Talk Show Kajian Motivasi Berkah Ramadhan 1447 H: Ustadzah Rumainur Ajak Mahasantri Tingkatkan Self Protection Awareness
SAMARINDA, UINSI NEWS — Dalam rangka memotivasi mahasantri, Masjid Sultan Aji Muhammad (SAM) Sulaiman UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda melalui program Berkah Ramadhan 1447 H menyelenggarakan Talk Show Kajian Motivasi yang digelar rutin setiap Sabtu selama bulan Ramadhan.
Kegiatan yang berlangsung di Masjid SAM Sulaiman tersebut menjadi bagian dari pembinaan spiritual dan karakter bagi mahasantri serta masyarakat umum.
Kali ini, Ustadzah Rumainur, M.Pd.I., Kepala PSGAD UINSI Samarinda, menyampaikan materi bertajuk “Self Protection Awareness: Meningkatkan Kesadaran Diri dari Kekerasan Seksual” pada Sabtu (28/2).
Dalam pemaparannya, ia mengimbau seluruh mahasantri untuk senantiasa menjaga diri dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual. Ia menegaskan bahwa berbagai riset menunjukkan tindak kekerasan kerap terjadi dari orang-orang terdekat, sehingga kewaspadaan harus dimulai dari lingkungan keluarga maupun pergaulan.
“Tubuh adalah amanah dari Allah SWT yang wajib kita jaga. Itu bukan sekadar milik pribadi, tetapi tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Isra ayat 70, Allah memuliakan anak cucu Adam. Kemuliaan tersebut harus dijaga dengan menjaga kehormatan dan batasan diri. Ia juga menegaskan bahwa pada hari akhir, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan manusia semasa hidupnya.
Rumainur turut menjelaskan lima hak dasar dalam Islam (maqashid syariah), yakni menjaga agama (hifdzuddin), menjaga jiwa (hifdzun nafs), menjaga akal (hifdzul ‘aql), menjaga kehormatan dan nasab (hifdzun nasl), serta menjaga harta (hifdzul maal). Dalam konteks pelecehan seksual, menjaga kehormatan dan jiwa menjadi prinsip utama.
Ia menekankan bahwa dalam kasus pelecehan tidak ada unsur pembenaran. Diam bukan berarti ridha, dan tidak melawan bukan berarti setuju. Banyak korban memilih diam karena rasa takut, bukan karena keikhlasan. Oleh sebab itu, segala bentuk tindakan asusila tetaplah pelanggaran dan akan mendapatkan sanksi.
Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali serta ketegasan Sayyidah Nafisah binti Al-Hasan, ia menyampaikan pentingnya memiliki “waktu terlarang” atau privasi. Hal ini juga selaras dengan Surah An-Nur ayat 59 tentang tiga waktu privasi, yakni setelah Isya, sebelum Subuh, dan saat istirahat siang.
Selain itu, mahasantri diajak untuk mengenali insting diri dan berani mengatakan “tidak” pada hal yang melanggar batas pribadi, serta mewaspadai praktik manipulasi seperti grooming. Ia juga mengingatkan agar kedekatan dan keakraban tidak menjadi celah munculnya perilaku yang tidak pantas.
Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan bahwa siapa yang terbunuh karena membela kehormatan keluarganya, maka ia termasuk syahid. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Rumainur juga menekankan pentingnya kepedulian sosial. Ia mengingatkan agar tidak menghakimi korban, tidak menyalahkan korban (victim blaming), serta tidak memberi stigma yang dapat memperdalam trauma psikologis. Dukungan sosial yang baik sangat berpengaruh dalam proses pemulihan korban.
“Self protection adalah pagar untuk menjaga diri dari perbuatan pelecehan seksual. Mari kita jaga amanah tubuh ini,” tegasnya.
Ia menutup kajian dengan pesan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang 30 hari, tetapi momentum pembentukan karakter untuk sebelas bulan berikutnya agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Kegiatan Talk Show Kajian Motivasi Ramadhan ini menjadi bagian dari komitmen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda dalam memperkuat pembinaan mahasantri menuju insan yang bersih, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
Penulis : Puji Wulandari
Editor. : Nisa Rahmawati











