurikulum dengan KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi, ketersediaan dosen tetap berkualifikasi, dukungan fasilitas pembelajaran, serta rencana kemitraan dengan industri dan pemangku kepentingan.

Melalui sesi diskusi interaktif, peserta FGD memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai pola penilaian evaluator serta strategi penyusunan dokumen yang sistematis, argumentatif, dan berbasis bukti. Pendampingan ini diharapkan memperkuat kesiapan UINSI dalam mengajukan dan mengembangkan program studi unggulan yang adaptif, relevan, dan berdaya saing tinggi.

Penulis : Novan Halim
Editor : Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»