SAMARINDA, UINSI NEWS — Suasana wisuda Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda tak hanya diisi rasa bangga, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang para mahasiswa hingga sampai di titik kelulusan.
Mewakili wisudawan, Latif menyampaikan kesan dan pesan yang menggambarkan beragam cerita di balik toga yang dikenakan hari itu. Ia menegaskan bahwa setiap wisudawan memiliki perjalanan yang berbeda, namun bertemu pada satu titik yang sama: menyelesaikan studi.
“Hari ini saya berdiri di sini bukan karena lebih istimewa, tetapi karena kita semua pernah berada di titik yang sama,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa proses menuju wisuda tidaklah seragam. Ada yang merantau jauh dari keluarga, ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, hingga mereka yang menjalani semuanya dalam diam.
Dalam penyampaiannya, Latif juga membagikan bagian personal dari perjalanannya. Ia menyebut bahwa hari wisuda yang seharusnya menjadi momen berbagi kebahagiaan bersama orang tua, harus ia jalani tanpa kehadiran keduanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa doa dan kenangan orang tua tetap menjadi kekuatan dalam menyelesaikan studinya hingga titik akhir.
Ia pun mengajak seluruh wisudawan untuk sejenak mengingat peran orang tua dalam perjalanan mereka, serta menyampaikan rasa terima kasih atas doa dan dukungan yang telah diberikan.
Selain itu, apresiasi juga disampaikan kepada dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas akademika yang telah membersamai proses belajar mahasiswa selama di kampus. Di akhir pesannya, Latif menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih luas.
“Perjalanan kita tidak sama, tapi kita berhasil sampai di titik ini bersama. Wisuda ini bukan akhir, melainkan awal,” pesannya.
Ia mengajak seluruh lulusan untuk melangkah dengan rendah hati, membawa ilmu, serta menjaga nilai dan integritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis: Nisa Rahmawati




