SAMARINDA, UINSI NEWS,-Semangat kewirausahaan dalam Webinar Nasional bertema “Literasi Kewirausahaan Guru: Membangun Mindset Produktif, Aset Berkelanjutan, dan Kebermanfaatan” yang digelar Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bersama mahasiswa Pascasarjana PAI 1 semakin terasa ketika Humaidi menyampaikan materi tentang pentingnya mindset dalam membangun usaha.
Pengusaha muda kelahiran Kota Bangun tahun 1995 itu tampil lugas dan inspiratif di hadapan peserta webinar yang berasal dari kalangan guru, mahasiswa, dan pemuda penggerak kewirausahaan dari berbagai daerah.
Menurut Humaidi, jalan menuju kesuksesan usaha tidak pertama-tama dimulai dari modal besar, melainkan dari pola pikir atau mindset seseorang.
“Jalan sukses dimulai dari mindset. Kalau pola pikir kita sudah benar, maka langkah berikutnya tinggal action dan bergerak,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, ia memperkenalkan konsep sederhana yang ia bangun dalam perjalanan bisnisnya, yakni sinergi–berkah–sukses. Melalui konsep tersebut, ia berhasil mengembangkan usaha food and beverage berbasis crowdfunding yang kini telah memiliki lebih dari 50 outlet yang tersebar di Samarinda sejak dirintis pada tahun 2022.
Bagi Humaidi, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan kemampuan menjual produk, tetapi juga kesadaran diri (self awareness) dan keberanian mengambil peluang.
Ia menjelaskan bahwa langkah pertama menjadi pengusaha adalah mengenali diri sendiri: memahami proses, risiko, hingga menghitung siapa yang akan membayar produk atau jasa yang ditawarkan.
“Self aware itu sadar diri. Paham proses, paham risiko, dan tahu siapa market kita,” katanya.
Setelah itu, menurutnya, seseorang harus membangun mindset yang benar. Ia menyebut ada beberapa pola pikir penting yang wajib dimiliki calon pengusaha: optimis, berani, percaya diri, mampu memberi nilai, dan memiliki semangat berbagi.
Dalam penjelasannya, Humaidi menyampaikan bahwa masalah sesungguhnya adalah peluang.
“Masalah itu peluang. Usaha adalah cara memberi solusi. Sedangkan kegagalan hanyalah bahan evaluasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa banyak orang gagal memulai usaha bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu lama berpikir tanpa berani bergerak. Karena itu, ia mendorong peserta untuk mulai melatih keberanian mengambil langkah kecil.
Menurutnya, membangun usaha bisa dimulai dari hal sederhana: melihat peluang sekitar, memberi solusi, berani memulai, memperkuat kepercayaan, hingga meningkatkan nilai diri.
Tidak hanya berbicara teori, Humaidi juga membagikan pendekatan praktis dalam membangun usaha. Ia menilai bahwa kewirausahaan harus realistis dan dijalankan dengan aksi nyata.
“Knowledge membuat kita dari tidak tahu menjadi tahu. Skill membuat kita dari tidak bisa menjadi bisa,” tuturnya.
Selain pengetahuan dan keterampilan, ia juga menekankan pentingnya networking atau jejaring sosial sebagai “rahasia silaturahmi” dalam dunia usaha. Menurutnya, relasi yang baik sering kali membuka peluang yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Di era digital, kata dia, personal branding juga menjadi bagian penting dalam membangun bisnis. Personal branding dapat dibangun melalui karya, cerita, maupun konten yang dibagikan secara konsisten.
“Bangun personal branding lewat karya, cerita, dan konten,” katanya.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Humaidi menyampaikan kalimat sederhana namun kuat: “Action-nya jualan aja.”
Ia mengatakan banyak orang terlalu sibuk mempersiapkan diri hingga lupa memulai. Padahal, pengalaman lapangan justru menjadi guru terbaik dalam belajar usaha.
“Jangan terlalu banyak teori tanpa praktik. Jualan aja dulu,” ujarnya disambut antusias peserta webinar.
Dalam suasana yang hangat dan penuh motivasi, Humaidi juga membagikan prinsip spiritual yang ia pegang dalam membangun usaha. Ia menyebut bahwa dalam bisnis manusia hanya mencari mitra sebanyak mungkin, tetapi tetap harus meyakini bahwa pertolongan utama datang dari Allah SWT.
“9 orang mitra, satunya Allah SWT,” katanya.
Sebagai bentuk tantangan nyata kepada peserta, ia memberikan challenge sederhana selama tujuh hari. Peserta diminta menuliskan potensi diri, menganalisis masalah di sekitar, membuat satu ide usaha, menawarkan kepada sepuluh orang, lalu mencatat respons dan hasil penjualannya.
Menurutnya, langkah kecil seperti itu penting untuk melatih keberanian dan membangun mental bertumbuh.
Di akhir sesi, Humaidi memberikan pesan yang mengundang senyum peserta sekaligus refleksi mendalam bagi generasi muda yang ingin memulai usaha.
“Jangan dulu resign. Jualan aja dulu,” ucapnya.
Pernyataan itu seolah menjadi penegasan bahwa kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kadang, keberanian memulai dari hal kecil justru menjadi awal lahirnya peluang besar di masa depan.#






