IKN, UINSI NEWS,- Prof. Dr. H. Muhammad Abzar Duraesa, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menjadi khatib dalam shalat idul fitri 1447 H di Masjid Negara IKN. Sabtu (21/3).
Melalui khutbahnya, Prof. Abzar mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat pembangunan peradaban di Ibu Kota Nusantara (IKN) sekaligus menumbuhkan solidaritas kemanusiaan di tengah krisis global.
Prof. Abzar menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan kemenangan spiritual setelah umat Islam menjalani “jihad melawan hawa nafsu” selama Ramadhan. “Ini bukan kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri yang cenderung pada keserakahan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Beliau kemudian mengaitkan makna Idul Fitri dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai tonggak sejarah bangsa. Menurutnya, pemindahan ibu kota tidak sekadar perpindahan administratif, tetapi bagian dari ikhtiar besar mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Prof. Abzar menekankan bahwa pembangunan IKN harus berlandaskan nilai-nilai peradaban yang kuat, sebagaimana konsep Kota Madinah yang dibangun Rasulullah SAW. Beliau menyebut tiga pilar utama yang harus menjadi fondasi IKN.
Pertama, menjaga keharmonisan dengan alam melalui konsep forest city. Beliau mengingatkan bahwa modernitas tidak boleh merusak lingkungan, melainkan harus berjalan seiring dengan kelestarian alam.
Kedua, mewujudkan pemerataan dan keadilan dengan memindahkan pusat gravitasi pembangunan ke tengah Indonesia. Menurutnya, IKN harus menjadi simbol persatuan dan masa depan bangsa yang lebih inklusif.
Ketiga, membangun kota berbasis teknologi (smart city) yang tetap berlandaskan akhlak. “Teknologi tanpa moral hanya akan menjadi mesin penghancur,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Abzar mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung pembangunan IKN bukan semata sebagai proyek pemerintah, tetapi sebagai gagasan besar menuju Indonesia yang lebih adil, hijau, dan bermartabat di mata dunia.
Di tengah euforia Idul Fitri, Prof Abzar juga mengingatkan jamaah agar tidak menutup mata terhadap krisis global yang tengah melanda dunia. Beliau menyoroti meningkatnya konflik, ketimpangan sosial, serta hilangnya rasa kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
“Sebagai umat yang telah kembali fitrah, kita memiliki tanggung jawab moral untuk membangun solidaritas kemanusiaan tanpa batas,” ujarnya.
Beliau mencontohkan keteladanan Utsman bin Affan yang memberikan akses air secara gratis kepada semua orang tanpa memandang latar belakang, sebagai simbol solidaritas universal.
Menurutnya, Idul Fitri harus menjadi momentum untuk meninggalkan gaya hidup berlebihan dan menumbuhkan empati terhadap penderitaan sesama. “Jika kita mampu menahan lapar selama Ramadhan, maka kita juga harus mampu menahan diri dari sikap tidak peduli,” katanya.
Menutup khutbahnya, Prof Abzar mengajak umat Islam untuk membersihkan hati dari egoisme, memperkuat tekad membangun bangsa, serta menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga mendoakan agar pembangunan IKN menjadi simbol keadilan dan kemandirian bangsa di tengah tantangan global.
“Semoga Allah Swt. memberkahi langkah bangsa kita dalam membangun IKN, menyatukan hati kita dalam solidaritas, dan menyelamatkan umat manusia dari berbagai krisis yang berkepanjangan”.
Penulis: Nisa Rahmawati




