Regulasi Baru Adiwiyata dan Penguatan Kriteria Jadi Sorotan Webinar Nasional Ekoteologi

SAMARINDA, UINSI NEWS,-Pembahasan mendalam mengenai implementasi Program Adiwiyata menjadi salah satu fokus utama dalam Webinar Nasional “Gerakan Literasi Ekoteologis: Strategi Transformasi Sekolah Adiwiyata Nasional” yang digelar UINSI Samarinda, Kamis (30/4/2026).

Narasumber Muhammad Asmuni, M.H., yang juga merupakan Pengawas Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda, memaparkan secara komprehensif kebijakan terbaru terkait penyelenggaraan Program Adiwiyata berdasarkan Permen Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa penghargaan lingkungan bukan sekadar simbol seremonial, melainkan instrumen strategis untuk mendorong perubahan perilaku dan memperkuat sinergi lintas sektor. Menurutnya, berbagai bentuk penghargaan seperti Kalpataru, Adipura, Adiwiyata, hingga PROPER merupakan bagian dari upaya sistematis negara dalam mengapresiasi sekaligus mengarahkan praktik pelestarian lingkungan.

“Penghargaan bukan sekadar piala, tetapi komitmen moral. Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, melainkan meminjamnya dari anak cucu kita. Penghargaan adalah janji untuk menjaga pinjaman itu,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan sejumlah perubahan penting dalam regulasi terbaru, di antaranya penguatan kewenangan pemerintah provinsi serta kabupaten/kota dalam proses penilaian dan pemberian penghargaan sekolah Adiwiyata. Selain itu, terdapat pembaruan pada sistem level penghargaan, masa berlaku, serta kriteria dan indikator penilaian yang kini lebih terstruktur dan terukur. Dalam aturan terbaru, juga tidak lagi terdapat penghargaan khusus dari kepala daerah.

Menurut Asmuni, esensi Program Adiwiyata terletak pada upaya membangun budaya lingkungan di sekolah melalui kebiasaan nyata warga sekolah. “Bukan hanya program administratif, tetapi gerakan kolektif—mulai dari perencanaan, kebijakan, pembelajaran, aksi nyata, hingga penyediaan sarana prasarana yang mendukung perilaku ramah lingkungan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sekolah yang ingin menjadi bagian dari program ini perlu melakukan registrasi melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA), menyusun tim internal, serta mengajukan diri kepada instansi lingkungan hidup sesuai kewenangannya. Seluruh proses tersebut harus dibarengi dengan komitmen kuat dalam implementasi di lapangan.

Dalam perspektif nilai, ia juga mengingatkan bahwa setiap upaya pelestarian lingkungan memiliki dimensi spiritual. Ia mengutip pesan Nabi Muhammad SAW bahwa setiap tanaman yang ditanam dan dirawat hingga memberi manfaat akan bernilai sedekah bagi penanamnya—sebuah prinsip yang memperkuat landasan ekoteologis dalam pendidikan lingkungan.

Sementara itu, narasumber kedua, Heri Gunawan, Ketua Forum Adiwiyata Kota Samarinda, menyoroti pentingnya pemenuhan kriteria sekolah Adiwiyata secara komprehensif. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan sekolah dalam meraih predikat Adiwiyata tidak hanya diukur dari aspek fisik atau administratif, tetapi juga dari integrasi nilai lingkungan dalam seluruh aktivitas pendidikan.

“Kunci utamanya adalah konsistensi dan keterlibatan seluruh warga sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga orang tua harus memiliki kesadaran yang sama dalam membangun budaya peduli lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sekolah perlu mengintegrasikan isu lingkungan dalam kurikulum, membangun kebijakan internal yang mendukung, serta mengembangkan kegiatan partisipatif yang berkelanjutan. Dengan demikian, Adiwiyata tidak berhenti pada capaian penghargaan, tetapi menjadi budaya hidup yang melekat dalam keseharian.

Paparan kedua narasumber ini memperkaya wawasan peserta mengenai strategi implementatif dalam mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan. Diskusi pun semakin dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta terkait tantangan di lapangan.

Webinar ini menegaskan bahwa transformasi menuju sekolah Adiwiyata Nasional membutuhkan sinergi kebijakan, praktik nyata, serta penguatan nilai-nilai etis dan spiritual sebagai fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.#

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»