SAMARINDA, UINSINEWS,- Membentuk generasi Qur’ani tidak cukup dengan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam perilaku, tutur kata, dan kehidupan sehari-hari. Pesan inilah yang menjadi inti Kajian Rutin Tafsir Al-Qur’an Tematik Sabtu Ba’da Subuh di Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS), Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda.
Memasuki pertemuan kelima, Sabtu (3/10/2028), kajian yang terbuka untuk umum tersebut menghadirkan Al Ustadz H. Muhammad Solekhin, M.Pd., Kepala Pusat Pembinaan Akhlaqul Karimah LP2M UINSI Samarinda. Kajian diawali dengan Tadarus Jama’i Khatam 30 Juz, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tafsir tematik yang mengangkat tema “Akhlaknya Nabi adalah Al-Qur’an.”
Dalam pemaparannya, Muhammad Solekhin menjelaskan bahwa ungkapan “Akhlaknya Nabi adalah Al-Qur’an” bukan sekadar pujian kepada Rasulullah SAW, melainkan gambaran tentang bagaimana nilai-nilai wahyu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan manusia.
Ia merujuk pada jawaban Sayyidah Aisyah RA ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Kāna khuluquhul Qur’ān”, yang berarti akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Riwayat yang tercantum dalam Sahih Muslim tersebut, menurutnya, menjadi landasan penting untuk memahami hubungan antara ajaran Al-Qur’an dan keteladanan Nabi.
“Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dipahami, tetapi juga harus dihidupkan dalam perilaku. Rasulullah SAW adalah teladan nyata bagaimana ajaran Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan,” menjadi inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Ia menjelaskan bahwa keteladanan Rasulullah SAW dapat dipahami melalui tiga perspektif. Pertama, Nabi Muhammad SAW merupakan gambaran Al-Qur’an yang hidup. Nilai kesabaran, pemaafan, kejujuran, amanah, dan kelembutan tidak berhenti sebagai ajaran normatif, tetapi tercermin dalam tindakan beliau, termasuk ketika menghadapi berbagai ujian dan perlakuan buruk.
Kedua, seluruh perintah dan larangan Al-Qur’an menjadi pedoman nyata dalam kehidupan Rasulullah SAW. Ketekunan beliau dalam beribadah, kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, serta kemampuan mengendalikan amarah menunjukkan bahwa kemuliaan akhlak berkaitan erat dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Ketiga, keteladanan Nabi menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengandung ketentuan hukum, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur seperti kasih sayang, kebijaksanaan, ketulusan, dan ketakwaan. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Qalam ayat 4:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Ayat tersebut menegaskan kedudukan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam membangun karakter dan akhlak mulia.
Dalam konteks pembinaan mahasantri, kajian ini menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pembentukan karakter. Kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an perlu berjalan beriringan dengan kesungguhan mengamalkan ajarannya.
Setidaknya terdapat tiga dimensi yang menjadi indikator penghayatan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menjaga lisan dengan membiasakan kejujuran, menghindari ghibah, serta menggunakan tutur kata yang baik. Kedua, membersihkan hati dari sifat iri, dendam, dan kebencian, sekaligus membangun sikap mudah memaafkan. Ketiga, menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam hubungan sosial melalui sikap amanah, menepati janji, berlaku jujur, dan menjaga persaudaraan.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa dan mahasantri yang tengah mempersiapkan diri sebagai generasi terdidik sekaligus calon pemimpin masyarakat. Pendidikan keislaman, menurut substansi kajian ini, tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan agama, tetapi harus melahirkan pribadi yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.
Karena itu, tradisi Tadarus Jama’i Khatam 30 Juz yang dilaksanakan setiap Sabtu bukan semata-mata mengejar penyelesaian bacaan Al-Qur’an. Tradisi tersebut juga diharapkan menjadi sarana menumbuhkan kedekatan spiritual dan membangun kesadaran untuk mengamalkan kandungan wahyu.
“Jangan hanya belajar isi Al-Qur’an, tetapi jadilah isi Al-Qur’an itu berjalan di kampus UINSI,” menjadi pesan reflektif yang menggarisbawahi tujuan pembinaan generasi Qur’ani di lingkungan kampus.
Kajian Tafsir Al-Qur’an Tematik Sabtu Ba’da Subuh merupakan bagian dari upaya menghidupkan masjid kampus sebagai pusat ibadah, pembelajaran, dan pembinaan karakter. Kegiatan ini diwajibkan bagi mahasantri putra dan putri Asrama Ma’had Al Jami’ah UINSI Samarinda serta terbuka bagi mahasiswa nonasrama, warga kampus, dan masyarakat umum.
Melalui kegiatan rutin tersebut, Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga ruang bertumbuhnya tradisi keilmuan Islam yang membentuk karakter dan memperkuat kehidupan spiritual sivitas akademika.
Mudir Ma’had Al Jami’ah bersama Ketua Takmir Masjid SAMS UINSI Samarinda mengajak seluruh mahasiswa, warga kampus, dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kajian tersebut.
Semangat yang diusung sederhana, tetapi mendasar: memakmurkan masjid, memperkuat tradisi thalabul ‘ilmi, dan bersama-sama membangun generasi Qur’ani yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu menghadirkan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.#






