SAMARINDA, UINSI NEWS,-Membangun generasi Qurani tidak cukup hanya dengan membiasakan anak muda membaca Al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.
Pesan tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Pengembangan Kurikulum Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Ag., dalam Pengajian Umum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.
Pengajian tersebut berlangsung di Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman UINSI Samarinda, Kamis (27/8/2026), bertepatan dengan 15 Rabi’ul Awwal 1448 H.
Dalam materi bertajuk “Membangun Generasi Qurani dengan Meneladani Akhlak Nabi”, Prof. Muhammad Nasir menguraikan sejumlah keteladanan Rasulullah SAW yang relevan diterapkan dalam kehidupan umat Islam, baik dalam aspek spiritual, kepemimpinan, sosial, ekonomi, maupun keluarga.
Menurut dia, keteladanan Rasulullah dalam aspek keagamaan tercermin dari ketaatan beribadah, keikhlasan dalam berdakwah dan beramal, serta sikap zuhud dan qanaah. Ibadah tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
“Menjadikan ibadah sebagai wujud syukur, bukan beban,” menjadi salah satu penekanan dalam materi tersebut. Keteladanan itu antara lain digambarkan melalui kesungguhan Rasulullah dalam menjalankan salat malam.
Prof. Muhammad Nasir juga menyoroti kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah, kata dia, memberikan contoh tentang pentingnya keadilan sosial, musyawarah, dan keberanian.
Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu. Dalam pengambilan keputusan penting, Rasulullah juga mendengarkan masukan para sahabat melalui mekanisme musyawarah.
Sementara dalam situasi genting atau peperangan, Rasulullah berada di barisan terdepan untuk melindungi umatnya. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk menjadi inspirasi dalam membangun kepemimpinan yang adil, terbuka, dan bertanggung jawab.
Keteladanan Rasulullah juga terlihat dalam hubungan sosial dan kemanusiaan. Kasih sayang, sikap pemaaf, kelapangan dada, serta menjaga silaturahmi menjadi bagian penting dari akhlak Nabi.
Kasih sayang tersebut tidak hanya ditujukan kepada kelompok tertentu, tetapi juga kepada anak yatim, kaum dhuafa, bahkan makhluk hidup lainnya. Rasulullah juga dicontohkan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tetap menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Dalam bidang ekonomi, Prof. Muhammad Nasir mengangkat sosok Rasulullah sebagai teladan dalam membangun kemandirian dan etika perdagangan.
Kejujuran menjadi prinsip utama. Rasulullah dikenal sebagai Al-Amin dan tidak melakukan kecurangan dalam perdagangan, termasuk mengurangi takaran maupun menyembunyikan kondisi barang yang diperjualbelikan.
Selain itu, Rasulullah telah bekerja sejak muda sebagai penggembala kambing dan pedagang. Hal tersebut menunjukkan pentingnya kerja keras dan kemandirian ekonomi.
Prinsip perdagangan yang berkeadilan serta menjauhi riba, kecurangan, dan eksploitasi juga menjadi bagian dari keteladanan yang disampaikan dalam pengajian tersebut.
Dalam lingkungan keluarga, Rasulullah juga digambarkan sebagai sosok suami dan ayah yang penuh kasih. Beliau membantu pekerjaan rumah tangga, memperlakukan istri dengan kelembutan, serta mendidik anak-anak dengan landasan agama, cinta, dan ketegasan yang bijaksana.
Lebih lanjut, Prof. Muhammad Nasir menjelaskan bahwa generasi Qurani memiliki sejumlah karakter utama.
Pertama, memiliki tauhid yang kokoh. Kedua, gemar membaca Al-Qur’an secara konsisten dan tartil. Ketiga, tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berusaha memahami makna dan kandungan ayat melalui tadabur.
Keempat, menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai standar moral dalam kehidupan. Kelima, memiliki akhlak mulia seperti jujur, amanah, sopan, pemaaf, dan rendah hati.
Generasi Qurani, lanjut dia, juga harus memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan semangat literasi yang tinggi. Pengetahuan tersebut diharapkan digunakan untuk kemaslahatan umat.
Selain itu, generasi Qurani ditandai dengan kepedulian sosial melalui amar makruf nahi mungkar dan kebiasaan membantu sesama. Mereka juga dituntut menjaga pandangan dan kehormatan diri dari pergaulan serta hal-hal yang dilarang agama.
Peringatan Maulid Nabi di lingkungan UINSI Samarinda tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, Maulid menjadi ruang refleksi untuk menerjemahkan keteladanan Rasulullah ke dalam pembentukan karakter generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.
Pengajian umum tersebut disampaikan Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Ag., yang juga menjabat Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UINSI Samarinda.#








