SAMARINDA, UINSI NEWS,— Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Peluang dan Tantangan Generasi Z dalam Berdialog dengan Kitab Suci” di Aula Kampus 1 UINSI Samarinda. Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar Ulumul Quran Indonesia, Prof. Dr. KH. Muh. Nur Kholis Setiawan, M.A., sebagai narasumber utama dan dipandu Dr. Fuad Fansuri, M.Th.I., selaku Koordinator Program Studi Studi Islam Pascasarjana serta di dampingi sekretaris prodi Dr. Harjriana, M.Pd. Jumat, (16/10).
Kuliah umum ini menjadi perjumpaan akademik perdana yang memberi ruang interaksi langsung antara mahasiswa dan narasumber. Dalam sambutannya, Wakil Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Khojir, M.SI., menekankan relevansi tema tersebut di tengah perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence), yang kini turut memengaruhi cara Generasi Z membaca, memahami, dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Prof. Nur Kholis Setiawan menyampaikan bahwa Generasi Z memiliki pola berpikir, kebiasaan, dan cara mengakses informasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus dipandang negatif, melainkan peluang untuk membangun model baru dalam berdialog dengan Al-Qur’an.
Menurut beliau, mahasiswa masa kini cenderung memanfaatkan media sosial, aplikasi digital, dan kecerdasan buatan dalam mencari pemahaman keagamaan. Namun, beliau mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tersebut perlu disertai kedalaman ilmu, kehati-hatian metodologis, serta rujukan kepada khazanah keilmuan Islam yang otentik.
Beliau mencontohkan bahwa sejumlah kajian mahasiswa menunjukkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dimaknai ulang melalui ruang digital dan media sosial. Baginya, hal itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an tetap menjadi sumber inspirasi yang hidup, tetapi pemaknaannya harus dibangun secara bertanggung jawab melalui kajian yang mendalam.
Dalam paparannya, Prof. Nur Kholis menekankan pentingnya mahasiswa dan intelektual Muslim untuk tidak berhenti pada penjelasan permukaan. Beliau mengajak peserta mengenal khazanah tafsir, tasawuf, hadis, dan ilmu-ilmu Al-Qur’an klasik sebagai pijakan dalam memahami makna yang lebih dalam.
Beliau menyebut bahwa para ulama klasik memiliki keberanian intelektual, kedalaman spiritual, serta keseimbangan antara nalar dan moral. Keseimbangan itu, menurut beliau, menjadi warisan penting peradaban Islam yang perlu diwariskan kepada generasi akademik saat ini.
“Menjadi ilmuwan berarti memiliki posisi keilmuan yang jelas dan tanggung jawab terhadap temuannya,” ujar Prof. Nur Kholis. Beliau menegaskan bahwa kajian Al-Qur’an tidak boleh hanya bersifat deskriptif, tetapi juga harus mampu menghasilkan pemahaman yang bermakna dan relevan dengan kehidupan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan kontribusi akademik mahasiswa Pascasarjana UINSI Samarinda. Pihak program studi menyampaikan bahwa mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan artikel ilmiah sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung akreditasi program studi.
Pihak Pascasarjana menegaskan bahwa penulisan artikel ilmiah bukan hanya tuntutan administratif, tetapi juga sarana melatih mahasiswa untuk berpikir kritis, meneliti, dan menyampaikan gagasan secara akademis. Dukungan seluruh unsur program studi, dosen, dan mahasiswa diharapkan mampu mewujudkan capaian akreditasi yang baik.
Kuliah umum ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa Pascasarjana UINSI Samarinda untuk lebih akrab dengan Al-Qur’an, memperdalam khazanah keilmuan Islam, dan mengembangkan cara berdialog yang kreatif namun tetap berlandaskan ilmu. Melalui kegiatan tersebut, Pascasarjana UINSI Samarinda menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi intelektual Muslim yang berwawasan Qur’ani, kritis, dan berakhlak.
Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati






