Pusat Literasi dan Media Digital Dorong Literasi Toleransi di Era Digital

SAMARINDA, UINSI NEWS,-Di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya polarisasi sosial di media sosial, penguatan nilai toleransi dinilai menjadi kebutuhan penting untuk menjaga persatuan bangsa. Kesadaran itulah yang mendorong Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bekerjasama dengan mahasiswa PAI 4 menggelar webinar bertema “Membangun Literasi Toleransi: Dari Perbedaan Menuju Persatuan”.

Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi mengenai pentingnya memperkuat sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda Dr. Badrut Tamam, M.Pd.I menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa.

“Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun di atas keberagaman. Kita hidup dengan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda. Namun justru dalam keberagaman itulah Indonesia menemukan kekuatannya,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi modal sosial untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan satu sama lain.

Ia kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Ayat tersebut, kata dia, memberikan pesan mendalam bahwa keberagaman merupakan sunnatullah yang harus dipahami sebagai jalan membangun persaudaraan kemanusiaan.

Di era digital saat ini, tantangan toleransi dinilai semakin kompleks. Media sosial kerap menjadi ruang penyebaran ujaran kebencian, hoaks, provokasi, dan narasi intoleransi yang mudah memengaruhi masyarakat, terutama generasi muda.

Karena itu, Badrut Tamam menilai literasi toleransi harus diperkuat agar masyarakat memiliki kemampuan memahami perbedaan secara dewasa dan bijaksana.

“Literasi toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus hadir dalam sikap hidup sehari-hari, termasuk dalam cara kita berbicara, bermedia sosial, dan menghargai pendapat orang lain,” katanya.

Ia menjelaskan, secara nasional Indonesia terus berupaya memperkuat nilai toleransi dan inklusi sosial. Salah satu indikatornya terlihat melalui laporan Indeks Kota Toleran yang dirilis SETARA Institute, yang menunjukkan pentingnya penguatan toleransi dalam pembangunan masyarakat yang harmonis.

Dalam konteks daerah, Kalimantan Timur dinilai memiliki kultur sosial yang relatif terbuka terhadap keberagaman. Semangat hidup berdampingan itu juga tercermin di Samarinda yang dikenal sebagai Kota Tepian.

Menurutnya, kehidupan masyarakat yang plural di Samarinda memperlihatkan bahwa harmoni dapat tumbuh ketika masyarakat memiliki budaya gotong royong dan sikap saling menghormati.

“Rumah ibadah berdiri berdampingan, kegiatan lintas budaya terus berkembang, dan ruang dialog antarumat beragama semakin terbuka. Ini menjadi modal sosial yang sangat berharga,” ujarnya.

Webinar tersebut turut menghadirkan Qomariah sebagai narasumber. Perempuan asal Desa Selerong, Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur itu dikenal aktif sebagai pegiat literasi toleransi di Kalimantan Timur.

Selain aktif sebagai mahasiswa Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Qomariah juga terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas literasi.

Ia tercatat sebagai pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa UINSI Samarinda periode 2025, pengurus UKM JQH, UKM English Community, anggota MCF FUAD, serta aktif di komunitas Samarinda Book Party.

Kehadiran Qomariah dalam webinar tersebut dinilai merepresentasikan semangat generasi muda yang aktif membangun budaya dialog, literasi, dan toleransi di tengah masyarakat multikultural.

Forum webinar tersebut juga menegaskan bahwa semakin luas wawasan masyarakat terhadap keberagaman, maka semakin kecil ruang bagi kebencian dan ekstremisme berkembang di ruang publik maupun media sosial.

Karena itu, kegiatan literasi toleransi dipandang penting sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama, nilai kebangsaan, dan kemanusiaan di tengah tantangan globalisasi digital.

Melalui forum itu, peserta diajak membangun kesadaran bahwa generasi masa depan tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus matang secara emosional dan sosial dalam menghadapi perbedaan.

Di akhir sambutannya, Badrut Tamam mengajak seluruh peserta menjaga persatuan dan merawat harmoni sosial di tengah keberagaman bangsa.

Ia menutup sambutan dengan pantun:

Burung enggang terbang melayang,
Hinggap indah di dahan cemara;
Mari menjaga persatuan yang gemilang,
Agar Indonesia damai sepanjang masa.

Melalui kegiatan tersebut, Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda berharap lahir generasi yang mampu menghadirkan ruang digital yang lebih damai, toleran, dan berkeadaban di tengah masyarakat multikultural Indonesia.#

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»