“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang hidup yang menumbuhkan nilai toleransi, dialog, dan harmoni sosial,” ujarnya.Beliau menilai, salah satu tantangan pendidikan Islam saat ini adalah kecenderungan pembelajaran yang masih bersifat tekstual dan belum sepenuhnya menyentuh realitas sosial. Kondisi ini berpotensi melahirkan cara pandang keagamaan yang sempit dan kurang adaptif terhadap keberagaman.Sebagai solusi, Prof. Khojir menawarkan model pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai agama diintegrasikan dengan budaya lokal, tradisi, dan praktik sosial masyarakat, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan membumi.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mampu meningkatkan pemahaman dan sikap toleransi santri secara signifikan. Tidak hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dalam hal keterbukaan, penerimaan, dan partisipasi dalam kehidupan sosial yang beragam.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi agen perdamaian, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat, termasuk dengan hadirnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang akan membawa arus mobilitas dan keberagaman yang semakin tinggi.
“Pesantren harus mampu menjembatani antara agama, tradisi, dan modernitas. Dengan begitu, santri tidak hanya religius, tetapi juga toleran dan adaptif terhadap perubahan zaman,” tegasnya.
Beliau juga menekankan pentingnya penguatan kurikulum yang berbasis kearifan lokal, peningkatan kompetensi pedagogi para pendidik, serta kolaborasi dengan tokoh budaya dan masyarakat sebagai langkah strategis ke depan.
Pengukuhan Prof. Dr. Khojir, M.S.I. sebagai Guru Besar tidak hanya menjadi capaian akademik personal, tetapi juga menghadirkan gagasan penting bagi masyarakat luas. Di tengah kekhawatiran akan menguatnya intoleransi dan lunturnya nilai budaya, pesantren justru ditawarkan sebagai solusi pendidikan yang mampu merawat keberagaman sekaligus memperkuat identitas.
Dengan pendekatan yang inklusif dan kontekstual, pesantren diharapkan dapat terus melahirkan generasi yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan budaya yang tinggi dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan.
“Integrasi budaya dan agama menumbuhkan karakter toleran pada santri tanpa kehilangan identitas, kreatif tanpa meninggalkan tradisi, dan adaptif di era modern. Ini bukan sekadar teori, tetapi panggilan nyata,” ucap Prof. Khojir dalam pidatonya.
Prof. Khojir menegaskan, pesantren harus menjadi benteng tradisi sekaligus laboratorium inovasi budaya, yang mampu mencetak generasi Islam yang inklusif, cerdas, dan berwawasan global.
Sebagai dosen di UINSI Samarinda, perguruan tinggi keagamaan Islam yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi madrasah dan pesantren, gagasan tersebut menjadi cerminan arah pengembangan keilmuan yang tidak terlepas dari akar sosial-keagamaan masyarakat. Pemikiran Prof. Khojir sekaligus mempertegas peran UINSI dalam menjembatani dunia akademik dengan praktik pendidikan Islam berbasis pesantren dan madrasah yang moderat.
Penulis: Nisa Rahmawati





