Isro’ Mi’roj di Tengah Disrupsi Zaman: Saat Manusia Modern Kehilangan Arah Langit

Oleh: Gianto, S.Pd., S.IPI., M.Pd.I. (Kepala UPT. Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) UINSI Samarinda)

Peristiwa Isro’ Mi’roj sering kali diposisikan sebagai narasi sakral yang berhenti pada wilayah ritual dan peringatan seremonial. Di banyak ruang publik, termasuk institusi pendidikan, Isro’ Mi’roj diperingati dengan pengulangan kisah mukjizat tanpa upaya serius untuk membacanya sebagai kritik atas kondisi zaman. Padahal, jika diletakkan dalam kerangka refleksi sosial dan akademik, Isro’ Mi’roj justru menawarkan perlawanan simbolik terhadap krisis orientasi yang tengah dialami manusia modern.

Disrupsi zaman yang ditandai oleh percepatan teknologi, digitalisasi kehidupan, dan rasionalisasi ekstrem telah mengubah cara manusia memahami diri, ilmu pengetahuan, dan tujuan hidup. Segala sesuatu diukur berdasarkan efisiensi, produktivitas, dan manfaat instan. Nilai-nilai transendental perlahan terpinggirkan, dianggap tidak relevan dalam logika kemajuan. Dalam situasi ini, manusia modern tampak semakin maju secara teknologis, tetapi semakin rapuh secara eksistensial. Inilah titik di mana manusia mulai kehilangan “arah langit”.

Kampus, sebagai ruang produksi pengetahuan, tidak sepenuhnya kebal dari logika disrupsi ini. Pendidikan tinggi hari ini cenderung terjebak dalam orientasi pasar: indeks kinerja, akreditasi, sitasi, dan luaran kuantitatif menjadi ukuran utama keberhasilan akademik. Ilmu pengetahuan direduksi menjadi komoditas, bukan jalan pencarian kebenaran. Mahasiswa didorong menjadi “tenaga siap pakai”, bukan manusia reflektif. Dalam kondisi demikian, pertanyaan mendasar tentang makna ilmu, etika keilmuan, dan tanggung jawab moral intelektual sering kali terabaikan.

Isro’ Mi’roj menghadirkan antitesis atas kecenderungan tersebut. Perjalanan Nabi Muhammad SAW., dalam peristiwa ini tidak hanya bersifat vertikal, tetapi juga historis dan sosial. Isro’, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, merupakan simbol keterhubungan manusia dengan ruang, sejarah, dan peradaban. Sementara Mi’roj, kenaikan ke langit, menegaskan bahwa manusia tidak cukup hanya bergerak secara horizontal dalam dunia material, tetapi juga harus memiliki orientasi vertikal yang melampaui kepentingan duniawi.

Puncak Mi’roj bukanlah spektakel spiritual, melainkan penegasan kewajiban shalat. Dalam perspektif kritis, shalat dapat dibaca sebagai praktik pembebasan dari tirani waktu, produktivitas, dan ego modern. Shalat memaksa manusia berhenti, tunduk, dan merefleksikan diri sebuah tindakan yang bertentangan dengan etos modern yang menuntut kecepatan, dominasi, dan pencapaian tanpa henti. Dengan demikian, shalat bukan sekadar ritual privat, melainkan kritik diam terhadap peradaban yang kehilangan kesadaran transendental.

Fenomena “kehilangan arah langit” terlihat jelas dalam krisis makna yang melanda generasi modern. Tingginya tingkat stres akademik, kecemasan eksistensial, dan keterasingan sosial menunjukkan bahwa kemajuan ilmu dan teknologi tidak otomatis melahirkan kebahagiaan dan kebijaksanaan. Manusia semakin cerdas, tetapi tidak selalu semakin bijak. Semakin terhubung secara digital, tetapi semakin terasing secara sosial dan spiritual.

Di sinilah Isro’ Mi’roj menjadi relevan sebagai kritik terhadap modernitas yang reduksionis. Modernitas sering memisahkan secara tajam antara ilmu dan nilai, antara rasionalitas dan spiritualitas. Akibatnya, ilmu pengetahuan kehilangan kompas etisnya. Ketika langit disingkirkan dari horizon berpikir manusia, bumi pun kehilangan keseimbangannya. Kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan krisis kemanusiaan adalah konsekuensi dari peradaban yang maju tanpa arah transenden.

Bagi komunitas akademik, Isro’ Mi’roj seharusnya dibaca sebagai seruan untuk merekonstruksi paradigma keilmuan. Ilmu tidak boleh berhenti pada fungsi instrumental, tetapi harus diarahkan pada pembebasan dan pemuliaan manusia. Kampus idealnya menjadi ruang dialog antara akal dan nurani, antara sains dan etika, antara rasionalitas kritis dan kesadaran spiritual. Tanpa integrasi ini, pendidikan tinggi berisiko melahirkan generasi yang kompeten secara teknis, tetapi miskin orientasi moral.

Peringatan Isro’ Mi’roj di lingkungan kampus, dengan demikian, tidak cukup dimaknai sebagai agenda keagamaan simbolik. Ia harus menjadi momentum intelektual untuk mempertanyakan ulang arah pendidikan, tujuan keilmuan, dan peran akademisi dalam membentuk peradaban. Apakah kampus hanya akan menjadi mesin produksi tenaga kerja, atau tetap menjadi mercusuar nilai dan nurani publik.

Pada akhirnya, Isro’ Mi’roj mengajarkan bahwa kemajuan sejati mensyaratkan keberanian untuk menatap langit di tengah kesibukan mengelola bumi. Disrupsi zaman adalah keniscayaan, tetapi kehilangan arah bukanlah takdir. Selama manusia, termasuk komunitas akademik masih bersedia menjaga keterhubungan antara ilmu, etika, dan spiritualitas, peradaban tidak akan berjalan dalam kegelapan makna. Isro’ Mi’roj, dalam hal ini, bukan kisah masa lalu, melainkan kritik tajam dan relevan bagi masa depan manusia modern.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»