SAMARINDA, UINSI NEWS,-Semangat membangun budaya produktif dalam dunia pendidikan kembali mengemuka dalam Webinar Nasional “Literasi Kewirausahaan Guru: Membangun Mindset Produktif, Aset Berkelanjutan, dan Kebermanfaatan” yang diselenggarakan Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bersama mahasiswa Pascasarjana PAI 1.
Pada sesi kedua webinar, Dr. Tikawati, S.E., M.Si. Dosen UINSI Samarinda & Praktisi Kewirausahaan UMKM membawakan materi bertajuk “Literasi Kewirausahaan untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan”. Dalam pemaparannya, ia mengajak para guru dan tenaga kependidikan untuk mulai membuka wawasan, membangun mindset produktif, serta menumbuhkan keberanian memulai usaha yang bernilai.
Menurut Tikawati, sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan sejatinya merupakan pusat perubahan budaya. Karena itu, pendidik tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga perlu menjadi penggerak ekosistem produktif di lingkungan pendidikan.
“Literasi kewirausahaan penting bagi pendidik karena lembaga pendidikan adalah pusat perubahan budaya. Dari sanalah lahir pola pikir, karakter, dan cara pandang generasi masa depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa literasi kewirausahaan bukan sekadar kemampuan berdagang atau mencari keuntungan. Lebih dari itu, literasi kewirausahaan adalah kemampuan memahami, menilai, dan mempraktikkan proses menciptakan nilai.
Menurutnya, seseorang yang memiliki literasi kewirausahaan mampu mengenali masalah dan peluang, mengembangkan ide menjadi solusi, mengelola risiko dan sumber daya, menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan spiritual, serta belajar dari pasar, kegagalan, dan umpan balik.
“Kata kuncinya adalah nilai, bukan hanya laba. Laba memang penting, tetapi usaha yang sehat dimulai dari manfaat yang jelas untuk orang lain,” katanya.
Dalam suasana webinar yang berlangsung interaktif, Tikawati juga menekankan pentingnya perubahan mindset di kalangan pendidik. Ia mengajak peserta untuk bergerak dari pola pikir “pegawai tugas” menjadi “pencipta nilai”.
Menurutnya, menjadi wirausaha bukan berarti meninggalkan profesi pendidikan, tetapi memperluas dampak profesi tersebut bagi masyarakat.
“Mindset wirausaha adalah mencari cara memberi nilai, mengambil inisiatif dari hal kecil, belajar dari percobaan, dan mulai dari aset yang sudah ada,” jelasnya.
Ia kemudian menjabarkan lima karakter penting dalam membangun jiwa kewirausahaan. Pertama, kepekaan dalam melihat masalah kecil yang sering diabaikan. Kedua, kreativitas untuk menggabungkan pengetahuan menjadi solusi baru. Ketiga, keberanian memulai meski belum sempurna. Keempat, ketahanan untuk bangkit dari kegagalan dan kritik. Dan kelima, kemampuan berkolaborasi agar dapat tumbuh bersama jejaring.
“Mindset tidak cukup dihafal. Ia harus dilatih melalui kebiasaan,” tuturnya.
Tikawati menilai, banyak orang sebenarnya memiliki ide, tetapi gagal melangkah karena terlalu lama menunggu sempurna. Padahal, menurutnya, masa depan tidak pernah menunggu kesiapan manusia secara utuh.
Karena itu, ia menyampaikan empat alasan mengapa pendidik perlu mulai membangun usaha atau karya produktif sejak sekarang: menambah kemandirian ekonomi keluarga, membuka ruang kontribusi sosial, menjadi teladan belajar sepanjang hayat, serta menciptakan ekosistem produktif di lembaga pendidikan.
“Mulai bukan karena sudah berani. Berani tumbuh karena mulai,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Tikawati juga mengutip pemikiran tokoh manajemen dunia Peter Drucker yang menyebut bahwa inovasi adalah alat khas wirausaha untuk mengubah perubahan menjadi peluang.
Prinsip tersebut, menurutnya, sangat relevan diterapkan oleh pendidik di era perubahan cepat saat ini. Guru dan tenaga kependidikan harus mulai melihat perubahan sebagai kesempatan menghadirkan solusi baru, bukan ancaman.
Sebagai praktisi kewirausahaan, Tikawati juga membagikan pola yang sering ditemukan dari para pelaku usaha yang berhasil. Menurutnya, kebanyakan usaha tidak langsung tumbuh besar, tetapi berkembang melalui proses yang konsisten.
“Pola yang sering muncul adalah peka pada masalah, mulai kecil, mendengar pasar, merapikan sistem, lalu perlahan menskalakan dampak,” katanya.
Ia juga menyoroti hambatan mindset yang paling sering dialami seseorang ketika ingin memulai usaha. Hambatan terbesar, kata dia, sering kali bukan berasal dari luar, tetapi dari cara seseorang menafsirkan situasi.
“Takut gagal, merasa tidak punya modal, takut dianggap jualan, dan merasa tidak punya waktu—itu hambatan yang paling sering muncul,” ujarnya.
Untuk membantu peserta melihat peluang yang dekat dengan dunia pendidikan, Tikawati memberikan sejumlah contoh ide usaha sederhana namun relevan. Di antaranya kelas keterampilan digital untuk UMKM sekitar lembaga, produk kantin sehat dan halal berbasis siswa atau alumni, jasa desain dan konten edukatif, koperasi mini berbasis syariah, hingga pelatihan sertifikasi halal dan pendampingan usaha mikro.
“Ide terbaik sering lahir dari lingkungan yang kita pahami,” katanya.
Ia menekankan pentingnya memilih usaha yang sesuai dengan kompetensi, nilai, dan lingkungan masing-masing. Menurutnya, usaha yang dibangun dari kedekatan pengalaman biasanya lebih mudah berkembang karena memahami kebutuhan pasar secara nyata.
Dalam sesi simulasi interaktif, Tikawati mengajak peserta mengubah wawasan menjadi tindakan nyata. Peserta diminta mulai mengidentifikasi masalah di lingkungan kerja, melihat siapa yang merasakan masalah tersebut, lalu merancang solusi kecil yang bisa diuji dalam waktu dekat.
“Observasi masalah, wawancarai calon pengguna, buat solusi awal sederhana, lalu uji ke sepuluh orang dan dengarkan umpan balik mereka,” jelasnya.
Di akhir pemaparan, Tikawati kembali menegaskan bahwa peran pendidik hari ini tidak lagi sekadar menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi penggerak ekosistem produktif di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, guru dapat memulai dari langkah sederhana: menjadi teladan keberanian belajar, mengintegrasikan proyek usaha kecil dalam pembelajaran, menghubungkan siswa dan UMKM lokal, hingga menanamkan etika usaha yang jujur, halal, amanah, dan bermanfaat.
“Ketika pendidik bergerak, ekosistem ikut belajar bergerak,” ujarnya.
Ia kemudian menutup materinya dengan kalimat reflektif yang mendapat perhatian peserta webinar.
“Kita tidak harus menjadi besar untuk memulai. Tetapi kita harus memulai agar punya peluang menjadi besar.”
Bagi Tikawati, perubahan besar selalu lahir dari langkah kecil yang berani dimulai. Satu masalah, satu solusi, dan satu orang yang terbantu dapat menjadi awal tumbuhnya kepercayaan dan kebermanfaatan yang lebih luas.
“Saya siap mulai dari langkah kecil,” pungkasnya.#






