Mahasiswa MBKM BKI UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Gelar Talkshow Internasional “Positive Self Talk” Bersama PEKA Malaysia dan HMPS BKI

MALAYSIA, UINSI NEWS – Tiga Mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menunjukkan kiprah akademiknya di tingkat internasional melalui penyelenggaraan talkshow bertajuk “Positive Self Talk”.

Kegiatan yang dilaksanakan secara live streaming melalui Instagram ini merupakan bagian dari program internship internasional mahasiswa BKI UINSI Samarinda bersama Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA). Talkshow tersebut juga didukung oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) BKI UINSI Samarinda.

Talkshow ini menghadirkan tiga mahasiswa BKI sebagai narasumber, yaitu Alya Octavia, Azhari Aprilia Hasanah, dan Jihan Sabrina Anggraini. Ketiganya membawakan materi seputar pentingnya membangun pola pikir positif melalui self talk sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan mental, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperkuat kualitas diri.

Sementara itu, jalannya kegiatan dipandu oleh Raihanah, Zaskia Aulya Rahma, Nur Ajidah, dan Rahmalia Azizah. Para host mampu membangun suasana diskusi yang interaktif, komunikatif, dan tetap edukatif, sehingga peserta dapat mengikuti materi dengan antusias.

Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan bahwa self talk merupakan dialog internal yang terjadi dalam diri seseorang. Dialog ini memiliki pengaruh besar terhadap emosi, perilaku, serta cara individu memandang dirinya sendiri. Apabila self talk yang muncul cenderung negatif, hal tersebut dapat memicu kecemasan, rasa rendah diri, hingga kesulitan dalam mengambil keputusan.

Oleh karena itu, narasumber menekankan pentingnya setiap individu untuk mulai menyadari pola pikir yang terbentuk dalam dirinya. Pikiran negatif perlu dikenali, kemudian secara bertahap diarahkan menjadi kalimat yang lebih positif, sehat, dan realistis.

Lebih lanjut, narasumber juga menjelaskan bahwa positive self talk bukan berarti mengabaikan kenyataan atau memaksakan diri untuk selalu berpikir positif. Positive self talk dimaknai sebagai kemampuan mengelola pikiran negatif dengan cara yang lebih rasional dan membangun. Dengan membiasakan dialog internal yang positif, seseorang akan lebih mampu menghadapi tekanan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga kestabilan emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan melalui kolom komentar selama siaran langsung berlangsung. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai cara mengubah kebiasaan negative talk menjadi positive talk, termasuk apakah perubahan tersebut lebih efektif dilakukan melalui penggantian kalimat dalam diri atau dengan memperbaiki lingkungan pertemanan.

Selain itu, peserta lain juga menanyakan cara menerapkan positive self talk ketika sedang berada dalam kondisi terpuruk atau down. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya tertarik pada konsep positive self talk, tetapi juga ingin memahami penerapannya dalam situasi nyata.

Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyadari pikiran negatif yang muncul. Setelah itu, individu dapat menggantinya secara perlahan dengan kalimat yang lebih positif, realistis, dan tidak menyalahkan diri sendiri. Narasumber juga menekankan bahwa lingkungan pertemanan yang suportif memiliki peran penting dalam membantu seseorang membangun pola pikir yang lebih sehat.

Kegiatan talkshow berlangsung lancar, interaktif, dan memberikan ruang diskusi yang terbuka antara narasumber dan peserta. Selain menjadi sarana berbagi pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan mental melalui pola pikir yang positif.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa BKI UINSI Samarinda tidak hanya mengasah kemampuan komunikasi dan public speaking dalam forum internasional, tetapi juga turut berkontribusi dalam menyebarkan edukasi kesehatan mental kepada masyarakat luas.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan peran mahasiswa BKI UINSI Samarinda sebagai calon konselor Islam yang adaptif, komunikatif, dan mampu memberikan dampak positif, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Penulis: Alya Octavia
Editor: Selvi Ramadhani (HUMAS)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»