SAMARINDA, UINSI NEWS,-Pusat Literasi dan Media Digital Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda bekerja sama dengan Pusat Publikasi Ilmiah UINSI Samarinda serta berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darul Falah Pagutan Mataram, Nusa Tenggara Barat dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menggelar kegiatan Bedah Artikel Ilmiah sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta membangun tradisi diskusi kritis di lingkungan perguruan tinggi.
Pada kesempatan tersebut, artikel yang dibedah berjudul “Tuan Guru Leadership in Cultural Transformation of Rebo Bontong” karya Dr. Muhamad Arifin, M.Pd., Wakil Ketua STIS Darul Falah Pagutan Mataram. Kegiatan menghadirkan penulis artikel sebagai narasumber utama, didampingi Dr. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag. sebagai pembahas pertama dan Muhammad Hasan Abdillah, S.Psi., M.Psi. sebagai pembahas kedua.
Artikel yang dipresentasikan mengangkat tema kepemimpinan Tuan Guru sebagai agen transformasi budaya di tengah masyarakat Lombok melalui tradisi Rebo Bontong. Kajian tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan seorang Tuan Guru tidak hanya dimaknai sebagai otoritas keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu mengarahkan perubahan budaya secara harmonis tanpa menghilangkan identitas lokal masyarakat.
Dalam paparannya, Dr. Muhamad Arifin menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kegelisahan akademik mengenai bagaimana tradisi lokal dapat tetap lestari sekaligus selaras dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, pendekatan transformasi budaya yang dilakukan Tuan Guru menjadi model penting dalam membangun masyarakat yang religius tanpa menimbulkan konflik sosial.
“Penelitian ini menganalisis dinamika pendidikan Islam di Lombok melalui kepemimpinan Tuan Guru dalam mentransformasikan budaya Rebo Bontong di Pondok Pesantren Darul Falah Mataram. Fokus utamanya adalah bagaimana Tuan Guru mengarahkan perubahan praktik budaya yang kurang sesuai dengan ajaran Islam menjadi ritual keagamaan yang memperkuat nilai-nilai Tasawuf dan Ahlussunnah wal Jama’ah,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa penelitian tersebut menggunakan tiga landasan teori utama, yakni teori kepemimpinan transformasional Bernard M. Bass, teori perubahan Kurt Lewin, serta teori motivasi Clayton Alderfer. Ketiga teori tersebut digunakan untuk menjelaskan proses perubahan budaya yang berlangsung melalui kepemimpinan religius.
Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen, penelitian menemukan bahwa kepemimpinan Tuan Guru memberikan pengaruh signifikan dalam tiga aspek utama.
Pertama, kepemimpinan karismatik yang mampu membimbing santri dan masyarakat menuju praktik keagamaan yang lebih sesuai dengan ajaran Islam. Kedua, stimulasi intelektual melalui penguatan budaya literasi santri serta pengembangan dakwah bil-kitabah melalui penerbitan Buletin Najmul Huda. Ketiga, pemberian motivasi dan perhatian individual melalui pemberdayaan ekonomi pesantren beserta masyarakat sekitar.
Menurut Dr. Muhamad Arifin, transformasi budaya Rebo Bontong tidak sekadar menghilangkan unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi juga memperkuat identitas religius masyarakat Lombok dengan tetap menghargai akar budaya lokal.
“Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan budaya dan spiritual yang diterapkan Tuan Guru merupakan model reformasi tradisi lokal yang efektif tanpa memunculkan resistensi sosial. Model ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi kepemimpinan Islam sekaligus revitalisasi tradisi keagamaan masyarakat Muslim Nusantara,” ungkapnya.
Pada sesi pembahasan, Dr. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag. memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan dan kualitas akademik artikel yang disusun oleh Dr. Muhamad Arifin. Menurutnya, penelitian tersebut menghadirkan perspektif baru mengenai hubungan antara kepemimpinan Islam, budaya lokal, dan perubahan sosial.
“Artikel ini menunjukkan keberanian intelektual penulis dalam mengangkat tema yang sangat kontekstual. Ide yang ditawarkan sangat kreatif, cerdas, dan memiliki karakter akademik yang kuat. Kajian seperti ini masih sangat terbuka untuk dikembangkan dari berbagai perspektif keilmuan, baik pendidikan Islam, antropologi, sosiologi agama, kepemimpinan, maupun studi budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penelitian tersebut memiliki peluang besar menjadi rujukan bagi para peneliti yang tertarik mengkaji model transformasi budaya berbasis kepemimpinan keagamaan di Indonesia.
Sementara itu, pembahas kedua, Muhammad Hasan Abdillah, S.Psi., M.Psi., mengulas artikel secara komprehensif dari sisi teknik penulisan ilmiah dan sistematika artikel. Menurutnya, struktur artikel telah memenuhi standar publikasi ilmiah yang baik dan layak dipublikasikan pada jurnal bereputasi nasional.
Ia menyoroti beberapa aspek penting mulai dari penyusunan latar belakang, kualitas abstrak, ketepatan metode penelitian, pembahasan hasil penelitian, hingga penyusunan kesimpulan yang saling terintegrasi.
Muhammad Hasan juga menilai artikel tersebut berhasil menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam sebuah penelitian ilmiah, yakni mengapa penelitian ini penting dilakukan, apa tujuan penelitian beserta signifikansinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, serta bagaimana posisi penelitian tersebut dalam perkembangan mutakhir (state of the art) bidang kajian kepemimpinan Islam dan transformasi budaya.
“Artikel ini telah menunjukkan alur argumentasi yang runtut, sistematika yang baik, serta kebaruan penelitian yang jelas. Secara substansi maupun teknis penulisan, artikel ini memang layak dipublikasikan sebagaimana standar jurnal terindeks SINTA 2,” ungkapnya.
Kegiatan bedah artikel berlangsung interaktif dengan diikuti dosen, mahasiswa, peneliti, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi. Diskusi yang berkembang menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam mendalami metode penelitian, konstruksi teori, hingga peluang pengembangan riset lanjutan mengenai kepemimpinan Tuan Guru dalam transformasi budaya masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bersama Pusat Publikasi Ilmiah UINSI berharap tradisi bedah artikel ilmiah dapat terus menjadi ruang akademik yang produktif untuk meningkatkan kualitas riset, memperkuat budaya literasi, serta mendorong lahirnya publikasi ilmiah bereputasi yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.#






