Prof. Zurqoni Jadi Narasumber Bridging Konferensi Imam Internasional, Bukti Sumbangsih Pemikiran Guru Besar UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda di Ranah Global

SAMARINDA, UINSI NEWS – Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., Rektor UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda hadir sebagai narasumber dalam agenda Bridging Konferensi Imam Internasional yang diinisiasi oleh Ittihad Persaudara Imam Masjid (IPIM) Kalimantan Timur di Masjid Islamic Center Samarinda. Sabtu, (25/4).

Mengangkat tema “Reposisi Masjid Dalam Arsitektur Diplomasi Religi Perspektif Intelektual Islam bagi Perdamaian Dunia”, Prof. Zurqoni menekankan bahwa masjid di era modern tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai tempat ritual ibadah semata (mahdhah). Terdapat pergeseran fungsi fundamental yang harus dikawal oleh para intelektual muslim dan pengurus masjid.

Dalam paparannya, Prof. Zurqoni menjelaskan transformasi peran masjid ke dalam tiga tahapan utama.

Pertama, Masjid sebagai Rumah Ibadah artinya Fokus dan fungsinya pada kegiatan ritual.

Kedua, Peningkatan Masjid sebagai institusi sosial (santunan, kesehatan), pendidikan (madrasah, kajian), serta pusat administrasi dan pemerintahan lokal.

Ketiga sebagai Pusat Pemberdayaan Umat yakni masjid menjadi motor ekonomi syariah melalui Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dan pemberdayaan UMKM jamaah.

Salah satu poin paling menarik dalam materi tersebut adalah peran arsitektur masjid sebagai instrumen “Soft Power” dalam diplomasi publik. Arsitektur masjid di Indonesia, menurut Rektor, merepresentasikan moderasi beragama dan akulturasi budaya yang sangat kuat.

“Masjid-masjid kita, seperti Masjid Agung Demak hingga Masjid Istiqlal, adalah simbol harmoni. Arsitektur yang memadukan unsur lokal, Tionghoa, hingga Eropa menunjukkan kepada dunia bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang ramah, inklusif, dan moderat (Wasathiyah),” ungkapnya.

Prof. Zurqoni juga mencontohkan bagaimana masjid berperan dalam hubungan antarnegara, seperti pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo sebagai simbol persahabatan Indonesia-UEA, serta peran historis Masjid Biru (Masjid Soekarno) di Rusia dalam menjaga napas Islam di kancah internasional.

Di hadapan para imam, beliau menekankan bahwa reposisi masjid ini sangat krusial bagi perdamaian global. Dengan menjadikan masjid sebagai “Ruang Dialog Terbuka”, kecurigaan dan prasangka antarumat beragama dapat dikikis. Konsep Syura (musyawarah) yang berakar dari masjid diharapkan menjadi inspirasi bagi penyelesaian konflik secara damai di tingkat internasional.

“Melalui arsitektur dan tata kelola yang inklusif, masjid menjadi representasi nilai keadilan dan keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Inilah kontribusi intelektual Islam Indonesia bagi stabilitas dunia,” pungkasnya.

Acara ini menjadi momentum penting bagi para imam di Kalimantan Timur untuk mulai memetakan potensi masjid mereka sebagai pusat peradaban yang melampaui batas-batas fisik bangunan.

Kehadiran Prof. Zurqoni dalam forum ini menegaskan bahwa kepakaran Guru Besar UINSI dapat memberi berkontribusi di ruang akademik hingga pemikiran dalam wacana global terkait peran Islam dalam membangun perdamaian dunia.

Momentum ini sekaligus memperkuat posisi UINSI Samarinda sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam yang aktif berkontribusi dalam isu-isu strategis global.

Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»