Smart Ummah Dimulai dari Iqra’, Dr. Muhammad Arifin Ajak Generasi Muda Perkuat Ilmu dan Akhlak di Era Digital

SAMARINDA, UINSI NEWS,- Gelombang arus informasi digital yang semakin cepat dinilai menuntut umat Islam untuk tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu, akhlak, dan kemampuan literasi keagamaan yang kuat.

Pesan itu disampaikan Dr. Muhammad Arifin saat menjadi narasumber dalam Webinar Nasional bertema “Menjadi Smart Ummah: Penguatan Literasi Keagamaan sebagai Pilar Moderasi Beragama di Era Digital” yang digelar Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bersama STIS Darul Falah Pagutan, Mataram, NTB dan mahasiswa PAI 4, Rabu (13/5/2026).

Dalam pemaparannya, Muhammad Arifin menegaskan bahwa fondasi utama peradaban Islam sesungguhnya dimulai dari tradisi literasi. Ia mengawali materi dengan mengutip wahyu pertama dalam Al-Qur’an, yakni Surah Al-‘Alaq ayat 1:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar perintah membaca, melainkan fondasi utama literasi Islam yang membentuk peradaban ilmu pengetahuan.

“Umat Islam hari ini dituntut menjadi smart ummah, yaitu umat yang cerdas secara spiritual, intelektual, dan digital sekaligus,” ujarnya.

Ia memaparkan, tantangan itu semakin nyata di tengah meningkatnya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 telah mencapai lebih dari 229 juta orang. Sementara itu, sekitar 61 persen umat Islam mengakses informasi keagamaan melalui telepon genggam.

Di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang paling rentan terhadap penyebaran hoaks dan disinformasi keagamaan.

Karena itu, menurut Arifin, literasi keagamaan yang kuat menjadi kunci penting dalam membangun moderasi beragama di era digital.

Ia menjelaskan bahwa revolusi industri 4.0 dan 5.0 telah melahirkan bentuk literasi baru, termasuk literasi data, yakni kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi secara tepat di tengah banjir data digital.

“Jangan sampai umat hanya menjadi konsumen informasi tanpa kemampuan menyaring dan memverifikasi kebenaran,” katanya.

Dalam materinya, Arifin juga mengaitkan konsep moderasi beragama dengan kisah penciptaan Nabi Adam AS sebagai khalifah di bumi sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Ia menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari berbagai unsur tanah yang berbeda sebagai simbol keragaman umat manusia. Karena itu, Islam sejatinya hadir untuk membangun harmoni, toleransi, dan kehidupan yang damai.

Menurutnya, moderasi beragama tercermin melalui komitmen kebangsaan, toleransi, sikap anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai Islam.

Dalam pemaparannya, ia juga mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun kehidupan sosial yang harmonis melalui pendekatan toleran dan penuh kebijaksanaan.

“Nabi hijrah karena ingin membangun negara dan peradaban. Dakwah Nabi juga berbasis tradisi dan kemanusiaan,” ujarnya.

Arifin mengingatkan bahaya penggunaan agama untuk membenarkan tindakan kekerasan. Ia menyinggung kisah Ibnu Muljam sebagai pelajaran bahwa fanatisme tanpa ilmu dapat melahirkan tindakan destruktif yang mencederai nilai agama itu sendiri.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun tradisi intelektual di kalangan umat Islam melalui riset, pengembangan keilmuan, dan karya ilmiah.

Menurutnya, generasi muda muslim perlu aktif menghadirkan konten positif, menyebarkan ilmu pengetahuan, serta membangun budaya “saring sebelum sharing” di media sosial.

“Kita harus menyemai kebenaran ilmu di ruang digital, bukan memperkeruh suasana dengan provokasi dan kebencian,” katanya.

Ia juga mendorong generasi muda untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat, baik melalui buku, jurnal ilmiah, maupun konten edukatif digital.

Pada sesi diskusi, salah seorang peserta menanyakan tips membangun smart ummah di era digital saat ini.

Menanggapi hal itu, Muhammad Arifin menekankan pentingnya penguatan ilmu dan akhlak sejak dini.

“Tanamkan agama dan kuatkan iman anak sejak kecil agar mereka mampu memilih secara alami mana yang positif dan negatif,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan orang tua terhadap penggunaan gawai di kalangan anak dan remaja. Menurutnya, teknologi dapat menjadi sarana kebaikan apabila digunakan dengan pengawasan dan nilai yang tepat.

Webinar tersebut menjadi ruang refleksi bahwa tantangan era digital tidak cukup dijawab dengan kemampuan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kedewasaan spiritual, keluasan ilmu, dan penguatan karakter.

Melalui kegiatan itu, Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda berharap lahir generasi muslim yang mampu menghadirkan wajah Islam yang damai, moderat, dan berkeadaban di tengah derasnya arus informasi digital.#

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»