SAMARINDA, UINSI NEWS,-UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda melalui Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bekerja sama dengan mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) sukses menyelenggarakan webinar bertema “Membangun Karakter Remaja yang Bijak Bermedia Sosial melalui Nilai Moderasi Beragama.” Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi atas tantangan generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital.
Webinar pada Sabtu pagi (23/05/2026) menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan mahasiswa, yakni Dr. Wahdatun Nisa, M.A Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) serta Himawan Aditya Ktua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSI Samarinda. Sementara itu, opening speech disampaikan oleh Kepala Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda, Dr. Badrut Tamam,M.Pd.
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa media sosial saat ini telah berubah menjadi ruang hidup baru bagi generasi muda.
“Remaja hari ini tumbuh dalam dunia digital yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa batas, opini menyebar dalam hitungan detik, dan pengaruh media sosial mampu membentuk cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara memandang kehidupan dan agama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja Indonesia merupakan kelompok pengguna media sosial paling aktif. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), kata dia, memperlihatkan tingginya penetrasi internet pada kelompok usia muda, dengan intensitas penggunaan media sosial yang berlangsung hampir setiap hari.
Selain itu, laporan Digital Report Indonesia juga menunjukkan bahwa platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan WhatsApp telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. Fenomena tersebut, menurutnya, membawa dua sisi sekaligus.
“Media sosial membuka peluang besar bagi kreativitas, pendidikan, dakwah, literasi, dan pengembangan diri. Namun di sisi lain, kita juga menghadapi meningkatnya hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, intoleransi, hingga konten ekstrem yang mudah dikonsumsi remaja tanpa filter memadai,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Dr. Badrut Tamam juga menyoroti kecenderungan sebagian remaja menerima informasi keagamaan langsung dari media sosial tanpa proses klarifikasi atau tabayyun. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu sikap mudah menghakimi dan memperbesar polarisasi di ruang digital.
Menurutnya, moderasi beragama menjadi salah satu solusi penting dalam membangun karakter generasi muda di era digital. Moderasi beragama, lanjutnya, bukan berarti melemahkan keyakinan, melainkan menanamkan nilai keseimbangan, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sosial maupun ruang maya.
Dalam pemaparannya, ia juga mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang pentingnya tabayyun atau verifikasi informasi sebelum menyebarkannya kepada orang lain. Ayat tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi media sosial saat ini yang sarat dengan arus informasi cepat dan tidak selalu terverifikasi.
Selain itu, ia turut mengingatkan hadis Rasulullah Saw.:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menurutnya, hadis tersebut menjadi fondasi penting etika komunikasi digital bagi generasi muda, terutama sebelum mengunggah, berkomentar, atau menyebarkan informasi di media sosial.
Webinar berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta mahasiswa dan masyarakat umum. Diskusi yang berkembang tidak hanya membahas literasi digital, tetapi juga pentingnya penguatan akhlak, etika komunikasi, serta tanggung jawab moral generasi muda dalam menjaga ruang digital yang sehat dan damai.
Melalui kegiatan ini, Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga memiliki kedewasaan emosional, spiritualitas yang kuat, dan kemampuan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di media sosial.
“Kita ingin melahirkan generasi yang mampu menjadikan media sosial sebagai sarana menebar ilmu, inspirasi, dan nilai kemanusiaan, bukan ruang penyebaran kebencian dan permusuhan,” tutup Dr. Badrut Tamam.#





