PALU, UINSI NEWS, — Panggung Talkshow Inspiring Leader dalam rangka Dies Natalis ke-59 UIN Datokarama Palu dipenuhi dengan gagasan segar. Di antara deretan rektor PTKIN yang hadir, sosok Rektor UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., mencuri perhatian lewat paparan taktisnya mengenai wajah kepemimpinan kampus masa kini. Senin, (4/5).
Tidak sekadar berteori, Prof. Zurqoni membedah dinamika manajemen perguruan tinggi yang kian kompleks. Menurutnya, menjadi pemimpin di lingkungan akademis bukan soal “perintah dan kepatuhan”, melainkan seni meramu berbagai gaya kepemimpinan.
Dalam sesi yang berlangsung komunikatif tersebut, Prof. Zurqoni menekankan bahwa pimpinan di setiap lini harus khatam mengenai ekses dari gaya kepemimpinan yang dipilih.
“Pemimpin harus paham kapan harus menjadi transformasional yang visioner, kapan bersikap transaksional secara profesional, dan kapan harus lihai menempatkan diri dalam kepemimpinan situasional,” urainya di hadapan peserta talkshow.
Beliau mengingatkan bahwa salah membaca situasi bisa berdampak pada efektivitas birokrasi kampus. Baginya, ketajaman insting seorang leader dalam mendiagnosis masalah adalah kunci utama agar organisasi tetap lincah di tengah perubahan zaman.
Poin menarik lainnya yang menjadi sorotan adalah konsep sense of belonging. Prof. Zurqoni menegaskan bahwa kualitas dan prestasi sebuah perguruan tinggi tidak bisa dipikul oleh rektor sendirian.
Pertama terkait Sense of Belonging beliau menegaskan bagaimana Menumbuhkan rasa memiliki di seluruh unsur mulai dari dosen, staf, hingga mahasiswa adalah bahan bakar utama untuk mencapai akreditasi unggul dan prestasi internasional.
Dilanjutkan dengan pemahaman Kolektif Kolegial beliau menekankan untuk Menghindari gaya kepemimpinan “one-man show”. Beliau mendorong penguatan pengambilan keputusan berbasis kebersamaan agar kebijakan yang lahir memiliki legitimasi kuat dan minim resistensi.
Kehadiran orang nomor satu di UINSI Samarinda ini dipandang sebagai bentuk kolaborasi nyata antar-PTKIN. Selain berbagi perspektif tentang tata kelola organisasi, momentum ini juga menjadi ajang penguatan jejaring intelektual di wilayah Timur Indonesia.
“Suatu kehormatan bagi kami bisa hadir dan berbagi di UIN Datokarama Palu. Semangat Dies Natalis ke-59 ini harus menjadi pelecut bagi kita semua untuk terus bertransformasi,” tutupnya dengan nada optimistis.
Paparan Prof. Zurqoni ini seolah memberikan “suplemen” baru bagi para pengelola perguruan tinggi yang hadir, bahwa memimpin kampus bukan sekadar menjaga tradisi, tapi juga tentang mengelola inovasi dan hati.
Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati




