BERAGAMA DENGAN ILMU, BERMAZHAB DENGAN AKHLAK
“Jangan Sampai Agama Kita Menjadi Suara yang Mengganggu”
Oleh: Dr. Mursalim, M.Ag
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ الله، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.. فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada sebuah kisah menarik tentang KH Ahmad Dahlan. Suatu ketika, santri-santrinya bertanya kepada beliau: “sebenarnya agama itu apa?” Pertanyaan yang sederhana. Tetapi jawabannya tidak sederhana. KH Ahmad Dahlan tidak langsung menjawab. Beliau justru mengambil sebuah biola, kemudian menggeseknya. Nada yang keluar begitu lembut. Para santri terdiam. Mereka merasakan keindahan. Ada yang mengatakan seperti berada dalam mimpi. Ada yang merasa persoalannya seakan hilang. Ada yang merasakan ketenteraman. Ada yang mengatakan: “Damai sekali.” Barulah kemudian KH Ahmad Dahlan berkata: “Nah, itulah agama.”
Agama, kata beliau dalam kisah tersebut, semestinya menghadirkan keindahan, ketenteraman dan kedamaian.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kemudian beliau meminta santri-santrinya mencoba memainkan biola. Mereka mencoba. Tetapi apa hasilnya? Bukan musik yang indah. Yang terdengar justru suara yang menderit, berantakan dan tidak enak didengar. Lalu KH Ahmad Dahlan memberikan sebuah pelajaran: Begitu juga agama.
Kalau agama tidak dipelajari dengan baik, agama dapat menjadi sesuatu yang mengganggu diri sendiri dan lingkungan.
Kalau agama tidak dipahami dengan benar, yang muncul bukan ketenteraman, tetapi keresahan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Betapa dalam pelajaran ini.
Biola yang bagus tidak otomatis menghasilkan musik yang bagus. Yang menentukan adalah siapa yang memainkannya dan apakah ia mempelajarinya dengan baik. Begitu juga agama. Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna. Rasulullah ﷺ adalah teladan yang sempurna. Islam adalah agama yang membawa rahmat.
Tetapi cara manusia memahami dan mengamalkan agama bisa berbeda. Karena itu, yang perlu kita tanyakan bukan hanya: “Apakah saya sudah beragama?” Tetapi: “Sudahkah saya belajar beragama?”
Jamaah rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di zaman yang sangat mudah mendapatkan informasi agama. Dulu, kalau kita ingin belajar agama, kita datang kepada kiai. Kita duduk di masjid. Kita duduk di pesantren. Kita membuka kitab. Kita mendengar guru.
Sekarang cukup membuka telepon genggam. Dalam beberapa detik, kita mendapatkan ceramah. Dalam beberapa menit, kita mendapatkan potongan ayat. Dalam beberapa detik, kita menemukan fatwa. Tetapi ada satu persoalan: Mudah mendapatkan informasi tidak selalu berarti mudah mendapatkan ilmu.
Kita bisa membaca satu ayat tanpa memahami tafsirnya. Bisa saja 1 ayat menghasilkan tafsir yg berbeda. Misalnya ayat tentang wudhu “وامسحوا برؤسكم ز Kita bisa mendengar satu hadis tanpa mengetahui konteksnya.
أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ ». قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ قَالَ « نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ
Kita bisa menemukan satu pendapat ulama tanpa mengetahui metode istinbatnya. Akhirnya kita merasa sudah mengetahui semuanya. Padahal baru mengetahui sebagian.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di sinilah pentingnya mazhab dan tradisi keilmuan.
Mazhab mengajarkan kepada kita bahwa memahami agama membutuhkan metode. Tidak cukup hanya membaca teks. Tidak cukup hanya mengutip hadis. Tidak cukup hanya mengatakan: “Menurut Al-Qur’an…” atau: “Menurut hadis…”
Pertanyaannya: Bagaimana ulama memahami Al-Qur’an dan hadis itu?
Karena itu, para imam mazhab tidak lahir dari ruang kosong. Mereka lahir dari tradisi ilmu yang panjang. Mereka belajar. Mereka berguru. Mereka membaca. Mereka meneliti. Mereka berdiskusi. Mereka mengembangkan metodologi. Maka bermazhab pada dasarnya adalah belajar beragama melalui tradisi keilmuan yang telah dibangun oleh para ulama.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita kembali kepada kisah biola tadi. Bayangkan seseorang mengambil biola. Ia tidak pernah belajar. Ia tidak tahu not. Ia tidak tahu nada. Ia tidak tahu bagaimana memegangnya. Kemudian ia berkata: “Saya ingin memainkan musik sendiri. Saya tidak membutuhkan guru.”
