Oleh : Etty Nurbayani
(Tulisan ini untuk mengingatkan dan memotivasi diri penulis agar bisa lebih bijak, lebih kuat, dan lebih sehat selama Ramadhan)
Bulan Ramadhan selalu identik dengan suasana hangat, kebersamaan, dan tentu saja aneka kue khas yang menggoda selera. Meja berbuka sering dipenuhi kolak, kue lapis, pastel, risoles, hingga aneka gorengan yang harum menggugah selera. Di satu sisi, kue Ramadhan menghadirkan kenikmatan dan tradisi yang dirindukan. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting: bagaimana menjaga kesehatan di tengah limpahan sajian manis dan lezat?
Kue Ramadhan bukan sekadar makanan. Ia menjadi bagian dari budaya dan kenangan. Aroma kolak pisang yang mengepul, manisnya es buah, atau legitnya kue kue tradisional yang bermunculan menghadirkan rasa nostalgia dan kebersamaan keluarga.
Berbuka puasa dengan sesuatu yang manis juga sesuai anjuran sunnah, karena gula alami membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Tidak heran jika hidangan manis menjadi pilihan utama saat azan magrib berkumandang. Momen berbuka pun terasa lebih lengkap dengan sajian kue yang dinikmati bersama orang-orang tercinta.
Meski sangat menggoda, kue Ramadhan umumnya tinggi gula, lemak, dan kalori. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini dapat memicu kenaikan berat badan, lonjakan gula darah, hingga gangguan pencernaan. Ironisnya, bulan yang seharusnya menjadi momentum menyehatkan justru bisa berubah menjadi ajang “balas dendam” setelah seharian menahan lapar.
Tubuh yang seharian berpuasa membutuhkan asupan yang cukup dan seimbang, bukan berlebihan. Mengawali berbuka dengan terlalu banyak gorengan atau minuman manis bisa membuat lambung bekerja keras secara tiba-tiba, menyebabkan perut kembung atau lemas setelah makan.
Ramadhan tidak melarang kenikmatan, tetapi mengajarkan keseimbangan. Kue boleh dinikmati, namun dengan porsi yang wajar. Beberapa tips sederhana oleh ahli ahli kesehatan yang muncul di beranda Fb menawarkan bagaimana cara menjaga kesehatan selama Ramadhan:
Berbuka secara bertahap – Mulai dengan air putih dan kurma, lalu beri jeda sebelum makan besar.
Batasi porsi kue manis dan gorengan – Cukup satu atau dua jenis sebagai pelengkap, bukan hidangan utama.
Perbanyak buah dan sayur – Agar kebutuhan serat dan vitamin tetap terpenuhi. Buah tinggi serat selama puasa untuk menjaga pencernaan tetap lancar dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Pilihan terbaik meliputi kurma, alpukat, pir (dengan kulit), apel, pisang, dan buah beri
Tetap aktif bergerak – Lakukan aktivitas ringan atau olahraga setelah berbuka atau sebelum sahur.
Dengan cara ini, mungkin tetap dapat menikmati kelezatan kue Ramadhan tanpa mengorbankan kesehatan.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga melatih pengendalian diri. Kenikmatan kue Ramadhan adalah bagian dari kebahagiaan, namun kesehatan adalah amanah yang harus dijaga. Ketika keduanya diseimbangkan, Ramadhan menjadi bulan yang tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga menyehatkan tubuh.
Semoga Ramadhan kali ini menjadi momen untuk lebih bijak menikmati setiap sajian, menghadirkan kebahagiaan tanpa berlebihan, serta menjaga kesehatan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.




