Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag.
Ada manusia yang kehadirannya dikenang karena jabatan yang pernah diembannya. Ada pula yang dikenang karena karya-karyanya. Namun, ada manusia yang lebih jauh daripada sekadar jabatan dan karya: ia dikenang karena keteladanan, persahabatan, pengabdian, dan jejak kemanusiaan yang ditinggalkannya. Dalam konteks itulah sosok Dr. H. Muhammad Birusman Nuryadin, SE., MM layak dikenang sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan akademik dan kehidupan intelektual di lingkungan UINSI Samarinda, Kalimantan Timur.
Mengenang beliau bukan sekadar menghadirkan kembali sosok seorang dosen. Lebih dari itu, mengenang beliau berarti membuka kembali lembaran perjalanan seorang insan akademik yang telah mendedikasikan sebagian kehidupannya untuk ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Dosen Bukan Sekadar Profesi
Menjadi dosen pada hakikatnya bukan hanya menjalankan pekerjaan akademik. Dosen adalah profesi yang memiliki dimensi moral dan kemanusiaan. Ia tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, karakter, dan orientasi kehidupan mahasiswa. Dalam kerangka tersebut, perjalanan Dr. H. Muhammad Birusman Nuryadin sebagai dosen memiliki makna yang lebih luas. Ilmu yang disampaikan di ruang kuliah mungkin dapat dilupakan oleh mahasiswa setelah bertahun-tahun.
Namun, sikap, keteladanan, cara berkomunikasi, dan penghargaan terhadap sesama sering kali justru melekat lebih lama dalam ingatan. Karena itu, seorang akademisi sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai ketika ia meninggalkan ruang kelas. Gagasan yang pernah disampaikan akan terus hidup dalam pikiran para mahasiswa, sementara keteladanan akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Mengenang Seorang Intelektual dan Pendidik yang qona’ah
Gelar akademik yang melekat pada nama beliau; Dr., H., SE., MM, merepresentasikan perjalanan intelektual dan profesional yang tidak sederhana. Namun, ukuran seorang akademisi tidak semata-mata terletak pada gelar yang disandang. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana ilmu tersebut memberi manfaat bagi kehidupan. Di lingkungan perguruan tinggi, seorang dosen berada dalam posisi strategis untuk menjembatani dunia teori dengan realitas kehidupan.
Pengetahuan ekonomi, manajemen, dan berbagai disiplin keilmuan tidak berhenti sebagai konsep yang tertulis di buku, tetapi semestinya diterjemahkan menjadi kemampuan membaca persoalan masyarakat, mengelola kehidupan secara bijaksana, dan menghadirkan solusi. Di sinilah makna penting seorang pendidik. Ia bukan hanya mencetak orang yang pintar, tetapi membantu melahirkan manusia yang berilmu, berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jejak yang Tidak Hilang Waktu akan terus bergerak. Generasi mahasiswa berganti. Kurikulum berubah. Teknologi berkembang. Kampus pun mengalami transformasi. Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah berubah: kenangan terhadap orang-orang yang pernah memberikan arti dalam perjalanan hidup kita. Mungkin ada mahasiswa yang pernah mengikuti perkuliahan beliau. Mungkin ada kolega yang pernah berdiskusi dengannya. Mungkin ada sahabat yang pernah berbagi cerita dan pengalaman. Mungkin pula ada orang-orang yang hanya mengenalnya dalam ruang pergaulan akademik. Masing-masing memiliki cerita sendiri. Dari berbagai cerita itulah sebuah sosok akademisi sesungguhnya dibangun. Bukan hanya dari daftar riwayat hidup, jabatan, karya ilmiah, atau gelar akademik, tetapi dari kesan yang tertinggal di hati manusia lain. Sebab pada akhirnya, perjalanan kehidupan seorang manusia tidak hanya tercatat dalam dokumen resmi. Ia juga tersimpan dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
UINSI Samarinda dan Memori Akademik Sebagai bagian dari perjalanan perguruan tinggi Islam di Kalimantan Timur, UINSI Samarinda bukan sekadar bangunan, ruang kuliah, laboratorium, atau kumpulan regulasi akademik. Kampus adalah rumah besar yang dibangun oleh manusia-manusia yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Setiap dosen yang pernah mengajar di dalamnya sesungguhnya telah memberikan warna tersendiri bagi sejarah institusi. Begitu pula dengan Dr. H. Muhammad Birusman Nuryadin. Kehadirannya merupakan bagian dari mozaik perjalanan akademik UINSI Samarinda. Apa yang pernah beliau lakukan, ajarkan, diskusikan, dan teladankan menjadi bagian dari memori kolektif keluarga besar kampus.
