Prof. Zamroni, Aktivis Mahasiswa STAIN Samarinda yang Kini Jadi Guru Besar UINSI

SAMARINDA, UINSI NEWS — Sejarah seringkali dibentuk di jalanan, namun masa depan dirajut melalui keteguhan di ruang-ruang intelektual.

Perubahan besar dalam sejarah sering muncul dari perjuangan sosial, gerakan masyarakat, dan aksi mahasiswa di lapangan. Namun, perubahan tidak cukup hanya dengan perjuangan di jalan, tetapi juga perlu dibangun melalui pendidikan, pemikiran, ilmu pengetahuan, dan proses belajar di dunia akademik.

Prinsip inilah yang melekat kuat dalam perjalanan hidup Prof. Dr. Zamroni, M.Pd., Wakil Rektor II Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Sepenggal gambaran perjalanan Prof. Zamroni yang pernah aktif dalam gerakan mahasiswa, lalu melanjutkan perjuangannya melalui dunia pendidikan dan akademik.

Dalam kesempatan berbagi cerita bersama tim humas, Prof. Zamroni mengenang masa-masa ketika dirinya menjadi bagian dari “Angkatan 96”, generasi mahasiswa yang tumbuh di tengah dinamika reformasi dan perubahan besar bangsa Indonesia.

Masuk ke IAIN Samarinda Cabang IAIN Antasari (sekarang UINSI) pada tahun 1996, Zamroni muda langsung dihadapkan pada situasi politik nasional yang mendidih. Krisis moneter 1997 dan gerakan reformasi 1998 menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter kepemimpinan dan kepekaan sosialnya.

“Nasib angkatan kami saat itu tidak menentu. Demonstrasi masih dianggap hal tabu, bahkan dilarang. Namun, benturan keadaan itulah yang mengasah keterampilan non-akademik kami,” kenang Prof. Zamroni.

Sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ketua HMJ Tarbiyah, ia mengaku waktunya lebih banyak habis di lapangan ketimbang di ruang kelas. Akibatnya, ia baru mampu menuntaskan studi S-1 dalam waktu enam tahun di IAIN Samarinda Cabang IAIN Antasari yang pada tahun kelulusannya (2002) sudah berubah bentuk menjadi STAIN Samarinda. Namun, di balik keterlambatan akademik tersebut, ia berhasil membangun jejaring sosial dan kepekaan nurani yang tinggi terhadap rakyat kecil.

Pasca-reformasi, tantangan hidup masih berlanjut. Dampak krisis ekonomi mengharuskan Zamroni untuk mandiri. Sebagai perantau asal Kertosono, Nganjuk Jawa Timur, ia harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sekaligus biaya pendidikan.

Sebelum menyandang gelar sarjana, ia sudah mengabdikan diri sebagai guru honorer di berbagai tempat, mulai dari Pesantren Sabilal Hijrahtain di Teluk Dalam, SMK Negeri 9 Samarinda, hingga MTs dan MA Darul Fatah.

“Pengalaman mengajar anak-anak dengan karakter yang beragam di pesantren dan sekolah membentuk ketangguhan mental saya. Teori yang didapat di kampus ternyata sulit dipraktikkan jika tidak dibarengi dengan pengalaman lapangan,” ujarnya.

Titik balik kariernya dimulai pada tahun 2003 saat ia lolos seleksi CPNS dosen. Merasa “tertinggal” secara akademik dibanding kolega lulusan luar daerah, Prof. Zamroni melakukan lompatan besar. Ia memacu diri dengan fokus penuh pada Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Upaya tersebut berbuah manis. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik dan tercepat saat menempuh studi S-2 di Malang pada 2005–2007, lalu melanjutkan pendidikan doktoral hingga akhirnya meraih jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar pada tahun 2023.

“Dulu saya habiskan waktu di luar kelas sebagai aktivis. Begitu menjadi dosen, saya fokus menulis. Saat ini, belasan artikel saya sudah menembus Scopus, dan ratusan lainnya di jurnal Sinta,” ungkap pria yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan III FTIK ini.

Kepada mahasiswa UINSI Samarinda saat ini, Prof. Zamroni menitipkan pesan penting tentang manajemen waktu dan idealisme. Ia menekankan bahwa aktivis tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tugas utama sebagai pelajar. Menurutnya, organisasi adalah ruang pembelajaran, namun studi tetap harus menjadi prioritas utama.

“Langkah konkret menuju sukses itu sederhana: integritas (kejujuran), disiplin, dan networking. Jangan jadi aktivis pragmatis. Gerakan mahasiswa harus murni menyuarakan kebenaran demi rakyat,” tegasnya.

Menutup perbincangan, penerima penghargaan Pemimpin Inspiratif dari Permapendis tersebut menegaskan bahwa pencapaian yang diraihnya tidak lepas dari doa orang tua dan kekuatan spiritualitas.

“Semua ini karena doa orang tua, terutama Ibu. Pesan mereka selalu saya pegang: sesibuk apa pun, jangan pernah tinggalkan salat lima waktu. Itulah pilar kehidupan kita,” pungkasnya menutup kisah inspiratif sang mantan aktivis yang kini menjadi salah satu nahkoda akademik di UINSI Samarinda.

Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»