Dr. Akhmad Nur Zaroni, M.Ag
Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia adalah momentum spiritual yang menghadirkan ruang kontemplasi terdalam bagi setiap Muslim untuk menata ulang orientasi hidupnya. Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, penuh distraksi digital, dan budaya konsumtif yang kian menguat, Ramadhan hadir sebagai medan jihad paling mendasar, yaitu jihad melawan diri sendiri. Jihad bukan dalam arti peperangan fisik, melainkan perjuangan batin untuk menundukkan hawa nafsu, mengendalikan ego, dan mengarahkan seluruh potensi diri kepada ketaatan kepada Allah SWT.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukanlah sekadar status spiritual, melainkan kualitas kesadaran yang membuat seseorang selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap tindakan. Kesadaran ini hanya mungkin tumbuh ketika manusia mampu mengendalikan dorongan internalnya. Puasa menjadi instrumen pendidikan karakter yang sangat efektif karena ia menyentuh aspek paling mendasar dalam diri manusia, yakni kebutuhan biologis dan dorongan emosional. Seseorang yang mampu menahan makan dan minum padahal ia mampu melakukannya, sejatinya sedang melatih kekuatan pengendalian diri yang sangat fundamental.
Al-Qur’an juga mengingatkan dalam QS. Yusuf ayat 53 bahwa nafsu cenderung mendorong manusia kepada keburukan. Ayat ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar manusia bukanlah dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Hawa nafsu yang tidak terkontrol dapat menjelma menjadi keserakahan, amarah, iri hati, dan ambisi yang berlebihan. Dalam konteks psikologi modern, kemampuan menunda kepuasan atau delay of gratification diakui sebagai salah satu indikator kedewasaan emosional dan keberhasilan jangka panjang. Puasa secara nyata melatih kemampuan tersebut. Setiap hari selama Ramadhan, seorang Muslim belajar menunda kepuasan biologisnya demi ketaatan spiritual. Latihan berulang selama sebulan penuh ini seharusnya membentuk pola pengendalian diri yang berkelanjutan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah perisai (Junnah). Perisai dari apa? Perisai dari perilaku destruktif yang lahir dari hawa nafsu. Ketika seseorang berpuasa, ia tidak hanya diminta menahan lapar, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan sikapnya. Ia diminta untuk tidak berkata kasar, tidak mudah marah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Dalam hadis lain disebutkan bahwa orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan yang mampu menahan dirinya ketika marah. Inilah makna jihad dalam Ramadhan, yaitu kemampuan mengalahkan dorongan spontan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dalam konteks sosial, Ramadhan juga mengandung dimensi empati yang sangat kuat. Ketika seorang Muslim merasakan lapar, ia sedang diingatkan akan realitas kehidupan kaum dhuafa yang mungkin merasakan hal tersebut setiap hari. Dari kesadaran ini lahir solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Jihad melawan diri sendiri berarti juga melawan sifat kikir dan individualisme. Di tengah sistem ekonomi global yang sering kali mendorong akumulasi kekayaan tanpa batas, Ramadhan justru mengajarkan distribusi dan kepedulian. Ia menegaskan bahwa harta bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab moral.
Namun ironi sering kali muncul ketika Ramadhan justru berubah menjadi bulan konsumsi berlebihan. Pusat perbelanjaan ramai, pengeluaran meningkat, dan pola hidup sederhana yang seharusnya menjadi ruh puasa justru terpinggirkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa jihad melawan diri sendiri tidak selalu mudah. Tantangan modernitas, iklan digital, media sosial, dan budaya instan, memperkuat impulsivitas manusia. Ramadhan hadir sebagai koreksi terhadap kecenderungan tersebut. Disiplin waktu sahur dan berbuka, pembatasan konsumsi, serta intensifikasi ibadah menjadi sarana untuk menata ulang ritme hidup agar lebih terarah dan terkendali.
Lebih jauh lagi, jihad melawan diri sendiri dalam Ramadhan memiliki implikasi luas dalam kehidupan profesional dan sosial. Seorang pemimpin yang terbiasa menahan ambisi pribadi demi kepentingan bersama akan lebih adil dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik yang mampu mengendalikan emosi akan lebih bijaksana dalam membimbing peserta didik. Seorang pelaku usaha yang mampu menahan keserakahan akan lebih menjunjung tinggi etika dan kejujuran. Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga membangun fondasi moral bagi tatanan sosial yang lebih berkeadilan.
Allah berfirman dalam QS. An-Nazi’at ayat 40–41 bahwa orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya akan memperoleh surga sebagai tempat tinggalnya. Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan spiritual sangat terkait dengan kemampuan pengendalian diri. Surga bukan hanya balasan atas ibadah ritual, tetapi hasil dari perjuangan batin yang konsisten. Ramadhan adalah arena latihan intensif untuk mencapai derajat tersebut. Ia adalah laboratorium spiritual yang menguji sejauh mana manusia mampu menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kemenangan Ramadhan bukanlah terletak pada kemewahan berbuka atau banyaknya hidangan di meja makan. Kemenangan sejati adalah perubahan karakter yang menetap setelah bulan suci berlalu. Jika setelah Ramadhan seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih sederhana dalam gaya hidupnya, maka ia telah memenangkan jihad terbesar dalam hidupnya. Ramadhan mengajarkan bahwa musuh terberat bukanlah yang berada di luar, melainkan dorongan ego yang bersemayam dalam diri. Ketika seseorang mampu menundukkan hawa nafsunya dan menempatkan iman sebagai pemimpin hidupnya, di situlah ia meraih kemenangan hakiki.
Dengan demikian, Ramadhan adalah medan jihad yang paling autentik dan relevan sepanjang zaman. Ia menjawab kebutuhan manusia modern yang sering kehilangan arah di tengah kebisingan dunia. Melalui puasa, manusia diajak kembali kepada pusat kesadarannya, menata ulang prioritas, dan memperkuat integritas moralnya. Jika medan ini dilalui dengan kesungguhan, Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi menjadi titik balik transformasi diri menuju pribadi yang lebih matang, berakhlak, dan bertakwa (Wallahu a’lam bishawab).



