Dari Adiwiyata ke Ekoteologi: Kunci Sukses Sekolah Berkelanjutan Diungkap Hasan Basri dan Abdul Rahman

 

SAMARINDA, UINSI NEWS,-Pembahasan strategi implementatif menuju Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri serta penguatan perspektif ekoteologi menjadi penutup penting dalam rangkaian Webinar Nasional “Gerakan Literasi Ekoteologis: Strategi Transformasi Sekolah Adiwiyata Nasional” yang digelar UINSI Samarinda, Kamis (30/4/2026).

Narasumber ketiga, Hasan Basri, peraih Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri, memaparkan strategi konkret yang dapat ditempuh sekolah dalam mencapai predikat tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Adiwiyata bertumpu pada empat komponen utama, yakni kebijakan berbasis lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta sarana prasarana ramah lingkungan.

Dalam aspek kebijakan, sekolah dituntut memiliki visi-misi yang berpihak pada kelestarian lingkungan, program tertulis dalam dokumen perencanaan seperti RKAS dan RKS, serta aturan sekolah yang mendukung perilaku ramah lingkungan. Sementara itu, pada aspek kurikulum, integrasi isu lingkungan harus hadir di seluruh mata pelajaran, tidak hanya sebatas teori, tetapi juga berbasis praktik nyata.

“Adiwiyata tidak bisa berjalan parsial. Semua harus terintegrasi, mulai dari kebijakan hingga aktivitas harian di sekolah,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kegiatan partisipatif yang melibatkan seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan, seperti program Jumat bersih, pengelolaan bank sampah, hingga gerakan penanaman pohon. Di sisi lain, penyediaan sarana ramah lingkungan seperti taman sekolah, tempat sampah terpilah, sistem hemat air, dan komposter menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Menurutnya, terdapat empat kunci sukses menuju Adiwiyata Nasional dan Mandiri, yakni konsistensi program, dokumentasi yang lengkap, inovasi sekolah, serta kolaborasi lintas pihak. “Adiwiyata adalah budaya. Ia bukan sekadar program sesaat, tetapi proses membangun generasi yang peduli lingkungan untuk masa depan berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, narasumber keempat, M. Abdul Rahman, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, mengulas pendekatan ekoteologi sebagai fondasi nilai dalam gerakan literasi lingkungan. Ia menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan sintesis antara nilai-nilai Al-Qur’an dengan praktik pelestarian lingkungan guna membangun kesadaran ekologis berbasis spiritual.

Menurutnya, konsep tauhid menegaskan keterhubungan kosmis antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual.

“Manusia sebagai khalifah bukan pemilik bumi, tetapi pengelola yang bertanggung jawab. Ada akuntabilitas vertikal kepada Tuhan, horizontal kepada sesama, dan ekologis kepada alam,” jelasnya.

Ia juga menguraikan prinsip mizan (keseimbangan) sebagai dasar etika lingkungan dalam Islam. Pelanggaran terhadap keseimbangan alam akan melahirkan kerusakan (fasad), sehingga diperlukan pengendalian terhadap perilaku eksploitatif, termasuk larangan berlebih-lebihan (israf) dan pentingnya konservasi sumber daya.

Mengacu pada QS. Al-Baqarah ayat 30 dan QS. Ar-Rum ayat 41, ia menegaskan bahwa manusia memiliki amanah untuk menjaga bumi dan dilarang melakukan kerusakan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, perlu diinternalisasikan dalam sistem pendidikan melalui pendekatan yang holistik.

Ia menawarkan tiga pilar utama dalam gerakan literasi ekoteologis, yakni pilar ritual, edukasi, dan advokasi. Pilar ritual diwujudkan melalui praktik ibadah yang mengandung kesadaran ekologis, seperti doa dan dzikir yang terhubung dengan kepedulian lingkungan. Pilar edukasi berfokus pada integrasi tafsir ekologi dalam kurikulum pendidikan, sementara pilar advokasi mendorong keterlibatan aktif komunitas dalam pengawasan kebijakan lingkungan.

“Gerakan literasi ekoteologis adalah upaya menghubungkan doa dengan aksi. Spiritualitas tidak berhenti pada ritual, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata menjaga lingkungan,” ungkapnya.

Paparan dua narasumber ini mempertegas bahwa transformasi menuju sekolah berbudaya lingkungan tidak hanya membutuhkan strategi teknis, tetapi juga fondasi nilai yang kuat. Sinergi antara kebijakan, praktik pendidikan, dan kesadaran spiritual menjadi kunci dalam menjawab tantangan krisis ekologis yang kian kompleks.

webinar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga momentum membangun kesadaran kolektif bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam mentransformasikan nilai menjadi aksi nyata demi keberlanjutan lingkungan.#

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»