Buka IPCoIS 2026, Rektor UINSI Samarinda Petakan 6 Karakteristik Studi Islam Era Society 5.0

SAMARINDA, UINSI NEWS – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menegaskan kiprahnya di kancah akademik internasional melalui gelaran The 4th International Postgraduate Conference on Islamic Studies (IPCoIS) 2026.

Mengusung tema besar “Islamic in The Society 5.0 Era: Integrating Faith, Technology and Humanity For Sustainable Civilization”, konferensi bergengsi ini dibuka secara resmi oleh Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., dan dihadiri oleh ratusan akademisi dari berbagai belahan dunia secara hibrida.

Dalam laporan pembukanya, Direktur Pascasarjana UINSI Samarinda menyampaikan bahwa agenda tahun ini mendapatkan atensi yang sangat luar biasa dari komunitas ilmiah lintas negara.

Konferensi ini diikuti oleh 202 peserta, dengan rincian 129 peserta hadir secara luring dan 73 peserta secara daring. Selain itu, terdapat 32 presenter yang memaparkan hasil riset mereka (22 luring dan 10 daring). Partisipan tidak hanya berasal dari kalangan universitas dan institut, tetapi juga meluas hingga Sekolah Tinggi, Law Firm hingga Pondok Pesantren.

Momentum ini juga menjadi pembuktian bagi lompatan besar Pascasarjana UINSI Samarinda. Di tengah adaptasi teknologi modern, institusi ini mengumumkan kado istimewa berupa amanah baru dari pemerintah untuk mengelola dua program doktor baru.

“Alhamdulillah, melengkapi Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah eksis, kini Pascasarjana UINSI resmi mengelola Program Doktor Studi Islam dan Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Ketiganya akan saling melengkapi dalam menjawab tantangan era Society 5.0,” ungkap Direktur Pascasarjana.

Ketiga program doktor ini dirancang untuk berkolaborasi secara strategis:

Doktor Studi Islam: Memperkuat fondasi pemikiran keislaman yang responsif terhadap dinamika zaman.

Doktor PAI: Berfokus pada transformasi nilai dan penguatan karakter generasi masa depan.

Doktor MPI: Menyiapkan tata kelola lembaga pendidikan yang profesional, inovatif, dan adaptif teknologi.

Saat membuka acara, Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., menekankan bahwa ruang digital dan modernitas telah mengubah lanskap kajian keagamaan. Studi Islam kini tidak lagi eksklusif berada di ruang-ruang tradisional, melainkan telah bermutasi ke pusat riset modern dan jagat siber.

“Kita harus mampu menangkap karakteristik utama Studi Islam di abad ke-21 dan era Society 5.0 ini agar tetap relevan,” tegas Prof. Zurqoni.

Dalam pidatonya, Rektor memetakan 6 karakteristik utama perkembangan Studi Islam saat ini:

Pendekatan Multidisipliner: Kajian Islam kini melampaui teks klasik (tafsir, hadis, dll) dengan mengintegrasikan ilmu sosiologi, antropologi, politik, ekonomi, hingga teknologi untuk memahami Islam sebagai ajaran sekaligus realitas sosial-budaya.

Digitalisasi Pembelajaran: Aksesibilitas ribuan manuskrip kuno, kitab klasik, dan jurnal internasional dalam ruang digital serta pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang mempermudah riset global.

Dialog Tradisi dan Modernitas: Upaya para akademisi mengontekstualisasikan warisan intelektual Islam untuk menjawab isu kontemporer seperti Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi, ekologi, dan AI.

Globalisasi Studi Islam: Pergeseran pesat pusat studi dari Timur Tengah ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Kehadiran Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menjadi bukti konkret bahwa kajian keislaman di Indonesia sangat diminati dunia.

Perdebatan Metodologi yang Dinamis: Dialektika antara pendekatan tradisional (otoritas ulama/teks klasik) dengan pendekatan akademik kritis (sejarah, filologi, ilmu sosial modern) yang memperkaya khazanah keilmuan.

Isu Identitas dan Media Sosial: Media sosial kini bertransformasi menjadi objek sekaligus sarana studi. Tantangannya adalah menyaring otoritas keagamaan dan fatwa agar terverifikasi dengan baik di tengah pusaran arus politik digital.

Menutup sambutannya, Rektor berharap The 4th International Postgraduate Conference on Islamic Studies ini tidak sekadar menjadi formalitas akademik, melainkan wadah inkubasi lahirnya gagasan-gagasan segar.

Melalui integrasi antara keimanan (faith), teknologi, dan nilai kemanusiaan (humanity), UINSI Samarinda optimis konferensi ini mampu mendorong kolaborasi riset internasional, publikasi ilmiah bermutu, serta kontribusi nyata bagi terciptany Sustainable Civilization (peradaban yang berkelanjutan).

Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»