SAMARINDA, UINSI NEWS — Kajian Dzuhur Berkah Ramadhan yang diselenggarakan oleh UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda kembali menghadirkan pencerahan spiritual bagi sivitas akademika. Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Prof. Dr. Zamroni, M.Pd., menyampaikan tausiyah bertema “Etos Kerja dan Produktivitas Kerja di Bulan Ramadhan.”
Dalam pemaparannya, Prof. Zamroni menegaskan bahwa pembahasan tentang etos kerja dalam perspektif Islam tidak dapat dilepaskan dari khazanah keilmuan para ulama serta rujukan utama umat Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadis. Prof. Zamroni mengingatkan bahwa sebagai muslim, setiap langkah dan pemikiran hendaknya merujuk kepada petunjuk Ilahi, sebagaimana doa yang senantiasa dipanjatkan dalam Surah Al-Fatihah: memohon ditunjukkan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat dan hikmah.
Menurutnya, penting bagi setiap insan akademik untuk memahami sanad dan otoritas keilmuan dalam mengambil dalil maupun menetapkan suatu pandangan hukum. Tradisi ilmiah dalam Islam dibangun di atas fondasi kejelasan sumber, integritas transmisi ilmu, serta tanggung jawab moral dalam mengamalkannya.
Lebih lanjut, beliau mengulas bagaimana seorang muslim memaknai etos kerja saat menjalankan ibadah puasa. Di lingkungan UINSI Samarinda, aktivitas kerja yang berlangsung di ruang-ruang perkantoran yang representatif tidak menjadi hambatan berarti. Justru, Ramadhan menghadirkan momentum untuk menumbuhkan rasa syukur dan penghargaan terhadap nikmat Allah SWT.
Beliau mencontohkan fenomena sederhana tentang makanan dan minuman. Hidangan yang biasa dikonsumsi di luar Ramadhan terasa menjadi istimewa ketika waktu berbuka tiba. Bahkan seteguk air putih menghadirkan kenikmatan yang luar biasa. Dari pengalaman spiritual tersebut, Ramadhan mendidik manusia untuk menghargai nikmat sekecil apa pun serta menumbuhkan kesadaran bahwa segala karunia berasal dari Allah SWT.
Haus dan lapar, lanjutnya, merupakan bentuk riyadhah (latihan spiritual) yang membentuk kepekaan sosial. Melalui puasa, seorang muslim diajak merasakan kondisi saudara-saudara yang hidup dalam keterbatasan, sehingga tumbuh empati dan dorongan untuk berbagi. Ramadhan juga mengajarkan kerendahan hati bahwa sehebat, sekaya, dan sepintar apa pun manusia, tanpa makan dan minum ia tetap makhluk yang lemah di hadapan Allah SWT.
Dalam perspektif sejarah Islam, Prof. Zamroni mengingatkan bahwa banyak peristiwa besar terjadi di bulan Ramadhan, di antaranya Perang Badar yang menjadi tonggak kemenangan umat Islam. Bahkan dalam konteks kebangsaan, momentum 17 Agustus yang menandai kemerdekaan Republik Indonesia juga berada di bulan Ramadhan pada tahun 1945. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukanlah alasan untuk melemahkan semangat kerja dan perjuangan, melainkan justru menguatkan tekad dan produktivitas.
“Etos kerja seorang muslim tidak boleh menurun di bulan Ramadhan. Justru dengan niat yang benar, setiap pekerjaan bernilai ibadah,” tegasnya. Bekerja untuk menafkahi keluarga, memenuhi kebutuhan hidup, serta menjaga keberlangsungan ibadah merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah SWT apabila diniatkan secara ikhlas.
Beliau juga mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum muhasabah. Selama sebelas bulan sebelumnya, manusia tidak luput dari kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Ramadhan hadir sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan pelipatgandaan pahala. Setiap amal kebajikan diberi ganjaran yang berlipat, sehingga menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki kualitas ibadah secara personal maupun sosial.
Sebagai penutup, Prof. Zamroni mengingatkan bahwa kesalehan di bulan Ramadhan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial. Menghindari ghibah, menjaga lisan, tidak merugikan orang lain, serta memperbanyak amal kebajikan adalah wujud konkret dari etos kerja yang dilandasi nilai-nilai spiritual.
Kajian Dzuhur Berkah Ramadhan ini diharapkan semakin memperkuat integrasi antara spiritualitas dan profesionalitas di lingkungan UINSI Samarinda, sehingga setiap aktivitas kerja tidak hanya berorientasi pada capaian administratif, tetapi juga bernilai ibadah dan keberkahan.
Penulis : Novan Halim
Editor : Nisa Rahmawati













