Optimalisasi Ibadah di Bulan Suci Ramadan : Prof. Dr. Khojir, M.S.I. Soroti Tantangan Era Digital dan Urgensi Pelurusan Niat

SAMARINDA, UINSI NEWS — Dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di Bulan Suci Ramadan, Prof. Dr. Khojir, M.S.I., menyampaikan tausiyah pada kajian Dzuhur Berkah Ramadan di Masjid SAMS Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Dalam pemaparannya, beliau menyoroti tantangan ibadah umat Islam di era digital yang kian kompleks, terutama terkait penggunaan media sosial dan gawai yang seringkali mengganggu kekhusyukan.

Menurutnya, tantangan terberat ibadah dewasa ini bukan semata persoalan fisik atau waktu, melainkan distraksi digital. Fenomena jamaah yang lebih fokus pada gadget saat khutbah Jumat dibandingkan mendengarkan khatib menjadi contoh nyata degradasi kualitas perhatian dalam ibadah. Bahkan, tidak jarang ditemukan individu baik dikalangan terdekat kita yang bermain game online atau berselancar di media sosial di dalam masjid.

“Era digital memang menghadirkan banyak kemudahan dan akses informasi. Namun pertanyaannya, apakah yang kita konsumsi setiap saat benar-benar informasi yang esensial dan bernilai ibadah?” tegasnya.

Beliau mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi sarana pembinaan spiritual dan peningkatan kualitas penghambaan kepada Allah Swt. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, bukan sekadar ritual formal.

Strategi pertama dalam optimalisasi ibadah Ramadan, menurut Prof. Khojir, adalah meluruskan niat. Niat merupakan fondasi utama dalam setiap amal. Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad Saw.:

“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau menjelaskan bahwa syarat sah puasa diawali dengan niat yang dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa. Niat inilah yang membedakan antara ibadah dan aktivitas biasa (adat). Misalnya, seseorang yang berada di masjid dengan niat i’tikaf dan menunggu salat berikutnya akan memperoleh pahala, berbeda dengan orang yang hanya sekadar beristirahat atau “ngadem” tanpa orientasi ibadah.

Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa niat bersifat dinamis dan dapat berubah. Pepatah Arab menyebutkan, “Jaddidun niyyah fi kulli waqt” (Perbaruilah niat di setiap waktu). Seseorang yang berangkat ke kampus dengan niat menuntut ilmu karena Allah Swt., bisa saja di tengah perjalanan niat tersebut terkontaminasi oleh keinginan memperoleh pujian atau validasi sosial.

Fenomena ini juga tampak dalam praktik bermedia sosial, seperti memposting aktivitas ibadah seperti salat berjamaah, buka puasa bersama, atau kegiatan kajian. Menurutnya, yang terpenting bukanlah pembuktian di ruang digital, melainkan keikhlasan batin. Apakah unggahan tersebut untuk syiar atau sekadar mencari pengakuan?

“Optimalisasi ibadah hanya dapat dicapai ketika niat benar-benar lurus dan tulus karena Allah Ta’ala,” ungkapnya.

Strategi kedua adalah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Ramadan dikenal sebagai syahrul Qur’an, sebagaimana firman Allah:

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Prof. Khojir mengisahkan keteladanan para ulama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Salah satunya adalah Imam Syafi’i yang diriwayatkan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali sehari pada bulan Ramadan, pagi dan malam.

Selain itu, terdapat kisah ulama Nusantara, Kiai Haji Munawir dari Krapyak, Yogyakarta, yang mengkhatamkan Al-Qur’an secara rutin hingga mencapai riyadhah membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an selama tiga tahun berturut-turut. Bahkan pada akhir hayatnya, beliau tetap membaca Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan meski kondisi fisiknya melemah.

Prof. Khojir menegaskan bahwa meskipun umat Islam saat ini mungkin tidak mampu menandingi capaian para ulama tersebut, semangat dan etos ibadah mereka patut dijadikan inspirasi. Optimalisasi ibadah tidak menuntut kuantitas ekstrem, tetapi konsistensi dan kesungguhan.

Ia juga mengingatkan hadis Nabi:

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan (ihtisab), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, Ramadan hendaknya menjadi momentum refleksi diri dari distraksi digital menuju konsentrasi spiritual, dari budaya validasi menuju keikhlasan, serta dari sekadar rutinitas menuju kualitas ibadah yang lebih mendalam.

Kajian ini ditutup dengan ajakan agar seluruh sivitas akademika menjadikan Ramadan sebagai laboratorium spiritual, di mana niat diluruskan, interaksi dengan Al-Qur’an ditingkatkan, dan penggunaan teknologi diarahkan untuk kemaslahatan, bukan justru melemahkan kekhusyukan ibadah.

Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»