SAMARINDA, UINSI NEWS,-Pagi itu, suasana khidmat menyelimuti ruang pengukuhan di UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Di antara deretan toga hitam dan wajah-wajah penuh harap, satu sosok berdiri dengan kisah panjang yang tidak biasa. Ia adalah Dr. Muhammad Ridho Muttaqin, yang hari ini resmi menyandang gelar doktor. Namun, capaian ini bukan sekadar hasil kecerdasan akademik, melainkan akumulasi dari ketekunan, kesabaran, dan perjuangan panjang melawan keterbatasan.
Di balik jubah wisuda yang dikenakannya, tersimpan perjalanan hidup yang tidak linear dalam arti kemudahan, tetapi justru konsisten dalam arti keteguhan. Ridho tidak lahir dari kemapanan. Ia memulai dari ruang sederhana, dari realitas yang menuntutnya untuk bertahan bahkan sebelum bermimpi terlalu jauh.
Sebelum dikenal sebagai doktor, Ridho adalah seorang guru honorer di sekolah dasar. Ia pernah hidup dengan honorarium Rp150 ribu per bulan—angka yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar pun terasa jauh dari cukup. Namun, di titik itulah ia menempa dirinya.
Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan panggilan. Dalam keterbatasan itu, ia tetap mengajar, tetap membaca, dan tetap memelihara mimpi. Ia belajar bahwa dedikasi tidak selalu lahir dari kelapangan, melainkan justru dari keterdesakan.
“Pada masa itu, saya hanya berpikir bagaimana tetap mengajar dan tetap belajar,” tuturnya, mengenang fase yang membentuk daya tahannya.
Pengalaman sebagai guru honorer bukan hanya membangun ketangguhan mental, tetapi juga memperdalam empatinya terhadap realitas pendidikan di akar rumput. Ia menyaksikan langsung bagaimana keterbatasan sarana, akses, dan dukungan menjadi tantangan sehari-hari bagi guru dan siswa.
Fondasi kuat Ridho berasal dari keluarga. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi ilmu, khususnya ilmu agama. Ayah dan ibunya adalah guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keteladanan.
Dari ayahnya—yang kini telah tiada—ia mewarisi semangat pengabdian. Dari ibunya, ia mendapatkan doa yang tak pernah putus. Kombinasi keduanya membentuk karakter yang teguh, sekaligus rendah hati.
Di rumah sederhana itu, pendidikan bukan sekadar proses formal, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Diskusi, keteladanan, dan disiplin menjadi ruang belajar pertama yang membentuk arah hidupnya.
Perjalanan akademik Ridho menunjukkan satu pola yang konsisten: linearitas keilmuan. Sejak pendidikan di madrasah tsanawiyah hingga aliyah, ia telah menekuni bidang keagamaan. Pilihan itu tidak berubah ketika ia melanjutkan ke jenjang sarjana (S1) dan magister (S2) di bidang Pendidikan Agama Islam.
Di tengah tren lintas disiplin yang kian terbuka, Ridho justru memilih memperdalam satu bidang secara serius. Baginya, konsistensi adalah bentuk komitmen terhadap keilmuan yang diyakini.
Namun, menjaga linearitas bukan berarti tanpa tantangan. Ia harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi yang kerap menghambat akses terhadap sumber belajar. Buku menjadi barang mewah. Biaya kuliah menjadi beban yang harus dipecahkan dengan berbagai cara.
Meski demikian, Ridho berhasil menyelesaikan studi magisternya dalam waktu dua tahun—sebuah capaian yang menunjukkan disiplin dan fokus tinggi di tengah tekanan hidup.
Setelah meraih gelar magister, impian untuk melanjutkan ke jenjang doktor sempat tertunda. Faktor biaya dan jarak menjadi kendala nyata. Pada fase ini, banyak orang mungkin memilih berhenti. Namun, Ridho tidak sepenuhnya memadamkan harapan itu.
Ia menunggu, sambil terus mengabdi dan menguatkan diri.
Momentum datang ketika program doktoral PAI dibuka di UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Kesempatan ini menjadi titik balik. Ia tidak perlu lagi pergi jauh keluar daerah dengan biaya besar. Ia bisa melanjutkan studi di tanah sendiri, di Kalimantan Timur.
Keputusan itu bukan sekadar praktis, tetapi juga strategis. Ia tetap dapat menjaga kesinambungan keilmuan, sekaligus berkontribusi langsung pada pengembangan pendidikan di daerahnya.
Dalam proses doktoralnya, Ridho tidak memilih jalan yang mudah. Ia mengangkat persoalan nyata dalam pendidikan agama Islam di tingkat sekolah menengah atas. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Muhammad Nasir dan Prof. Dr. H. Muhammad Abzar Duraesa, ia merancang penelitian yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif.
Hasilnya adalah sebuah modul pembelajaran PAI yang dirancang secara kontekstual untuk siswa SMA di Kalimantan Timur. Modul ini berangkat dari kegelisahan terhadap metode pembelajaran agama yang kerap tidak menyentuh realitas kehidupan siswa.
Ridho melihat adanya jarak antara materi ajar dan tantangan zaman. Ia ingin menjembatani kesenjangan itu.
Modul yang ia kembangkan tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mendorong pemahaman kritis, relevansi sosial, dan internalisasi nilai. Dengan kata lain, ia mencoba menghadirkan pendidikan agama yang tidak sekadar normatif, tetapi juga hidup dalam konteks keseharian siswa.
Hari ini, seluruh perjalanan panjang itu bermuara pada satu titik: pengukuhan sebagai doktor dengan predikat cum laude dan IPK 4,00. Angka tersebut bukan sekadar simbol akademik, melainkan representasi dari konsistensi, kerja keras, dan ketahanan mental yang teruji.
Di tengah suasana haru, Ridho tidak melupakan akar perjuangannya.
“Saya melakukan ini untuk meneruskan semangat almarhum ayah dan membahagiakan ibu,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Di balik capaian akademik, ada dimensi emosional yang menjadi penggerak utama: keluarga.
Gelar doktor yang kini disandang Ridho bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Sebagai akademisi, ia kini berada di posisi strategis untuk berkontribusi dalam pengembangan pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam.
Ia membawa visi tentang pembelajaran yang lebih adaptif, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Ia juga membawa pengalaman nyata dari lapangan—sesuatu yang tidak semua akademisi miliki.
Di tengah dinamika pendidikan yang terus berubah, kehadiran figur seperti Ridho menjadi penting. Ia bukan hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung realitas pendidikan di akar rumput.
Kisah Ridho adalah cerita tentang melampaui batas. Batas ekonomi, batas akses, dan batas keraguan diri. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang mutlak, melainkan kondisi yang bisa dinegosiasikan dengan kerja keras dan keteguhan.
Perjalanan dari honor Rp150 ribu menuju gelar doktor bukanlah lompatan instan. Ia adalah proses panjang yang diisi dengan pilihan-pilihan sulit, pengorbanan, dan ketekunan yang konsisten.
Di tengah realitas sosial yang sering kali tidak berpihak, kisah ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap menjadi jalan transformasi yang paling mungkin. Bahwa dari ruang sederhana, seseorang dapat melangkah jauh—asal tidak berhenti.
Dan di pagi yang khidmat itu, di ruang pengukuhan UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, kisah itu tidak hanya ditutup dengan gelar doktor. Ia justru dibuka sebagai inspirasi baru—bagi siapa pun yang sedang berjuang dalam diam.#




