Shalat Idul Fitri di Masjid SAMS UINSI, H. Marajo Nasution Tekankan Konsistensi Berinfak, Pengendalian Diri, dan Saling Memaafkan

SAMARINDA, UINSI NEWS – Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) UINSI Samarinda berlangsung khidmat, Sabtu (21/3).

Bertindak sebagai khatib dan imam, H. Marajo Nasution, Lc., M.Pd.I., dosen UINSI Samarinda, sementara bilal dipercayakan kepada Muhammad Zaidan Aqila, mahasiswa UINSI Samarinda Program Studi IAT Semester 2.

Dalam khutbahnya, H. Marajo Nasution mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan puncak capaian spiritual seorang hamba setelah menempuh pendidikan ruhani selama bulan Ramadhan. Menurutnya, predikat kembali kepada fitrah tidak datang secara otomatis, tetapi merupakan buah dari keberhasilan dalam menjalani proses tarbiyah yang sarat dengan nilai pengendalian diri, ketaatan, dan kepedulian sosial.

Sebagai landasan khutbah, ia mengangkat firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134 tentang orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, serta memaafkan kesalahan orang lain. Ayat tersebut, kata dia, menjadi cermin kualitas mukmin sejati yang tidak hanya tekun dalam ibadah personal, tetapi juga hadir memberi manfaat bagi sesama.

Pada poin pertama, khatib menekankan pentingnya konsistensi dalam berinfak. Semangat berbagi yang tumbuh selama Ramadhan, seperti memberi makan berbuka dan bersedekah, tidak seharusnya berhenti ketika bulan suci berakhir. Kepedulian sosial, menurutnya, harus menjadi karakter yang berkelanjutan, bukan sekadar amalan musiman.

Selanjutnya, H. Marajo Nasution menyoroti makna Ramadhan sebagai madrasah pembentukan karakter. Puasa mendidik umat Islam untuk menahan diri, bukan hanya dari hal-hal yang haram, tetapi juga dari hal-hal yang halal pada waktu tertentu. Dari proses itulah lahir pribadi yang disiplin, taat aturan, berintegritas, dan mampu mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai berikutnya yang ditekankan dalam khutbah ialah kemuliaan saling memaafkan. Tradisi meminta dan memberi maaf di bulan Syawal disebut sebagai refleksi dari kelapangan hati dan kedewasaan spiritual. Hubungan sosial yang harmonis, menurut khatib, hanya dapat dibangun apabila setiap orang memiliki kesiapan untuk mengakui kekhilafan dan membuka ruang maaf bagi orang lain.

Lebih jauh, khutbah juga menggarisbawahi bahwa ibadah dalam Islam selalu memadukan dimensi vertikal dan horizontal. Shalat, misalnya, bukan hanya menghadirkan kekhusyukan kepada Allah, tetapi juga ditutup dengan salam ke kanan dan kiri sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan sosial. Demikian pula puasa yang disempurnakan dengan zakat fitrah, sebagai penegasan bahwa kesalehan individual harus diiringi kepekaan terhadap keadaan sesama.

Dalam penjelasannya, khatib juga mengaitkan pesan tersebut dengan ibadah haji yang mengandung nilai egalitarian. Pakaian ihram yang sederhana menghapus sekat status sosial, menegaskan bahwa seluruh manusia sama di hadapan Allah dan yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Melalui pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Masjid SAMS ini, jamaah diajak menjadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk menjaga semangat kebaikan pasca-Ramadhan. Tidak hanya memperkuat hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga meneguhkan solidaritas sosial, kepedulian, dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis: Selvi Ramadhani
Editor: Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»