Oleh: Dr. Hj. Titi Kadi, M.Pd.I
Pergantian tahun selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di berbagai belahan dunia, pergantian tahun Masehi identik dengan pesta kembang api, hitung mundur, dan perayaan yang meriah. Namun, Tahun Baru Hijriah hadir dengan nuansa yang jauh lebih hening. Ia tidak mengajarkan euforia, melainkan mengajak setiap muslim untuk berhenti sejenak, merenung, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana perjalanan hijrah kita?
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah bukan sekadar penanda bertambahnya angka dalam kalender. Ia adalah momentum sejarah yang mengingatkan umat Islam pada salah satu peristiwa paling monumental dalam perjalanan peradaban, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menariknya, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi, turunnya wahyu pertama, ataupun kemenangan besar dalam peperangan. Khalifah Umar bin Khattab memilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam karena hijrah merupakan titik balik lahirnya sebuah masyarakat baru yang berlandaskan iman, keadilan, persaudaraan, dan peradaban.
Pilihan tersebut menyimpan pesan yang sangat mendalam. Hijrah bukan hanya perpindahan geografis dari satu tempat ke tempat lain, tetapi merupakan transformasi menyeluruh—perubahan cara berpikir, cara bersikap, cara memimpin, dan cara membangun kehidupan bersama. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan lama yang menghambat kemajuan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.
Nilai historis ini menjadi sangat relevan untuk direnungkan di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Saat ini, manusia memang hidup di era kemajuan teknologi yang luar biasa. Kecerdasan buatan, media sosial, dan digitalisasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Namun, kemajuan tersebut tidak selalu diikuti oleh kematangan karakter. Kita menyaksikan maraknya penyebaran hoaks, polarisasi sosial, ujaran kebencian, degradasi etika digital, hingga krisis empati yang perlahan menggerus kualitas hubungan antarmanusia.
Dalam konteks inilah spirit hijrah menemukan relevansinya. Hijrah pada abad ke-21 bukan lagi soal meninggalkan kampung halaman, tetapi meninggalkan perilaku yang merusak diri dan masyarakat. Hijrah berarti berpindah dari budaya saling mencela menuju budaya saling menghargai, dari konsumsi informasi tanpa verifikasi menuju literasi digital yang bertanggung jawab, dari sikap individualistik menuju kepedulian sosial, serta dari orientasi popularitas menuju orientasi kebermanfaatan.
Lebih jauh, hijrah juga mengajarkan pentingnya membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan. Setibanya di Madinah, Nabi Muhammad SAW tidak hanya membangun masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadikannya pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pengembangan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa agama dan ilmu bukanlah dua kutub yang dipertentangkan, melainkan saling menguatkan dalam membangun kemajuan umat.
Semangat ini seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan Indonesia. Tahun Baru Hijriah dapat dimaknai sebagai momentum hijrah intelektual, yaitu perubahan dari budaya membaca sekadarnya menjadi budaya literasi yang kuat, dari sekadar mengejar nilai menjadi mengejar kualitas ilmu, dari plagiarisme menuju integritas akademik, serta dari budaya konsumtif menuju budaya produktif dalam menghasilkan karya-karya ilmiah yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Tidak kalah penting adalah spirit ukhuwah yang lahir dari peristiwa hijrah. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam sebuah ikatan yang melampaui suku, status sosial, bahkan kepentingan ekonomi. Nilai persaudaraan ini menjadi fondasi kokoh bagi terbentuknya masyarakat yang harmonis dan inklusif.
Indonesia yang kaya akan keberagaman membutuhkan semangat serupa. Perbedaan agama, budaya, bahasa, maupun pilihan politik tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Justru keberagaman adalah kekuatan apabila dikelola dengan sikap saling menghormati dan semangat gotong royong. Spirit hijrah mengajarkan bahwa membangun persatuan membutuhkan kerendahan hati untuk berdialog, kemampuan mendengar, dan kesediaan bekerja sama demi kemaslahatan bersama.
Selain itu, hijrah mengandung pesan tentang keberanian menghadapi perubahan. Tidak ada perubahan besar tanpa pengorbanan. Nabi Muhammad SAW meninggalkan kampung halaman yang dicintainya demi mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Dalam kehidupan masa kini, keberanian itu dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas moral dan spiritual.
Tahun Baru Hijriah 1448 H hendaknya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi ucapan selamat di media sosial. Nilai hijrah akan kehilangan maknanya apabila tidak melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Pergantian tahun ini seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri: apakah kita telah menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih disiplin, lebih peduli terhadap sesama, lebih bijak menggunakan teknologi, dan lebih bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.
Pada akhirnya, hijrah adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Ia bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang untuk terus memperbaiki diri. Kalender Hijriah mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata pencapaian materi, melainkan sejauh mana seseorang mampu bertumbuh menjadi manusia yang lebih beriman, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi orang lain.
Di tengah dunia yang berubah begitu cepat, semangat hijrah menjadi kompas moral yang menjaga arah perjalanan umat. Tahun Baru Islam 1448 Hijriah adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen tersebut: berhijrah dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari perpecahan menuju persatuan, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari sekadar menjalani kehidupan menuju menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Semoga setiap langkah hijrah yang kita tempuh menjadi jalan menuju pribadi yang lebih baik dan masyarakat yang lebih berkeadaban.#




