Dr. Riswadi dalam Orasi Ilmiah Wisuda STIT Ibnu Rusd: AI Adalah Alat, Nilai Moral Ditentukan Manusia

TANAH GROGOT, UINSI NEWS— Kepala Pusat Pengembangan Kreatifitas, Bakat dan Prestasi Mahasiswa sekaligus Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Dr. Riswadi, M.Pd., menyampaikan Orasi Ilmiah pada Wisuda Sarjana Angkatan XXI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ibnu Rusd Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Rabu, (8/8).

Kegiatan yang berlangsung di Tanah Grogot tersebut mengusung tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Artificial Intelligence”.

Dalam orasinya, Dr. Riswadi menyoroti dinamika pesat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mulai merambah dunia pendidikan dan keilmuan. Beliau menegaskan bahwa keberadaan AI tidak harus dipandang sebagai ancaman atau musuh bagi Pendidikan Islam, melainkan sebagai alat (tool) yang bersifat netral.

“Teknologi pada dirinya bersifat netral. Yang menentukan nilai moralnya adalah manusia yang menggunakannya. Artificial Intelligence bukanlah musuh Pendidikan Islam, ia hanyalah alat,” tegas Dr. Riswadi dalam naskah orasinya.

Lebih lanjut, beliau menguraikan lima tantangan utama yang dihadapi Pendidikan Islam di era digital saat ini:

1. Krisis Otentisitas Ilmu: Kemudahan AI menghasilkan karya ilmiah dalam hitungan detik berpotensi mengikis proses dan adab dalam menuntut ilmu.

2. Krisis Akhlak di Tengah Kemajuan Teknologi: Meningkatnya ujaran kebencian, hoaks, dan manipulasi informasi menunjukkan pentingnya kedewasaan moral.

3. Perubahan Peran Guru dan Dosen: Pendidik tidak lagi sekadar menjadi sumber informasi, melainkan penunjuk arah moral, pembimbing karakter, dan penanam nilai-nilai keimanan.

4. Kesenjangan Kompetensi Lulusan: Lulusan Pendidikan Agama Islam (PAI) maupun Tadris Bahasa Inggris (TBI) dituntut untuk menguasai literasi digital, pemikiran kritis, adaptabilitas, serta menjadi pembimbing berkarakter.

5. Tantangan Menjaga Identitas Keislaman: Pentingnya menerapkan prinsip tabayyun dalam menyaring arus informasi di era globalisasi digital.

Mengakhiri orasinya, Dr. Riswadi mengingatkan para wisudawan bahwa nilai sejati seorang sarjana tidak sekadar diukur dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau lembar ijazah, melainkan dari kejujuran, integritas, serta kemampuannya untuk menjadi manusia yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat (khairunnas anfahum linnas).

“Mesin mungkin mampu menerjemahkan kata dan menghafal jutaan kitab dalam hitungan detik, namun tidak akan pernah ada mesin yang mampu menggantikan hati yang ikhlas mendidik, tangan yang tulus membimbing, serta doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam,” pungkasnya.

Penulis : Novan Halim | Penulis : Selvi Ramadhani

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»