SAMARINDA, UINSINEWS,-Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menjadi ruang penguatan literasi keislaman melalui Kajian Rutin Tafsir Al-Qur’an Tematik Sabtu Ba’da Subuh, Sabtu (19/9/2026).
Memasuki pertemuan ketiga, kegiatan diawali dengan tadarus jama’i hingga khatam 30 juz sebelum dilanjutkan kajian yang menghadirkan Gurutta Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Ag. sebagai pemateri.
Kajian yang terbuka untuk masyarakat umum tersebut juga diwajibkan bagi mahasantri putra dan putri yang tinggal di Asrama Ma’had Al Jami’ah UINSI Samarinda.
Pada pertemuan kali ini, Prof. Muhammad Nasir mengangkat tema “5 Sebutan Manusia dalam Al-Qur’an”. Kajian tersebut mengajak peserta memahami bahwa Al-Qur’an tidak hanya menggunakan satu istilah untuk menyebut manusia. Setiap lafaz memiliki konteks dan penekanan makna yang berbeda dalam menggambarkan dimensi kehidupan manusia.
Dalam kajiannya, Prof. Muhammad Nasir menjelaskan lima istilah utama yang digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan manusia, yakni ‘abdun, al-insan, al-basyar, an-nas, dan bani Adam.
Pertama, ‘abdun (عبد) menggambarkan manusia dari sisi penghambaan kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Menurut penjelasan dalam kajian, istilah ‘abdun berasal dari akar kata ‘abada yang berkaitan dengan ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Konsep ini menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan hamba Allah yang memiliki tanggung jawab utama berupa tauhid dan ibadah.
Kedua, al-insan (الإنسان) menggambarkan manusia dari sisi kelemahan, kelalaian, dan dinamika kehidupannya.
Allah berfirman:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 2)
Istilah al-insan banyak digunakan Al-Qur’an ketika menjelaskan karakter manusia, termasuk kecenderungan untuk lupa, lemah, tergesa-gesa, dan mudah berkeluh kesah. Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk, nasihat, dzikir, serta bimbingan agar kelemahannya tidak membawanya kepada kerugian.
Ketiga, al-basyar (البشر) menunjukkan manusia dari dimensi biologis dan fisiknya.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Istilah al-basyar menegaskan aspek kemanusiaan secara fisik. Manusia membutuhkan makanan, minuman, istirahat, keluarga, dan menjalani berbagai kebutuhan biologis. Dalam konteks kenabian, penyebutan ini juga menegaskan bahwa para nabi merupakan manusia yang dapat diteladani, meskipun memperoleh wahyu dari Allah SWT.
Keempat, an-nas (الناس) menggambarkan manusia sebagai makhluk sosial.
Salah satu seruan Al-Qur’an berbunyi:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu.”
(QS. Al-Baqarah: 21)
Penggunaan istilah an-nas memperlihatkan dimensi kolektif manusia sebagai bagian dari masyarakat. Manusia tidak hidup sendirian, tetapi berada dalam relasi sosial yang melibatkan keluarga, komunitas, kepemimpinan, ekonomi, hingga kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, dimensi an-nas juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial, seperti kepedulian, keadilan, dakwah, dan membangun kehidupan bersama yang baik.
Kelima, bani Adam (بَنِي آدَمَ) menggambarkan manusia dari sisi nasab, martabat, dan kemuliaannya sebagai keturunan Nabi Adam AS.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra’: 70)
Penyebutan bani Adam mengingatkan manusia kepada asal-usulnya sekaligus kemuliaan yang diberikan Allah. Kemuliaan tersebut membawa konsekuensi berupa kewajiban menjaga martabat kemanusiaan, adab, kehormatan, serta tidak mengikuti jalan setan.
Kelima istilah tersebut memberikan perspektif yang saling melengkapi tentang manusia dalam Al-Qur’an. Manusia tidak hanya dipahami sebagai makhluk biologis, tetapi juga sebagai hamba Allah, pribadi yang memiliki kelemahan, makhluk sosial, sekaligus makhluk yang dimuliakan.
Bagi mahasantri Ma’had Al Jami’ah, pemahaman tersebut dapat menjadi refleksi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika menyadari dirinya sebagai ‘abdun, seorang mahasantri diarahkan untuk memperkuat ibadah dan ketundukan kepada Allah. Sebagai al-insan, ia menyadari keterbatasan dan kebutuhan terhadap ilmu serta bimbingan.
Sebagai al-basyar, ia memahami kebutuhan dan keterbatasan fisiknya. Sebagai an-nas, ia dituntut membangun hubungan sosial yang baik. Sementara sebagai bani Adam, ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga martabat, adab, dan kemuliaan manusia.
Dengan demikian, kajian tafsir tematik tersebut tidak berhenti pada pemahaman terminologi Al-Qur’an, tetapi diarahkan menjadi refleksi pembentukan karakter dan kepribadian mahasantri.
Kajian rutin Sabtu Ba’da Subuh ini menjadi salah satu ikhtiar UINSI Samarinda dalam membangun tradisi membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an secara lebih mendalam di lingkungan kampus dan masyarakat.#