Karena itu, mengenang beliau juga berarti mengenang sebuah fase perjalanan UINSI Samarinda, sebuah perjalanan yang terus bergerak dari masa ke masa, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika Seorang Guru Telah Tiada, Ilmunya Tetap Berbicara Dalam tradisi Islam, ilmu yang bermanfaat memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa salah satu amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat. Hadis yang sangat masyhur menyebutkan: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim) Pesan ini memberikan perspektif yang sangat mendalam dalam mengenang seorang pendidik.
Seorang dosen mungkin tidak lagi berada di ruang kelas. Namun, ilmu yang pernah disampaikannya dapat terus hidup melalui mahasiswa yang kemudian menjadi guru, birokrat, pengusaha, akademisi, pemimpin masyarakat, maupun orang tua yang mendidik generasi berikutnya. Dengan demikian, kematian seorang pendidik tidak berarti berakhirnya pengaruh pendidikan yang pernah diberikan. Ilmu dapat melampaui usia manusia.
Dari Kenangan Menuju Keteladanan Mengenang jangan sampai hanya berhenti pada nostalgia. Kenangan yang baik seharusnya menjadi energi untuk meneruskan nilai-nilai baik yang pernah diwariskan. Jika beliau pernah mengajarkan pentingnya ilmu, maka tugas generasi berikutnya adalah terus mencintai ilmu. Jika beliau pernah menunjukkan pentingnya profesionalitas, maka generasi berikutnya harus menjaga profesionalitas. Jika beliau pernah membangun persahabatan dan silaturahmi, maka hubungan antarsesama harus terus dirawat. Jika beliau pernah memberikan perhatian kepada mahasiswa dan lingkungan akademik, maka semangat kepedulian itu harus diteruskan.
Dengan demikian, mengenang seorang guru bukan sekadar berkata, “Kami pernah mengenal beliau.” Tetapi lebih jauh: “Kami akan meneruskan kebaikan yang pernah beliau tanamkan.” Warisan Terbesar Seorang Dosen, Warisan terbesar seorang dosen bukan selalu berupa buku yang ditulis, jabatan yang pernah diemban, atau penghargaan yang pernah diterima.
Warisan terbesar seorang dosen adalah manusia-manusia yang menjadi lebih baik karena pernah mendapatkan ilmu dan keteladanannya. Jika ada mahasiswa yang kemudian menjadi pribadi yang lebih berilmu, lebih bertanggung jawab, lebih profesional, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat, maka di sana terdapat bagian dari warisan seorang pendidik. Itulah mengapa profesi dosen memiliki dimensi keabadian. Seorang dosen dapat menua, tetapi gagasannya dapat tetap muda. Seorang dosen dapat pergi, tetapi ilmunya dapat tetap tinggal. Seorang dosen dapat meninggalkan ruang kelas, tetapi nilai-nilai yang ditanamkannya dapat terus tumbuh dalam kehidupan para mahasiswa.
Selamat Jalan, Sang Pendidik yang Penyabar Mengenang Dr. H. Muhammad Birusman Nuryadin, SE., MM adalah mengenang seorang insan akademik yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan tinggi di Kalimantan Timur. Di tengah perubahan zaman, digitalisasi pendidikan, perkembangan kecerdasan buatan, dan tuntutan perguruan tinggi yang semakin kompleks, kita membutuhkan semakin banyak pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, ketulusan, kepedulian, dan keteladanan.
Semoga segala ilmu, pengabdian, pemikiran, dan kebaikan yang pernah beliau berikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan. Dan bagi keluarga besar UINSI Samarinda, semoga kenangan terhadap beliau tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi inspirasi untuk terus membangun kampus yang unggul, humanis, berintegritas, dan berkemajuan.
Selamat jalan, Dr. H. Muhammad Birusman Nuryadin, SE., MM.
Ruang kelas mungkin telah berganti. Generasi mahasiswa mungkin telah berubah. Waktu mungkin terus berjalan. Tetapi jejak seorang pendidik tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam ilmu yang diwariskan, dalam kebaikan yang diteruskan, dan dalam doa orang-orang yang pernah mengenal serta menyayanginya. Almarhum H. Birusman sabar tingkat Dewa.
Al-Fatihah.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan tempat peristirahatan beliau, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.




