UINSI NEWS – Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda terus memperkuat langkah menuju kampus berdaya saing global melalui penyelenggaraan kuliah umum bertajuk Tata Kelola Perguruan Tinggi Menuju Universitas Kompetitif di Era Global, Sabtu (27/4) di Aula Lantai III Rektorat UINSI.
Kuliah umum ini menghadirkan Farid F. Saenong, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, yang membagikan perspektif strategis terkait penguatan tata kelola Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Pada kesempatan itu, Farid menyampaikan pemikiran Mark Woodward bahwa PTKIN merupakan salah satu institusi yang memiliki peran besar dalam menjaga Islam di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa PTKIN memiliki rekam jejak serta sistem yang baik dalam menjalankan perannya.
Dalam paparannya, Farid juga merujuk pada pernyataan Menteri Agama yang menegaskan bahwa institusi perguruan tinggi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga akademik, tetapi juga berperan sebagai kiai, dai, mubalig, dan pendakwah. Menurutnya, yang membedakan PTKIN dari perguruan tinggi lainnya adalah keterlibatan aktif dalam aktivitas dakwah yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lain.
Dalam upaya mewujudkan perguruan tinggi berkelas dunia (world class university), beliau menegaskan bahwa terdapat enam elemen atau pilar penting yang harus diperkuat, yakni academic reputation, strong research, qualified faculty, international networks, digital ecosystem, dan societal impact. Keenam pilar tersebut menjadi fondasi utama agar PTKIN mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislaman dan peran sosialnya.
”Hambatan menjalankan elemen di negara berkembang, yaitu mentalitas, yang perlu di kembangkan,” pungkasnya.
Farid menjelaskan bahwa dosen di lingkungan perguruan tinggi global umumnya memiliki budaya kerja dimana kinerja menjadi indikator utama dalam pengembangan karier. Beliau juga menyebut mobilitas antarperguruan tinggi sebagai hal yang lazim, yang dapat memperkaya pengalaman, memperluas jejaring, serta meningkatkan produktivitas akademisi. Dalam ekosistem tersebut, para dosen juga aktif berkompetisi secara sehat untuk memperoleh dana riset (research grant), yang berkontribusi pada penguatan kualitas riset institusi dan mendorong kemajuan perguruan tinggi secara kolektif.
Farid juga menyoroti pentingnya pengelolaan jurnal ilmiah secara profesional sebagai bagian dari pembangunan reputasi akademik (academic reputation). Beliau mengingatkan bahwa standar akademik PTKIN harus dibangun melalui kualitas, integritas, dan kontribusi keilmuan, bukan sekadar mengejar publikasi instan atau terjebak dalam praktik jurnal predator. Reputasi kampus harus lahir dari kualitas riset, tata kelola digital yang kuat (digital ecosystem), dan dampak nyata bagi masyarakat (societal impact).
Salah satu poin yang juga disoroti adalah pentingnya pola pikir out of the box dalam pengembangan kebijakan. Farid mencontohkan transformasi kebijakan LPDP yang kini lebih adaptif terhadap kebutuhan pendidikan nasional melalui advokasi dan penyesuaian regulasi. Beliau menegaskan bahwa inovasi kebijakan dapat dilakukan secara tepat dengan tetap berlandaskan pada ketentuan yang berlaku.
Penulis : Nadia Zoraya | Editor : Nisa Rahmawati






