MALAYSIA, UINSI NEWS,-Krisis lingkungan yang semakin nyata tidak lagi cukup dijawab hanya dengan pendekatan teknologi dan kebijakan. Dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam, dinilai memiliki tanggung jawab besar membangun kesadaran ekologis generasi muda sejak di ruang kuliah.
Gagasan itulah yang dibawa Dr. Hj. Titi Kadi,M.Pd.I saat menjadi Dosen Tamu pada Kuliah Tamu Internasional yang digelar di Universiti Sains Islam Malaysia, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan menjadi bagian dari penguatan kolaborasi akademik antara UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda dan USIM Malaysia dalam pengembangan pendidikan Islam berkelanjutan.
Dalam forum internasional tersebut, Titi Kadi memaparkan materi berjudul “Eco-Theology-Based Islamic Religious Education as a Sustainable Innovation for Developing Students’ Ecological Awareness in East Kalimantan.”
Melalui kajian tersebut, ia menegaskan bahwa pendidikan agama Islam tidak cukup dipahami sebatas transfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga harus mampu membentuk tanggung jawab moral dan spiritual terhadap lingkungan hidup.
Menurutnya, arah pendidikan nasional Indonesia sejatinya telah menempatkan pembentukan iman, takwa, akhlak, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama pendidikan.
“Pendidikan pada hakikatnya bukan hanya membangun kecerdasan, tetapi juga membentuk moral, kejujuran, keikhlasan, dan kepedulian terhadap kehidupan,” ujarnya dalam forum akademik tersebut.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan agama Islam berbasis ekoteologi menjadi pendekatan strategis dalam menjawab tantangan krisis lingkungan dan degradasi moral yang semakin kompleks.
Dalam pemaparannya, Titi Kadi menyoroti berbagai persoalan ekologis seperti deforestasi, pencemaran lingkungan, hingga perubahan iklim yang kini membutuhkan keterlibatan aktif dunia pendidikan.
Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki posisi penting sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia dan penguatan nilai kebangsaan melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Karena itu, mahasiswa perlu diposisikan bukan sekadar peserta didik, tetapi agen perubahan yang memiliki kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial.
Ia menjelaskan bahwa implementasi pendidikan agama Islam berbasis ekoteologi di perguruan tinggi dilakukan secara terintegrasi melalui kurikulum, capaian pembelajaran lulusan (CPL), CPMK, materi pembelajaran, metode, hingga sistem evaluasi.
Nilai-nilai utama yang dibangun mencakup konsep khalifah fil ardh, amanah, rahmatan lil ‘alamin, hingga cinta tanah air sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga lingkungan.
Dalam proses pembelajaran, pendekatan yang digunakan bersifat kontekstual, reflektif, kritis, dan transformatif dengan menempatkan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran (student-centered learning).
Berbagai strategi pembelajaran seperti problem-based learning, proyek lingkungan, observasi lapangan, diskusi, dan pembelajaran kolaboratif diterapkan untuk membangun pengalaman belajar yang lebih autentik.
“Kesadaran ekologis tidak cukup dibangun lewat teori. Ia tumbuh melalui pengalaman langsung, refleksi, dan keterlibatan sosial mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya,” kata Titi Kadi.
Ia juga menjelaskan bahwa proses internalisasi nilai dilakukan melalui pembelajaran integratif yang menghubungkan kajian keislaman dengan realitas krisis lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Dalam sistem evaluasi, penilaian tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif melalui UTS dan UAS, tetapi juga mencakup proyek lingkungan, refleksi, partisipasi, serta pengamatan sikap spiritual dan sosial mahasiswa.
Dari pemaparannya Titi Kadi menegaskan bahwa pendidikan agama Islam berbasis ekoteologi berkontribusi signifikan dalam membentuk sikap ekologis mahasiswa serta meningkatkan tanggung jawab moral dan spiritual terhadap lingkungan hidup.
Hal tersebut sekaligus menegaskan bahwa ekoteologi dapat menjadi kerangka etis-religius yang aplikatif dalam menghadapi tantangan ekologis global.
Forum akademik itu menjadi ruang pertukaran gagasan antara akademisi Indonesia dan Malaysia mengenai pentingnya integrasi nilai Islam, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan dalam dunia pendidikan modern. Kuliah tamu internasional ini bukan hanya forum akademik, tetapi juga bagian dari upaya memperluas kontribusi pemikiran pendidikan Islam dari Kalimantan Timur ke tingkat global.
Melalui kolaborasi dengan Universiti Sains Islam Malaysia, Titi Kadi berharap pengembangan pendidikan Islam berbasis ekoteologi dapat terus diperkuat melalui penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar internasional, dan inovasi pembelajaran berkelanjutan.
Di tengah ancaman krisis lingkungan dunia, gagasan pendidikan Islam berbasis ekoteologi yang lahir dari Kalimantan Timur itu menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga bagian dari panggilan moral dan spiritual manusia.#









