Literasi Digital dan Ikhtiar Menjaga Islam Wasathiyah di Ruang Siber

SAMARINDA, UINSI NEWS,-Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bekerjasama dengan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam kembali menghadirkan ruang diskusi keislaman dan literasi digital melalui webinar bertema “Smart Literasi Digital: Strategi Produksi Konten Digital Kreatif Guna Meneguhkan Islam Wasathiyah di Ruang Siber” yang digelar pada Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WITA tersebut menghadirkan Dr. Septian Aristya,M.Pd sebagai narasumber dan dipandu oleh moderator Dwi Andhika Saputra.

Kepala Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda, Dr. Badrut Tamam, M.Pd.I dalam opening speech-nya menegaskan bahwa ruang digital hari ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia modern. Media sosial, menurutnya, tidak lagi sekadar sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang pembentukan opini, budaya, bahkan cara pandang keagamaan masyarakat.

“Kita hidup di era ketika satu konten dapat memengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia hanya dalam hitungan menit,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai ruang digital tidak boleh dibiarkan kosong dari nilai-nilai kebaikan. Dunia maya harus diisi dengan narasi yang menenangkan, mencerahkan, dan menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dalam sambutannya, Badrut Tamam mengutip firman Allah Swt.:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah dan komunikasi Islam harus dibangun dengan hikmah, kelembutan, dan pendekatan yang baik, termasuk di ruang digital yang kini menjadi arena interaksi generasi muda.

Ia juga menyoroti pentingnya meneguhkan Islam Wasathiyah atau Islam moderat di tengah derasnya arus informasi digital yang sering dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, provokasi, hingga ekstremisme narasi.

“Islam Wasathiyah adalah Islam yang tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i‘tidal. Islam yang menghadirkan keseimbangan, toleransi, dan keadaban,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia kembali mengutip firman Allah Swt.:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan (umat yang moderat)…”
(QS. Al-Baqarah: 143)

Ayat tersebut, menurutnya, memberikan tanggung jawab moral kepada umat Islam untuk menjadi umat penengah yang menghadirkan kedamaian dan keseimbangan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam aktivitas bermedia digital.

Badrut Tamam menjelaskan bahwa literasi digital hari ini tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Lebih dari itu, literasi digital harus melahirkan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, membangun etika komunikasi, serta memproduksi konten yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, konten digital kreatif dapat menjadi media dakwah yang sangat efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam yang damai dan humanis kepada generasi muda. Video pendek, podcast, desain grafis, reels, hingga tulisan reflektif dinilai mampu menjadi sarana membangun ekosistem dakwah digital yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Namun di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa ruang siber saat ini sering dipenuhi polarisasi, saling hujat, dan klaim kebenaran yang merendahkan pihak lain. Karena itu, para akademisi, mahasiswa, guru, content creator, dan generasi muda muslim memiliki tanggung jawab besar menghadirkan ruang digital yang sehat dan beradab.

Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut, menurutnya, sangat relevan dengan budaya digital saat ini. Setiap unggahan, komentar, maupun konten yang dibagikan di media sosial sesungguhnya merupakan cerminan etika dan tanggung jawab moral seorang muslim.

“Smart literasi digital harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga matang secara etika dan spiritual,” ujarnya.

Ia berharap media sosial tidak lagi dipandang sekadar ruang eksistensi dan viralitas, tetapi menjadi ruang kontribusi dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

“Kita membutuhkan lebih banyak konten yang menginspirasi, mendidik, dan menguatkan nilai persaudaraan,” katanya.

Pusat Literasi dan media Digital UINSI Samarinda berkomitmen dalam penguatan literasi digital berbasis nilai-nilai moderasi beragama dan kemanusiaan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan literasi digital dipandang menjadi bagian penting dalam membangun generasi muslim yang adaptif, kreatif, dan tetap berakar pada nilai-nilai Islam Wasathiyah.#

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»