Apa yang terjadi? Bukan keindahan yang lahir. Tetapi suara yang berantakan. Begitu pula agama. Tidak belajar bukan tanda kebebasan berpikir. Kadang justru menjadi tanda bahwa kita belum memahami betapa luasnya ilmu agama.
Karena itu Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Nahl: 43)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Namun ada satu hal yang juga harus kita ingat. Belajar bermazhab jangan membuat kita merasa paling benar. Inilah yang sering menjadi persoalan. Seseorang belajar satu pendapat.
Kemudian ia merasa semua orang yang berbeda dengannya pasti salah. Padahal khazanah fikih Islam sangat luas. Para imam besar berbeda pendapat dalam berbagai persoalan. Namun mereka tetap ulama. Mereka tetap saling menghormati.
Mereka tidak menjadikan perbedaan fikih sebagai alasan untuk menghancurkan persaudaraan. Karena itu: Bermazhablah dengan ilmu, jangan dengan fanatisme. Berbeda pendapatlah dengan adab, bukan dengan kebencian. Berpegang teguhlah pada keyakinan, tetapi jangan kehilangan kasih sayang.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana tetapi penting: “Ketika orang lain bertemu dengan kita, apakah mereka merasakan keindahan agama?”
Jangan sampai kita seperti orang yang memainkan biola tanpa belajar. Agama yang seharusnya indah, justru terdengar sumbang karena cara kita membawakannya. Al-Qur’an mengajarkan kasih sayang, tetapi ucapan kita menyakiti. Islam mengajarkan persaudaraan, tetapi kita memutus silaturahmi. Rasulullah mengajarkan kelembutan, tetapi kita mudah menghina. Mazhab mengajarkan tradisi ilmu, tetapi kita menggunakannya untuk bertengkar. Di mana masalahnya?
Bukan pada Islam. Bukan pada Al-Qur’an. Bukan pada Rasulullah ﷺ. Tetapi mungkin pada cara kita belajar dan mengamalkan agama.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’: 107)
Maka kalau kita benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ, semestinya orang lain merasakan rahmat dari keberadaan kita.
Bukan ketakutan. Bukan kebencian. Bukan permusuhan. Tetapi kedamaian. Jamaah yang dirahmati Allah, Mari kita belajar agama dengan sungguh-sungguh. Mari kita hormati ulama. Mari kita menghargai mazhab. Mari kita pelajari perbedaan dengan ilmu. Tetapi di atas semua itu, jangan kehilangan akhlak.
Sebab ilmu yang tinggi tanpa akhlak dapat menjadi kesombongan. Mazhab yang dipahami tanpa keluasan hati dapat menjadi fanatisme. Dan agama yang tidak dipelajari dengan baik dapat menjadi sumber keresahan. Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri kita: “Sudahkah agama kita menjadi musik yang indah bagi orang-orang di sekitar kita?”
Kita camkan :
Agama yang dipelajari dengan ilmu melahirkan ketenangan.
Agama yang dihayati dengan iman melahirkan ketenteraman.
Agama yang diamalkan dengan akhlak melahirkan kedamaian.
Maka mulai hari ini, mari kita ubah satu hal: Jangan hanya bertanya: “Apakah pendapat saya benar?” Tetapi tanyakan juga: “Apakah cara saya menyampaikan kebenaran sudah benar?” bisa jadi apa yang kita sampaikan adalah memang benar tetapi mungkin situasinya atau caranya kurang tepat. Maka ada ungkapan orang Arab:
لكل مقام مقال ولكل مقال مقام “setiap tempat ada ucapan yang sesuai dan tiap ucapan yang sesuai”
Jangan hanya bertanya: “Apakah ibadah saya diterima?” Tetapi tanyakan: “Apakah ibadah saya telah memperbaiki akhlak saya?” Jangan hanya bertanya: “Mazhab siapa yang paling benar?” Tetapi tanyakan: “Apakah saya sudah memahami mazhab dengan ilmu dan adab?”
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.




