by

Maksimalkan Peran Rumah moderasi Beragama UINSI, Balitbang Agama Makassar Beri Asistensi Moderasi Beragama

-Berita-133 views

SAMARINDA, UINSI NEWS,- Rektor UINSI Samarinda bersama Kapus Moderasi Beragama dan jajaran pimpinan UINSI hadiri Asistensi Rumah Moderasi Beragama yang diinisiasi oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar di Hotel Aston Samarinda, Senin (7/11).

Asistensi Rumah Moderasi Beragama Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri Tahun 2022 merupakan wadah berdiskusi dan sharing knowladge, khususnya pengembangan moderasi beragama di PTKIN. Lebih lanjut, kegiatan ini menjadi momen terbentuknya jejaring kerja sama antara Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar dengan UINSI Samarinda terkait pelaksanaan pengembangan moderasi beragama.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, Dr. H. Saprillah, S.Ag., M.Si.dalam sambutannya sampaikan semangat moderasi beragama perlu dukungan dari setiap unsur terkait.

“Tujuan kami mengadakan asistensi ini adalah yaitu membentuk spirit dengan empowering rumah-rumah moderasi beragama di PTKIN untuk membuat ekosistem kerja berbagai lini yang harus bergerak di lapangan. Karena spirit moderasi beragama ini merupakan spirit ekosistem, kita tidak bisa menggerakan moderasi beragama sendirian,” jelasnya.

“Moderasi beragama sebenarnya merupakan pemikiran negara dalam suatu kajian politik yaitu bertitik kepada pengendalian sosial, karena pada dasarnya fungsi dari moderasi beragama itu sendiri adalah untuk memastikan bahwa harmoni berjalan dan Indonesia tetap ada, bukan hanya fokus kepada konfliknya saja tetapi harus membangun suatu budaya yang menjadi solusi agar masalah konkrit dapat diselesaikan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kampus atau Perguruan Tinggi dinilai menjadi partikel yang sangat penting, karena kampus adalah wadah dimana berkumpulnya dan lahirnya orang-orang intelektual. Sehingga kampus bertugas untuk menjembatani pikiran negara menjadi pikiran publik.

Sepaham dengan Dr. Saprillah, Rektor UINSI Samarinda Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M.Pd. dalam sambutannya juga menyebut kampus sebagai ujung tombak dari moderasi beragama.

“Kalau sudah berbicara masalah moderasi beragama ujung tombaknya adalah kampus. karena setelah kita transisi geliat moderasi ini semakin terasa di Kalimamtan Timur khususnya.”

“Ada 3 objek yang dititipkan sebagai Isyarat Allah SWT tentang moderasi ini. Jika kita melihat pesan yang ada dalam Q.S. Al-Baqarah Ayat 143, dalam moderasi beragama sebenarnya agama tidak ada masalah akan tetapi umatnyalah yang harus moderat. Kemudian, yang moderat itu seperti apa? itu yang perlu dirumuskan dan didiskusikan dengan indikator-indikator tertentu. Lalu, yang ketiga adalah memberikan ruang kepada kita semua untuk selalu diskusi dan mendiskusikan, maka inilah kesempatan yang sangat baik untuk memunculkan rumah moderasi, memunculkan kampus moderasi. Setelah adanya diskusi ini paling tidak moderasi mampu memperkuat esensi ajaran agama untuk lebih berhati-hati, lebih kritis, lebih toleran, dan sebagainya,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Ilyasin tekankan pengaruh teknologi dan transformasi digital hingga media sosial yang dapat menciptakan framing tafsir dan gesekan-gesekan antar umat.

“Sekali lagi fundamental yang bisa dirasakan sekarang adalah semakin canggihnya teknologi membuat orang-orang tidak puas dengan belajar agama melalui para guru dan ulama ataupun kepada orang secara langsung, tetapi juga melalui media sosial yang memungkinkan terjadinya gesekan atau perbedaan penafsiran yang kemudian perlu adanya peran dari moderasi beragama,” tambahnya.

“Konklusinya adalah moderasi beragama tidak akan terwujud kalau kita tidak mewujudkan kedamaian karena dalam kedamaian itulah nantinya akan membuat kita bisa berIslam dengan moderat karena pada dasarnya semua agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk tidak berlebihan dalam menjalankan agamanya masing-masing,” tutupnya. (humas, li, ns)