SAMARINDA,UINSI NEWS,- Webinar nasional bertema “Membangun Literasi Toleransi: Menyemai Harmoni dalam Perbedaan, Menguatkan Persatuan dalam Keberagaman” tidak hanya menghadirkan gagasan akademik tentang pentingnya toleransi, tetapi juga menghadirkan suara generasi muda yang aktif bergerak dalam penguatan literasi damai di Kalimantan Timur.
Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Qomariah, pegiat literasi toleransi asal Desa Selerong, Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Mahasiswi Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UINSI Samarinda itu dikenal aktif dalam berbagai organisasi kampus dan komunitas literasi.
Qomariah tercatat sebagai pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSI Samarinda 2025. Ia juga aktif di UKM JQH, UKM English Community, anggota MCF FUAD, serta tergabung dalam komunitas Samarinda Book Party.
Dalam pemaparannya, Qomariah menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang identik dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah identitas kebangsaan yang lahir dari keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama.
“Indonesia memiliki kekayaan dalam keberagaman dan keberagamaan. Karena itu, toleransi bukan hanya penting, tetapi menjadi fondasi untuk menjaga persatuan bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, literasi toleransi tidak cukup hanya dipahami sebagai teori, tetapi harus menjadi kesadaran sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa literasi toleransi berarti kemampuan memahami perbedaan, menghargai keberagaman, berpikir kritis, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah.
“Literasi toleransi mengajarkan kita untuk memahami perbedaan tanpa kebencian, menghargai keberagaman tanpa diskriminasi, dan tetap berpikir jernih di tengah arus informasi digital,” katanya.
Qomariah menjelaskan bahwa toleransi memiliki peran penting dalam menjaga kedamaian sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan sikap toleran, masyarakat dapat mencegah konflik dan perpecahan, meningkatkan empati sosial, serta membangun hubungan sosial yang sehat dan harmonis.
Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda di era digital saat ini. Menurutnya, perkembangan media sosial memang memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi. Namun di sisi lain, ruang digital juga menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, hingga provokasi yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
“Media sosial bisa menjadi ruang edukasi, tetapi juga bisa menjadi ruang konflik apabila tidak digunakan dengan bijak,” ujarnya.
Karena itu, Qomariah mengajak generasi muda untuk membangun budaya toleransi dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut sikap menghargai orang lain, mau mendengar pendapat berbeda, saling menguatkan, dan membiasakan komunikasi yang baik sebagai langkah awal membangun harmoni sosial.
“Membangun toleransi tidak harus dimulai dari hal besar. Mulailah dari cara kita berbicara, menghargai teman, mendengar orang lain, dan tidak mudah menghakimi,” katanya.
Dalam sesi tersebut, ia juga menegaskan pentingnya peran generasi Z sebagai agen perdamaian di era digital. Generasi muda, menurutnya, memiliki posisi strategis dalam menciptakan ruang digital yang lebih sehat, damai, dan produktif.
“Gen Z harus hadir sebagai agen perdamaian. Caranya dengan menyebarkan konten positif, menolak diskriminasi, tidak ikut menyebarkan ujaran kebencian, dan menghadirkan narasi yang menyejukkan di media sosial,” tuturnya.
Pemaparan Qomariah mendapat respons positif dari peserta webinar yang berasal dari kalangan mahasiswa, pelajar, dan komunitas literasi. Banyak peserta menilai pendekatan yang disampaikan relevan dengan tantangan sosial generasi muda di era digital.
Webinar ini menjadi bagian dari upaya penguatan literasi toleransi dan moderasi beragama yang terus digalakkan oleh Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bersama mahasiswa dan komunitas literasi di Kalimantan Timur. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, sikap toleran, dan kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.#







